
Siapa Waled Husaini?
Waled Husaini adalah seorang ulama dan pendidik perempuan Islam (Teungku Inong) terkemuka di Aceh yang memimpin Dayah Ruhul Fatayat Seulimeum, Aceh Besar. Beliau adalah putra dari Tgk. H. Abdul Wahab Abbas — pendiri Dayah Ruhul Fata yang merupakan salah satu dayah paling berpengaruh di Aceh. Sejak usia muda, Waled Husaini telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar dan membimbing para santriwati, dan hingga kini telah mendidik lebih dari 4.000 santri yang tersebar di berbagai penjuru Aceh.
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
Waled Husaini lahir pada 30 Juli 1962 di Gampong Seulimeum, Aceh Besar. Beliau berasal dari keluarga ulama dan tumbuh di lingkungan Dayah Ruhul Fata — dayah milik ayahnya, Tgk. H. Abdul Wahab Abbas. Sejak kecil, suasana belajar dan mengajar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari beliau.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Merantau ke Dayah Malikulsaleh
Waled Husaini hanya sempat menempuh pendidikan umum hingga tamat Sekolah Dasar di Seulimeum. Namun di usia yang masih sangat muda, beliau mengambil keputusan berani: meninggalkan kampung halaman dan orang tua untuk merantau menuntut ilmu agama.
Berbekal bekal ilmu agama yang sudah beliau terima dari ayahnya di Dayah Ruhul Fata, Waled Husaini berangkat ke Dayah Malikulsaleh, Panton Labu, Aceh Utara. Berkat dasar ilmu yang sudah kuat, beliau langsung bisa duduk di kelas tiga saat tiba di sana — sebuah pencapaian yang menunjukkan kematangan ilmunya sejak dini.
Selama delapan tahun, siang dan malam Waled Husaini menghabiskan waktunya mempelajari berbagai kitab kuning di bawah bimbingan para Teungku Dayah Malikulsaleh.
Kembali ke Seulimeum
Pada tahun 1980, Waled Husaini kembali ke Seulimeum dengan membawa ijazah dari Dayah Malikulsaleh. Sejak saat itu, beliau langsung mengabdikan ilmunya di Dayah Ruhul Fata milik ayahnya — mengajarkan berbagai kitab kuning kepada para santri dan menjadikan kegiatan belajar-mengajar sebagai keseharian hidupnya.
Wasiat Sang Ayah
Menjelang akhir hayatnya, Tgk. H. Abdul Wahab Abbas memanggil dua putranya — Waled Husaini dan Tgk. Mukhtar Luthfi (Abon Seulimeum) — untuk menyampaikan wasiat penting:
“Sepeninggalku, Waled Husaini harus melanjutkan memimpin Dayah Putri, sementara Abon Seulimeum memimpin Dayah Putra.”
Hanya berselang 10 hari setelah menyampaikan wasiat itu, Tgk. H. Abdul Wahab Abbas berpulang ke rahmatullah pada tahun 1996. Wasiat tersebut langsung dilaksanakan — dan sejak itulah Dayah Ruhul Fata resmi terbagi menjadi dua lembaga yang saling melengkapi.
Memimpin Dayah Ruhul Fatayat Seulimeum
Setelah wafatnya sang ayah, terjadi pembenahan besar pada lembaga Dayah Ruhul Fata:
- Dayah Ruhul Fata — tetap berjalan untuk santri putra, dipimpin oleh Abon Seulimeum
- Dayah Ruhul Fatayat Seulimeum — berdiri untuk santri putri, dipimpin oleh Waled Husaini
Kedua dayah ini kini hanya terpisah oleh sebuah jalan yang membelah Desa Seulimeum, keduanya berdiri di tepi Krueng Inong (Sungai Inong).
Perkembangan Dayah Ruhul Fatayat
Di bawah kepemimpinan Waled Husaini, Dayah Ruhul Fatayat berkembang menjadi salah satu dayah putri terbesar di Aceh. Dayah ini kini menampung 1.325 santriwati yang berasal dari berbagai wilayah Aceh — hampir dari seluruh kabupaten, kecuali Aceh Tenggara dan Simeulue.
Waled Husaini sendiri secara langsung membimbing para Teungku Inong (ustazah) yang kemudian mengajar para santri di kelas-kelas yang lebih rendah. Model pengajaran berjenjang ini memastikan kualitas ilmu yang disampaikan tetap terjaga dari sumber utamanya.
Sistem Pendidikan dan Disiplin di Dayah Ruhul Fatayat
Dayah Ruhul Fatayat dikenal dengan sistem pendidikan yang teratur dan penuh kedisiplinan. Beberapa aturan dan kegiatan yang diterapkan antara lain:
- Mengulang pelajaran sebelum Maghrib — wajib bagi seluruh santri setiap hari
- Shalat Maghrib berjamaah dilanjutkan dengan kegiatan mengaji
- Shalat Dhuha dan Shalat Tahajjud — wajib bagi seluruh santri
- Muhadharah (pidato/latihan ceramah) — diadakan setiap malam Jumat
- Shalat berjamaah wajib — santri yang tidak melaksanakannya dikenakan sanksi membersihkan dayah
- Sistem wali santri — setiap santri yang masuk harus diantar langsung oleh wali, dan saat libur juga harus dijemput oleh walinya
Pengabdian kepada Masyarakat
Sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat, Dayah Ruhul Fatayat secara rutin mengirim santriwatinya ke desa-desa di sekitar Seulimeum dan Aceh Besar untuk memberikan pengajian kepada warga. Program ini menjadi jembatan antara dunia pesantren dan masyarakat luas.
Dampak dan Warisan Keilmuan
Sejak mulai mengajar pada tahun 1980, Waled Husaini telah mendidik lebih dari 4.000 santri secara langsung. Para alumni tersebut kini telah kembali ke kampung masing-masing dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan pendidikan Islam di Aceh, di antaranya:
- Mendirikan 11 Dayah Putri di berbagai daerah seperti Pidie, Aceh Besar, Sabang, Aceh Jaya, dan Banda Aceh
- Membuka berbagai balai pengajian di desa-desa
Ini adalah bukti nyata bahwa ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan terus berbuah — dari satu dayah, lahir puluhan lembaga pendidikan Islam baru yang menerangi berbagai pelosok Aceh.
Kesimpulan
Waled Husaini adalah contoh ulama yang konsisten menjalankan wasiat orang tua dan guru — mengajar, mengabdi, dan memberi tanpa pamrih. Dari seorang anak ulama yang merantau untuk menuntut ilmu, beliau kini menjadi salah satu pilar utama pendidikan Islam perempuan di Aceh. Dayah Ruhul Fatayat yang beliau pimpin bukan sekadar lembaga pendidikan — ia adalah ladang amal yang terus menghasilkan generasi Qur’ani untuk Aceh dan Indonesia.







