
Siapa Syekh Nuruddin Ar-Raniry?
Syekh Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniry adalah salah satu ulama paling berpengaruh di Nusantara pada abad ke-17. Ia lahir di Ranir (Rander), Gujarat, India, dan kemudian menjadi tokoh sentral di Kesultanan Aceh Darussalam.
Namanya melekat kuat dalam sejarah Islam Melayu karena tiga peran besar: sebagai Mufti Besar Kesultanan Aceh, sebagai pemikir teologi Islam, dan sebagai sejarawan pengarang Bustan as-Salatin — karya historiografi Melayu yang sangat penting.
Perjalanan ke Aceh: Dari Gujarat ke Pusat Peradaban Islam Nusantara
Pada tahun 1637, Syekh Nuruddin tiba di Aceh. Kedatangannya disambut baik oleh Sultan Iskandar Tani (1636–1641), yang saat itu sedang mencari ulama berkaliber tinggi untuk mengisi kekosongan jabatan setelah wafatnya Syekh Syamsuddin as-Sumatrani.
Berkat keluasan ilmunya, Sultan Iskandar Tani langsung mempercayakan kepadanya tiga jabatan sekaligus:
Kadi Malik al-Adil (hakim agung kerajaan)
Mufti Besar Kesultanan Aceh
Syekh (pemimpin) di Masjid Bait al-Rahman
Selama tujuh tahun di Aceh, ia menghasilkan puluhan karya tulis dan mewarnai kehidupan intelektual kerajaan secara signifikan.
Kontroversi Besar: Melawan Aliran Wujudiyah
Salah satu babak paling dramatis dalam hidup Syekh Nuruddin adalah pertentangannya dengan aliran wujudiyah — ajaran mistik yang disebarluaskan oleh dua ulama besar sebelumnya: Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.
Apa itu Wujudiyah?
Aliran wujudiyah mengajarkan konsep bahwa wujud Tuhan dan wujud alam semesta bersatu (monisme). Dalam pandangan Syekh Nuruddin, ajaran ini menyesatkan karena dianggap:
Menghapus batas antara Tuhan dan makhluk
Mengarah pada paham panteisme yang bertentangan dengan akidah Islam
Membenarkan seseorang “menganggap dirinya setara dengan Allah”
Tindakan Keras dan Pembakaran Buku
Dengan dukungan penuh Sultan Iskandar Tani, Syekh Nuruddin — dibantu oleh Abdul Rauf Singkel — menggerakkan gerakan pemberantasan aliran wujudiyah secara masif:
Karya-karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani dibakar
Para penganut wujudiyah dituduh murtad dan dikejar-kejar
Beberapa penganutnya dituduh bersekongkol melawan istri Sultan, Ratu Safiatun Johan Berdaulat
Kekalahan Politik dan Kepulangan Mendadak
Nasib Syekh Nuruddin berbalik setelah Sultan Iskandar Tani wafat dan digantikan istrinya, Sultanah Safiatuddin Johan Berdaulat (1641–1675). Seorang tokoh bernama Saif ar-Rijl dari Minangkabau bangkit dan mendapat dukungan luas masyarakat Aceh yang merasa tidak nyaman dengan dominasi ulama asing di istana.
Setelah polemik panjang sekitar satu bulan, Syekh Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh dengan tergesa-gesa, bahkan tidak sempat menyelesaikan karyanya Jawahir al-‘Ulum fi Kasyfi al-Ma’lum.
Pemikiran Teologi: Antara Syariat dan Tasawuf
Secara teologis, Syekh Nuruddin dikenal sebagai ulama ortodoks yang bersemangat memurnikan ajaran Islam. Pendekatannya dekat dengan aliran wahdat asy-syuhud yang dikembangkan oleh sufi India terkemuka, Ahmad Sirhindi (1593–1624).
Pokok-Pokok Pemikirannya
1. Tuhan dan Alam Adalah Dua Realitas Berbeda
Menurut Syekh Nuruddin, wujud Tuhan adalah wujud yang hakiki dan mutlak, sedangkan alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Membandingkan atau menyamakan keduanya adalah tindakan yang murtad.
2. Sifat-Sifat Allah
Ia merumuskan sifat-sifat Ilahi secara sistematis:
Sifat Nafsiyah: Wujud (Ada)
Sifat Salbiyah: Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafah lil-hawadits (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu bi-nafsih (Berdiri sendiri), Wahdaniyah (Tunggal)
Sifat Ma’ani: Al-Hayat (Hidup), Al-Ilmu (Mengetahui), Al-Qudrah (Kuasa), Al-Iradah (Berkehendak), Al-Sama’ (Mendengar), Al-Bashar (Melihat), Al-Kalam (Berbicara)
Sifat Ma’nawiyah: Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), dan seterusnya
3. Kritik terhadap Ajaran Sesat
Dalam karyanya Hujjat al-Siddiq li Daf az-Zindiq, ia berargumen bahwa ajaran wujudiyah memiliki kemiripan berbahaya dengan Zoroasterisme, Vedanta Hindu, Buddhisme Tibet, bahkan aliran Mu’tazilah — semuanya bertentangan dengan Islam yang benar.
Syekh Nuruddin sebagai Sejarawan: Bustan as-Salatin
Di luar kontroversi teologinya, Syekh Nuruddin meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga dalam bidang sejarah: Bustan as-Salatin (Taman Para Sultan).
Tentang Bustan as-Salatin
Aspek Keterangan
Tahun penulisan : 1638–1641
Jumlah bagian : 7 bagian, 40 bab
Bahasa : Melayu Klasik
Diperintahkan oleh : Sultan Iskandar Tani
Genre :Historiografi ensiklopedis
Isi Tujuh Bagian Bustan as-Salatin
Bagian 1 — Kosmologi: penciptaan bumi, tujuh langit, Nur Muhammad, dan Arasy Tuhan
Bagian 2 — Sejarah para nabi dan raja; termasuk Semenanjung Melayu dan Sumatra; penobatan Sultan Iskandar Tani
Bagian 3 — Kisah raja-raja yang adil dan wazir yang bijaksana
Bagian 4 — Raja-raja Muslim yang saleh dan pahlawan Islam
Bagian 5 — Raja-raja yang zalim dan pembangkang yang celaka
Bagian 6 — Orang-orang mulia, rendah hati, dan pendekar pemberani
Bagian 7 — Tema beragam: kebijaksanaan, wanita, cerita-cerita ganjil
Keistimewaan Bustan as-Salatin
Berbeda dari kitab sejarah Melayu lainnya, Bustan as-Salatin tidak memasukkan mitos dan legenda sebagai fakta sejarah. Ini menjadikannya lebih kritis dan historis dibanding karya sejenis pada masanya.
Karya ini menggabungkan dua genre besar:
“Sejarah universal” — dari penciptaan hingga zaman kontemporer penulisnya“Cermin didaktis” — panduan etika bagi raja dan pembesar kerajaan
Melalui Bustan as-Salatin, Syekh Nuruddin secara efektif menegaskan posisi dunia Melayu dalam sejarah peradaban Islam dunia — sebuah proyek intelektual yang ambisius dan berhasil.
Guru dan Murid: Rantai Keilmuan Syekh Nuruddin
Gurunya
Syeikh Said Abu Hafs Umar bin Abdullah Ba Syaiban dari Tarim — dalam sanad Darusiyyah dan Qadiriyyah Maqassari
Muridnya
Syeikh Yusuf Tajul Khalwati al-Maqasari — ulama besar dari Makassar yang kemudian dikenal luas di Nusantara dan Afrika Selatan
Daftar Karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry
Sepanjang hidupnya, Syekh Nuruddin menulis sekitar 30 karya tulis dalam berbagai bidang ilmu:
Karya Utama
- Al-Shirath al-Mustaqim (1634) — fikih Islam
- Durrat al-Faraid bi Syarh al-‘Aqaid an-Nasafiyah (1635) — teologi
- Hidayat al-Habib fi al-Targhib wa’l-Tarhib (1635) — hadis dan motivasi
- Bustanus al-Shalathin (1638) — sejarah ensiklopedis
- Hujjat al-Shiddiq li Daf’i al-Zindiq — bantahan terhadap wujudiyah
- Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan — perbandingan agama
- Asrar al-Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman — tasawuf
- Jawahir al-‘Ulum fi Kasyfi al-Ma’lum — epistemologi Islam
- Syifa’u al-Qulub — pengobatan hati
- Hill al-Zhill — bantahan terhadap panteisme
- Akhbar al-Akhirah fi Ahwal al-Qiyamah — eskatologi Islam
- Rahiq al-Muhammadiyyah fi Thariq al-Shufiyyah — tasawuf
Warisan dan Pengaruh
Syekh Nuruddin Ar-Raniry meninggalkan warisan yang kompleks dan berlapis:
✅ Sebagai teolog — ia memperkuat fondasi akidah Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara dan melawan penyimpangan yang dianggapnya berbahaya.
✅ Sebagai sejarawan — Bustan as-Salatin menjadi dokumen historiografi paling penting tentang Kesultanan Aceh dan Melayu abad ke-17.
✅ Sebagai birokrat keagamaan — jabatannya sebagai Mufti Besar menunjukkan bahwa ulama memiliki peran sentral dalam pemerintahan Aceh.
⚠️ Sebagai polemikus — tindakan pembakaran karya Hamzah Fansuri hingga kini masih diperdebatkan; banyak sarjana modern menilai bahwa ia kurang memahami terminologi tasawuf yang digunakan lawannya.
Meski pengaruhnya sempat tergusur semasa hidupnya, gagasan-gagasannya tentang kemurnian akidah Islam tetap hidup dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara.






