
Siapa Abu Wahab Seulimeum?
Tgk. H. Abdul Wahhab Abbas atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Wahab Seulimeum adalah seorang ulama besar Aceh dan pendiri Dayah Ruhul Fata Seulimeum. Beliau adalah murid langsung (Ashabul Wujuh) dari ulama agung Syekh H. Hanafiah Abbas (Teungku Abi) dari Dayah MUDI Samalanga. Kecintaan dan kesetiaan beliau kepada sang guru, serta semangat mengajar yang tak pernah padam, menjadikan Abu Wahab Seulimeum sebagai salah satu pilar penting dalam tradisi keilmuan Islam di Aceh.
Perjalanan Menuntut Ilmu di Dayah MUDI Samalanga
Abu Wahab Seulimeum menempuh pendidikan dalam waktu yang sangat lama di Dayah MUDI Samalanga — salah satu dayah (pesantren tradisional) paling berpengaruh di Aceh yang dikenal sebagai “Kota Santri Samalanga”. Pada masa beliau belajar di sana, dayah tersebut dipimpin oleh Syekh H. Hanafiah Abbas, yang akrab disapa Teungku Abi dan dijuluki Sultanul Aulia (Raja Para Wali).
Teungku Abi adalah sosok guru yang sepenuhnya mendedikasikan hidupnya untuk mengajar — dalam bahasa Aceh disebut “beut seumeubeut”. Kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak Teungku Abi menjadi magnet tersendiri, bahkan para ulama yang sudah alim pun tidak segan kembali belajar kepadanya.
Abu Wahab Seulimeum adalah salah satu murid yang paling dekat dan setia. Beliau bukan hanya menimba ilmu agama, tetapi juga mengambil berbagai tarekat langsung dari Teungku Abi. Hampir setiap waktu beliau habiskan bersama gurunya, dan dalam setiap kesempatan mengajar, nama Teungku Abi selalu beliau sebut dengan penuh penghormatan dan rasa cinta.
Belajar Ilmu Bela Diri dari Teungku Abi
Selain ilmu agama, Abu Wahab Seulimeum juga belajar ilmu bela diri (silet) dari Teungku Abi. Teungku Abi sendiri dikenal sebagai seorang yang mahir dalam bela diri, dengan ilmu yang beliau terima dari gurunya di Desa Meuko, Ulee Gle. Ilmu bela diri ini juga diajarkan Teungku Abi kepada murid lainnya, yaitu Tgk. Muhammad Jamil.
Wasiat Sang Guru: Mengajar, Bukan Mencari Kekayaan
Salah satu wasiat paling berkesan yang disampaikan Teungku Abi kepada Abu Wahab Seulimeum adalah:
“Gata ta woe u gampong seumeubeuet mantoeng, bek jak mita kaya.” (Ketika kamu pulang kampung, fokuslah untuk mengajar. Jangan sibuk mencari kekayaan.)
Wasiat ini benar-benar meresap dan mengubah hidup Abu Wahab. Suatu hari, saat beliau sedang membersihkan kebun dan tangannya terkena parang, seketika wajah Teungku Abi dan wasiatnya terlintas di benaknya. Sejak kejadian itu, Abu Wahab benar-benar melepaskan urusan mencari rezeki dan sepenuhnya memfokuskan diri untuk mengajar (seumeubeuet) — sebagaimana yang dipesankan gurunya.
Kecintaan Mendalam kepada Sang Guru
Ikatan batin antara Abu Wahab Seulimeum dan Teungku Abi begitu kuat dan mendalam — inilah yang dalam tradisi tasawuf disebut rabitah (hubungan spiritual antara murid dan guru).
Dikisahkan, ketika Abu Wahab sesekali menunjukkan tanda-tanda amarah, anak-anaknya cukup mengingatkan:
“Abu, Teungku Abi han tom bungeh-bungeh.” (Abu, Teungku Abi tidak pernah marah.)
Seketika itu, Abu Wahab langsung tersadar dan tenang. Begitu kuatnya pengaruh sang guru dalam kehidupan beliau — sebuah keteladanan yang menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja tentang bagaimana seharusnya seorang murid menghormati dan mencintai gurunya.
Mendirikan Dayah Ruhul Fata (1946)
Setelah sekian lama menimba ilmu di Samalanga, Abu Wahab Seulimeum kembali ke kampung halamannya dan pada tahun 1946 mendirikan Dayah Ruhul Fata di Seulimeum, Aceh Besar.
Dayah ini dikelola bersama putranya, Tgk. H. Mukhtar Luthfi (Abon Seulimeum) — yang juga menempuh pendidikan di Dayah MUDI Samalanga — serta dibantu oleh saudara-saudaranya yang turut mengajar di dayah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Dayah Ruhul Fata berkembang pesat. Para santri berdatangan bukan hanya dari Kecamatan Seulimeum, tetapi juga dari berbagai kecamatan dan kabupaten lain di seluruh Aceh. Nama Dayah Ruhul Fata pun semakin dikenal luas di seluruh penjuru Aceh.
Keteguhan di Tengah Gejolak Sejarah
Perjalanan Dayah Ruhul Fata tidak selalu mulus. Berbagai ujian dan hambatan datang silih berganti, di antaranya:
- Pemberontakan DI/TII di Aceh (1953)
- Gejolak PKI (1965)
- Konflik berkepanjangan di Aceh
Setiap gejolak tersebut memberikan tekanan nyata terhadap kelangsungan kegiatan pengajian di dayah. Namun berkat pertolongan Allah SWT, serta sifat istiqamah dan kegigihan Abu Wahab Seulimeum dalam memperjuangkan kebenaran dan menyebarkan ilmu agama, Dayah Ruhul Fata tetap berdiri kokoh dan konsisten menjalankan kegiatan belajar-mengajar.
Bahkan di tengah segala rintangan itu, dayah ini terus tumbuh dan akhirnya berkembang menjadi salah satu dayah terbesar di Aceh yang memiliki peran penting dalam kemaslahatan umat.
Wafat dan Penerus Kepemimpinan
Tgk. H. Abdul Wahhab berpulang ke rahmatullah pada tahun 1996. Kepemimpinan Dayah Ruhul Fata kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, al-Mukarram Syaikhuna Tgk. H. Mukhtar Luthfi bin Tgk. H. Abdul Wahhab bin Abbas bin Sayed Al-Hadhrami, yang lebih dikenal sebagai Abon Seulimeum.
Kesimpulan
Abu Wahab Seulimeum adalah teladan nyata seorang ulama yang hidupnya benar-benar dibangun di atas wasiat gurunya — mengajar tanpa pamrih, hidup sederhana, dan berjuang tanpa kenal lelah demi keberlangsungan ilmu agama. Dayah Ruhul Fata yang beliau dirikan kini berdiri sebagai monumen nyata dari semangat itu — sebuah warisan yang terus hidup dan memberi manfaat bagi umat Islam di Aceh dan sekitarnya.








