
Kontribusi Tgk. Amir Husein Almudjahid
Tgk. Amir Husein Almudjahid memainkan peran ganda yang krusial: sebagai pemimpin gerakan keagamaan melalui PUSA dan sebagai komandan militer dalam Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Aceh.
Kiprah sebagai Ketua Pemuda PUSA (1939)
Keterlibatan politik Tgk. Amir Husein Almudjahid dimulai secara formal pada tahun 1939, sebuah tahun penting bagi konsolidasi kekuatan ulama di Aceh.
- Latar Belakang PUSA: Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dibentuk atas inisiatif Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap dengan tujuan awal menyatukan ulama dan memajukan sistem pendidikan Islam di Aceh.
- Kongres I dan Penunjukan: PUSA menyelenggarakan Kongres I di Kuta Asan Sigli pada tahun yang sama. Kongres ini menghasilkan keputusan untuk membentuk organisasi pemuda yang berafiliasi, yaitu Pemuda PUSA.
- Peran Kepemimpinan: Tgk. Amir Husein Almudjahid dinobatkan sebagai ketua Pemuda PUSA.
- Dualitas Perjuangan: Walaupun PUSA dan Pemuda PUSA didirikan untuk memanejerialkan ulama dalam bidang pendidikan, di tangan Tgk. Amir Husein, organisasi ini segera berkamuflase aktif bergerak dalam bidang politik untuk melawan penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan.
Peran Revolusioner di Divisi Paya Bakong (Pasca-1945)
Peran Tgk. Amir Husein Almudjahid mencapai puncaknya setelah proklamasi kemerdekaan (1945), saat ancaman dari pihak status quo (Uleebalang pro-sekutu) dan Sekutu semakin nyata.
Memimpin Tentara Perjuangan Rakyat (TPR)
Setelah adanya laporan mengenai kesepakatan Uleebalang dengan Sekutu (Majelis Besar Uleebalang di Lamlo 1945), Amir Husein Almudjahid bersiaga penuh. Beliau secara sigap mempersiapkan gerakan rakyat yang menghimpun seluruh kekuatan rakyat ke dalam Tentara Perjuangan Rakyat (TPR).
- Tujuan Revolusi: Gerakan revolusi ini bertujuan ganda: menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa dari penjajah, sekaligus menghapus dominasi uleebalang yang dianggap tidak pro-rakyat dalam sistem pemerintahan.
Komandan Divisi Paya Bakong
Dalam upaya mempertahankan kedaulatan Republik, kekuatan lasykar rakyat di Aceh dibagi menjadi tiga divisi utama, salah satunya dipimpin langsung oleh beliau:
| Divisi Lasykar Rakyat | Pimpinan | Peran Strategis |
| Divisi Teungku Chik Di Tiro | Teungku Muhammad Daud Beureueh | – |
| Divisi Rencong | Nyak Neh, M. Saleh Rahmany, dan A. Hasjmy | – |
| Divisi Paya Bakong | Teungku Amir Husein Almudjahid | Bertugas menjaga ladang minyak di Peurelak dan Tamiang, serta dipersiapkan untuk menghadang pasukan Sekutu dan Jepang. |
Sebagai pemimpin Pasukan Berani Mati Divisi Teungku Chik Paya Bakong, peran beliau sangat vital karena bertanggung jawab atas pengamanan aset ekonomi strategis: ladang minyak di Peurelak dan Tamiang.
Diplomasi Ekonomi Penyelamat Aset Negara
Perjuangan Tgk. Amir Husein Almudjahid melampaui medan perang hingga ke meja negosiasi, terutama terkait isu minyak.
- Delegasi RI: Beliau ditunjuk sebagai kuasa delegasi oleh Pemerintah RI untuk berunding dengan pemerintah Belanda mengenai tambang minyak di Aceh dan Sumatera Utara.
- Sikap Tegas: Dalam delegasi tersebut, Tgk. Amir Husein secara tegas menolak menyetujui pemberian tambang minyak kepada perusahaan Belanda (BPM).
- Warisan Nasional: Penolakan keras ini berhasil menjaga aset tambang minyak Aceh dan Sumatera Utara agar tetap menjadi milik Pemerintah RI, yang kemudian menjadi modal awal dan cikal bakal pendirian perusahaan raksasa nasional, PT. Pertamina.
Dengan demikian, Tgk. Amir Husein Almudjahid tidak hanya dikenal sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga sebagai tokoh militer yang tegas, visioner, dan penyelamat aset negara yang berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan ekonomi Republik Indonesia.









One Comment