ULAMA ACEH

Tgk Amir Husin Al Mujahid ; Pejuang Kemerdekaan Dari Aceh

Profil Ulama | Tgk Amir Husin Al Mujahid ; Pejuang Kemerdekaan Dari Aceh

Tgk Amir Husin Al Mujahid
Tgk Amir Husin Al Mujahid

Tgk. Amir Husein Almudjahid adalah figur sentral dalam sejarah Aceh modern, seorang ulama yang tidak hanya berjuang melalui pendidikan, tetapi juga memimpin perlawanan bersenjata dan diplomasi ekonomi. Julukan Almudjahid (pejuang) sangat pantas disandangnya karena dedikasinya yang totalitas dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Riwayat Awal dan Pendidikan

Kelahiran dan Latar Keluarga

Tgk. Amir Husein Almudjahid lahir pada tahun 1311 H bulan Muharram, bertepatan dengan tahun 1900 M. Beliau dilahirkan di Desa Blang Siguci, Idi Rayeuk, Aceh Timur.

  • Ayah: Amir Suleiman (wafat saat beliau berusia dua tahun).
  • Ibu: Cut Manyak binti Muhammad Yusuf bin Syekh Yakub bin Syekh Abdussalam.

Setelah sang ayah wafat, ibunda beliau, Cut Manyak, membesarkan Amir Husein dan saudara perempuannya, Cut Fatimah, seorang diri. Cut Manyak berperan ganda sebagai “ayah ngen mak,” sambil memperkenalkan Al-Qur’an dan dasar-dasar Islam kepada Amir Husein, termasuk mengajarkan Juz Amma dan tertib pelaksanaan salat.

Jejak Pendidikan yang Nomaden

Pada usia 7 tahun, Amir Husein memulai pendidikan formalnya di Volkschool Blang Guci dan dilanjutkan ke Dayah Pulo Blang Idi yang didirikan oleh Teungku Chik Muhammad Idris Ahmad Tanjongan Al-Rumi (Fauzi, 2016:09).

Amir Husein dikenal memiliki kecerdasan dan sifat tidak betah diam pada satu tempat saja (mobiler), yang membuatnya sering berpindah-pindah tempat dalam menuntut ilmu (Hasjmy, 1997:135). Sumber lain (wawancara dengan anak laki-laki tertua beliau pada 21 Desember 2017) menyebutkan bahwa perpindahan ini didasari oleh perbedaan pemikiran/pendirian beliau terhadap lembaga pendidikan tersebut.

Beberapa lembaga pendidikan yang pernah menjadi tempat beliau menimba ilmu antara lain:

  • Dayah Cot Meurak, Bireun.
  • Dayah Blang Kabo, Geudong.
  • Dayah Blang Jruen.
  • Dayah Hasbiyah Indrapuri, Aceh Besar.
  • Dayah Kruengkale: Beliau berguru selama 20 tahun pada ulama besar dan kharismatik, yaitu Teungku Haji Muhammad Hasan Kruengkale.
  • Madrasah Maslurah, Tanjung Pura, Langkat (sekembalinya dari perantauan).

Kisah Jenaka dan Cerdas Mencari Dana

Selama belajar di Dayah Hasbiyah Indrapuri, Tgk. Amir Husein menunjukkan kecerdikan yang unik.

  • Mencari Tumpangan: Diceritakan oleh putranya, H. T. Zubair Almujahid, suatu ketika Amir Husein ingin pulang kampung ke Idi Rayeuk namun terkendala biaya. Dengan naluri cerdiknya, ia menganjurkan sahabatnya, Usman Bakar Perlak, untuk tidur terlentang di ruas jalan. Tanpa disangka, sebuah kendaraan mewah milik Residen Belanda mampir dan memberikan tumpangan kepada kedua santri tersebut.
  • Hadiah dari Residen: Sepanjang perjalanan, seisi mobil Residen Belanda terbahak mendengar kisah Amir Husein. Sesampainya di Idi, Amir Husein dan Usman Bakar dihadiahi ƒ1000 (Gulden Belanda) dengan pesan agar uang tersebut digunakan untuk belajar dan diberikan kepada ibu.
  • Misi Penggalangan Dana: Di Dayah Hasbiyah Indrapuri, Amir Husein, bersama sahabatnya Usman Bakar dan Abubakar Aceh, mendapat “mandat” dari panitia lembaga dayah untuk mencari bantuan dana pembangunan. Misi ini membawa mereka berlayar ke berbagai daerah di luar Sumatra hingga ke Singapura.

Inspirasi Perjuangan dan Pendirian Lembaga

Pengalaman mencari dana yang membawa beliau bertemu dengan tokoh-tokoh penting sangat memengaruhi pandangan hidupnya. Beliau sempat memperoleh wejangan dari Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (Hasjmy, 1997:136), yang akhirnya menginspirasi beliau dan kawan-kawan untuk melakukan gerakan perlawanan menentang pendudukan bangsa penjajah Belanda.

Mendirikan Lembaga Pendidikan (Jiwa Pembaharu)

Setelah menamatkan studinya, jiwa pembaharu Tgk. Amir Husein mengkristal dalam upayanya mengembangkan dunia pendidikan Islam.

TahunLembaga Pendidikan yang Didirikan/DiajarLokasiPeran
1932Madrasah Nadhatul IslamBlang Siguci Idi (Kampung Halaman)Pendiri sekaligus tenaga pengajar selama satu tahun.
1932Madrasah DiniyahKelapa Satu, SigliMengajar.
1933Madrasah DiniyahMeulabohMengajar.
1935Madrasah IslamLangsa dan Tualang CutMengajar.
1936Madrasah MADANIKampung Aceh, IdiMendirikan dan Mengajar.
1937Madrasah MujahidinBlang Rambong Keude Geurobak, Idi RayeukMendirikan dan Mengajar.
1963Lembaga Perguruan Tinggi Islam DarussunannahKampung Dalam, Karang Baru, Aceh TamiangMencetuskan pembangunan Lembaga Perguruan Tinggi Islam.
Akhir HayatWakaf TanahKampung Dalam, Karang Baru, Aceh TamiangMewakafkan 6 hektar tanah milik pribadi sebagai lokasi pembangunan Perguruan Tinggi Islam Darussunnah.

Sosok Pejuang dan Pemimpin Politik

Tgk. Amir Husein tidak hanya membatasi diri di ranah pendidikan, tetapi aktif terjun ke kancah politik dan perjuangan fisik.

Peran dalam Pembentukan PUSA dan Pemuda PUSA

Pada tahun 1358 H / 5 Mei 1939, beliau bersama ulama lainnya aktif dalam pembentukan organisasi Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang diprakarsai oleh Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap dengan mengangkat Teungku Muhamad Daud Beureueh sebagai ketua.

  • Kongres I PUSA: Di tahun yang sama, PUSA menyelenggarakan kongres I di Kuta Asan Sigli. Kongres ini menyatukan misi untuk membentuk sebuah organisasi pemuda.
  • Pemuda PUSA: Tgk. Amir Husein Almudjahid dinobatkan sebagai ketua Pemuda PUSA.
  • Tujuan Ganda: Meskipun tujuan resmi PUSA dan Pemuda PUSA adalah menyatukan ulama dalam bidang pendidikan, pada kenyataannya mereka berkamuflase aktif bergerak dalam bidang politik untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Menghadapi Ancaman Pasca-Kemerdekaan (1945)

Pasca-proklamasi kemerdekaan 1945, politik di Aceh terbelah dua (Nasionalis vs. Status quo). Berdasarkan laporan intelijen (interogasi Goh Moh Wan) dan salinan tanda tangan para “Borjuis” (uleebalang) Aceh pada pertemuan Majelis Besar Uleebalang di Lamlo tahun 1945 yang menyepakati tentara Sekutu mendarat di Aceh (Fauzi, 2016:44), Tgk. Amir Husein mengambil langkah tegas.

Khawatir kemerdekaan yang masih prematur (muda) terancam, beliau mempersiapkan gerakan rakyat yang disebut Tentara Perjuangan Rakyat (TPR). Gerakan revolusi ini bertujuan:

  1. Menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa dari penjajah.
  2. Menghapus dominasi uleebalang pada sistem pemerintahan yang seharusnya milik rakyat.

Tiga divisi lasykar rakyat yang dibentuk untuk mempertahankan kemerdekaan adalah:

  1. Divisi Teungku Chik Di Tiro dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh.
  2. Divisi Rencong dipimpin oleh Nyak Neh, M. Saleh Rahmany, dan A. Hasjmy.
  3. Divisi Paya Bakong dipimpin oleh Teungku Amir Husein Almudjahid.

Pasukan Berani Mati Divisi Teungku Chik Paya Bakong bertugas menjaga ladang minyak di Peurelak dan Tamiang, sekaligus dipersiapkan untuk menghadang pasukan Sekutu dan Jepang (Fauzi, 2016:55).

Penyelamat Aset Negara (Ladang Minyak)

Dalam kapasitasnya sebagai kuasa delegasi pemerintah RI, Tgk. Amir Husein Almudjahid bernegosiasi dengan pemerintah Belanda terkait ladang minyak di Aceh dan Sumatra Utara.

  • Keputusan Tegas: Beliau menolak menyetujui pemberian tambang minyak Aceh dan Sumatera Utara kepada perusahaan minyak Belanda (BPM).
  • Hasil Perjuangan: Berkat kegigihannya, tambang minyak tersebut tetap menjadi milik pemerintah RI dan menjadi modal awal bagi PT. Pertamina dalam pengembangannya di kemudian hari.

1 2 3Next page
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker