
Siapa Teungku Chik Awe Geutah?
Syekh Abdur Rahim Al-Asyi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Teungku Chik Awe Geutah, adalah seorang ulama besar yang berasal dari Gampong Awe Geutah, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. Beliau dikenal sebagai sosok yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Aceh, sekaligus tokoh di balik asal-usul nama Desa Awe Geutah yang kita kenal hingga kini.
Silsilah dan Nasab
Silsilah (Sarakata) Teungku Chik Awe Geutah — yang nama aslinya Teungku Chik Abdur Rahim — tercatat melalui rangkaian ulama berikut:
- Tgk. Chik Abdur Rahim (Teungku Chik Awe Geutah)
- Tgk. Chik Muhammad Zein
- Tgk. Chik Muhammad Daud
- Tgk. Chik Muchsin (Tgk. Chik Peuratah)
- Tgk. Chik Mansur (Tgk. Chik Meunasah)
- Tgk. Chik Muhammad Dahlan
Penerus dan pewaris langsung beliau saat ini adalah Tgk. Muchyen Nufus, yang merupakan keturunan lapis ketujuh dari Tgk. Chik Muhammad Dahlan.
Pendidikan: Berguru ke Ulama Besar di Yaman
Teungku Chik Awe Geutah menempuh pendidikan agama dengan berguru langsung kepada seorang ulama besar di Zabid, Yaman, yaitu:
Asy-Syekh Al-Qudwah ‘Ali bin Zain Al-Mizjajiy Az-Zabidiy — Rahimahullah
Ini menunjukkan betapa seriusnya beliau dalam menuntut ilmu, hingga menempuh perjalanan jauh ke negeri Yaman demi mendapatkan ilmu dari sumber terbaik.
Kisah Hijrah: Panjangnya Perjalanan Mencari Tempat Tinggal
Sekitar abad ke-13, Abdul Rahim bin Muhammad Saleh beserta keluarga dan tiga saudara kandungnya memutuskan untuk hijrah meninggalkan tanah kelahiran mereka. Sebabnya adalah adanya pertentangan di kalangan umat Islam terkait perbedaan khilafiyah (perbedaan pendapat dalam masalah agama). Demi menghindari perpecahan, mereka memilih pergi ke tempat yang lebih aman dan tenteram.
Perjalanan Panjang Menyinggahi Banyak Tempat
Rombongan Abdul Rahim tidak langsung menemukan tujuan. Mereka terlebih dahulu singgah di beberapa tempat:
- Kepulauan Nicobar dan Andaman — di Samudra Hindia
- Pulau Weh — ujung barat Aceh
- Pulau Sumatera (disebut Pulau Ruja saat itu) — menetap sementara di Gampong Lamkabeu, Aceh Besar
Merasa belum menemukan tempat yang cocok, perjalanan dilanjutkan. Namun di sini, salah satu saudara Abdul Rahim memutuskan untuk menetap di Tanoh Abee dan mendirikan tempat pengajian di sana. Ia kelak dikenal sebagai Teungku Chik Tanoh Abee.
Tiba di Kuala Jangka, Bireuen
Rombongan yang tersisa akhirnya mendarat di Kuala Jangka (Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen), sebuah pelabuhan maju yang ramai disinggahi pedagang dari berbagai negara, termasuk dari India. Mereka kemudian menetap sementara di Desa Asan Bideun (Kecamatan Jangka) dan mendirikan balai pengajian di sana.
Namun Abdul Rahim kembali merasa belum menemukan tempat yang tepat. Pemandangan yang dilihatnya di Asan Bideun — perempuan setempat yang berpakaian kurang menutup aurat — membuatnya yakin bahwa tempat itu belum cukup kondusif untuk dijadikan tempat menetap secara permanen.
Rombongan Terpecah Tiga
Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan terbagi menjadi tiga kelompok:
- Kelompok pertama (dipimpin adik Abdul Rahim) → menetap di Paya Rabo, Kecamatan Sawang, Aceh Utara
- Kelompok kedua (dipimpin adik yang lain) → menetap di Pulo Iboh, Kecamatan Jangka
- Kelompok Abdul Rahim sendiri → hijrah ke Keudee Asan, Kecamatan Peusangan Selatan
Shalat Istikharah Empat Malam: Petunjuk dari Allah
Setelah beberapa lama di Keudee Asan dan masih belum merasa yakin, Abdul Rahim melakukan shalat istikharah selama empat malam berturut-turut, memohon petunjuk dari Allah. Setiap malam beliau naik ke bukit Gle Sibru (kini masuk wilayah Desa Cibrek, Kecamatan Peusangan Selatan) dan menghadap ke empat arah mata angin secara bergantian:
| Malam | Arah | Hasil |
|---|---|---|
| Pertama | Selatan | Hanya tampak pucuk labu (kini Desa Geulanggang Labu) |
| Kedua | Barat | Tidak tampak apa-apa |
| Ketiga | Utara | Tidak tampak apa-apa |
| Keempat | Timur | Tampak seberkas cahaya putih bersih ✓ |
Cahaya yang terlihat di arah timur itulah yang menjadi petunjuk Allah bagi Abdul Rahim. Ia meyakini bahwa di sanalah tempat yang aman, damai, dan layak untuk dijadikan tempat tinggal permanen.
Asal Usul Nama “Awe Geutah”
Keesokan harinya, rombongan berangkat menuju sumber cahaya tersebut. Sesampainya di sana, mereka mendapati hutan belantara yang lebat. Mereka pun bergotong-royong membuka hutan untuk dijadikan perkampungan baru.
Setelah kerja keras membuka lahan, tibalah saatnya memberikan nama untuk pemukiman baru itu. Berbagai nama diusulkan, namun tak ada yang terasa pas. Hingga akhirnya, seorang anggota rombongan yang sedang membersihkan getah rotan dari tangannya berkata:
“Untuk apa capek-capek memikirkan nama. Bagaimana kalau kita namai saja Awe Geutah?”
Usulan itu langsung diterima oleh semua. Awe Geutah dalam bahasa Aceh berarti “Rotan Bergetah” — terinspirasi dari getah rotan yang menempel di tangan saat itu.
Sejak itulah, desa ini bernama Awe Geutah — dan nama itu bertahan hingga hari ini.
Makam dan Situs Purbakala Teungku Chik Awe Geutah
Di depan rumah purbakala peninggalan Teungku Chik Awe Geutah, kini terdapat:
- Makam Tgk. Chik Awe Geutah
- Bale Kaluet (balai peristirahatan)
- Mon Makluet (sumur tua) — airnya dipercaya berasal dari sumber yang sama dengan air sumur Zamzam dari Makkah
Ramai Diziarahi dari Berbagai Penjuru
Makam Teungku Chik Awe Geutah menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah dan negara, antara lain:
- Dari dalam negeri: Aceh, Medan, Deli Serdang, Jakarta, Madura
- Dari luar negeri: Iran, India, Turki, dan Arab
Sebagian peziarah datang untuk membayar nazar atas hajat yang telah dikabulkan. Ada pula tradisi turun tanah bayi (upacara pertama kali bayi menjejakkan kaki ke tanah) yang dilakukan di sini, dengan memandikan bayi menggunakan air dari Mon Kaluet.
Pelestarian Situs Purbakala
Pada tahun 2011, kompleks situs purbakala rumah Teungku Chik Awe Geutah telah direhab oleh Dirjen Purbakala, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rehabilitasi meliputi rumah induk, lantai halaman, dan beberapa tempat duduk untuk pengunjung.
Namun tiga rumah purbakala lainnya di kawasan kompleks tersebut belum direhab. Tgk. Muchyen Nufus selaku penerus beliau berharap pihak Dirjen Purbakala dapat segera menyelesaikan rehabilitasi ketiga rumah tersebut demi menjaga kelestarian situs bersejarah ini.
Penutup
Teungku Chik Awe Geutah adalah sosok ulama yang tidak hanya mewariskan ilmu agama, tetapi juga meninggalkan jejak sejarah yang nyata — dari nama sebuah desa, sumur bersejarah, hingga situs purbakala yang masih berdiri kokoh di Bireuen, Aceh. Kisah perjalanan hijrahnya mengajarkan kita tentang keberanian, kesabaran, dan keteguhan dalam mencari kebenaran.








