
Profil Ulama | Habib Abdul Qadir As Segaf Tuban

Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf adalah salah satu ulama Hadramaut yang meninggalkan jejak spiritual mendalam di Nusantara, khususnya di Tuban, Jawa Timur. Dikenal karena karomah dan kedekatannya dengan para ahlil ghaib, beliau mewariskan teladan keshalihan dan kedermawanan yang tak lekang oleh waktu.
I. Kelahiran dan Jejak Pendidikan Awal
1.1 Kelahiran dan Pendidikan
Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf dilahirkan di Seiwun, Hadramaut, pada tahun 1241 H.
Sejak kecil, beliau telah mendapatkan didikan spiritual dan keagamaan yang intensif dari paman beliau, Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf.
1.2 Pengalaman Spiritual yang Menakjubkan
Paman beliau sering mengajak Habib Abdul Qadir berziarah ke tempat-tempat para auliya’ (wali Allah), bahkan ke lokasi yang jauh dari Seiwun.
Saat berziarah ke makam Syaikh Umar Ba Makhramah, Habib Abdul Qadir menyaksikan sebuah kejadian yang menakjubkan:
Kejadian Karomah: Ketika berada di dalam kubah makam, tiba-tiba Syaikh Umar Ba Makhramah bangun dari kuburnya dan bercakap-cakap dengan Habib Abdurrahman. Habib Abdul Qadir menyaksikan peristiwa ini secara yaqadzah (terjaga, bukan melalui mimpi), menunjukkan tingginya tingkat spiritual beliau sejak muda.
II. Kisah Persahabatan Para Wali Allah
Habib Abdul Qadir menjalin persahabatan yang erat dengan ulama-ulama besar sezamannya, yang menunjukkan tingginya maqam beliau di mata para wali.
2.1 Tiga Serangkai Ulama Besar
Sejak usia remaja, beliau telah berteman akrab dengan:
- Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Sahibul Maulid Simthud Durar).
- Habib Abdullah bin Ali Al Haddad (Sahibur Ratib Hadad).
Persahabatan dengan Habib Abdullah Al-Haddad sangat istimewa. Tidak lama setelah Habib Abdullah mengirim surat yang berisi ungkapan, “Sesungguhnya jiwa-jiwa itu saling terpaut,” Habib Abdullah wafat. Menariknya, Habib Abdul Qadir juga wafat hanya 27 hari setelah kepergian sahabat karibnya tersebut.
2.2 Hubungan dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya)
Habib Abdul Qadir juga memiliki hubungan istimewa dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya) dan Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar (Bondowoso).
Kedekatan dengan Habib Muhammad Al-Habsyi semakin erat setelah terjadi suatu insiden:
- Penyadaran Hal (Keadaan Spiritual): Habib Muhammad seringkali tidak bisa menguasai diri ketika kedatangan hal (keadaan luar biasa dari Allah SWT). Suatu saat, Habib Muhammad kedatangan hal ketika sedang berjalan, dan Habib Abdul Qadir yang kebetulan berada di dekatnya segera menyadarkannya.
- Pengakuan dan Pujian: Setelah sadar, Habib Muhammad memeluknya dengan gembira sambil berkata, “Ini adalah sebaik-baik obat.”
- Puisi Cinta: Saking dekatnya, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi bahkan menyatakan bahwa menceritakan tentang keadaan Habib Abdul Qadir lebih manis dari madu, yang ia ungkapkan dalam syair:
Wahai malam yang penuh cahaya
Semua permintaan telah terkabul
Hari ini aku datang ke Tuban di awal bulan
Putra Alwi yang kucinta
Kelezatannya tiada bandingan
Dia lah pintu masuk dan pintu keluar kita
Obat bagi yang kena segala penyakit
Dari hatinya memancar rahasia sempurna
Semoga dengan berkahnya, dosa dan salah kita diampuni
III. Teladan dan Karomah yang Masyhur
3.1 Sifat dan Penghormatan Para Wali
Dalam kesehariannya, Habib Abdul Qadir dikenal sebagai pribadi yang ramah tamah, murah senyum, dan dermawan. Semua orang yang mengenalnya pasti mencintainya.
- Pujian Auliya’: Para auliya’ di zamannya memuji dan mengagungkan beliau, termasuk Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas (Wali Kramat dari Empang, Bogor) yang selalu mengunjungi beliau. Habib Abdullah bersyair dengan pujian, “Telah bertiup angin segar dari Kota Tuban….”
- Pengunjung Setia: Auliya lain yang sering mengunjungi beliau adalah Habib Ahmad bin Abdullah Al Attas (Pekalongan) dan Habib Abdul Qadir bin Quthban.
3.2 Karomah: Menyelamatkan Kapal dari Tenggelam
Salah satu karomah beliau yang terkenal adalah kisah penyelamatan kapal saat perjalanan pulang dari haji.
- Musibah di Laut: Kapal yang ditumpangi Habib Abdul Qadir dan rombongan berlubang, dan air laut masuk deras, menyebabkan kepanikan massal hingga kapal hampir tenggelam.
- Doa di Bagasi: Habib Abdul Qadir segera masuk ke bagasi kapal bersama dua istrinya untuk berdoa. Tiba-tiba, empat orang lelaki mendatanginya. Salah satunya memperkenalkan diri sebagai Umar Muhadar dan mengenalkan tiga pria lain: Alwi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam, Abdurrahman Assegaf, dan Syaikh Abu Bakar bin Salim (kakek-kakek beliau dari kalangan wali).
- Lubang Lenyap: Setelah diperintah oleh salah satu lelaki gaib tersebut untuk menguras air, Habib Abdul Qadir keluar. Tak lama kemudian, air laut habis dan lubang kapal pun telah lenyap, papan-papannya tertutup rapat seakan tidak pernah terjadi apa-apa—sebuah karomah yang menunjukkan pertolongan Allah melalui para leluhur beliau.
3.3 Karomah: Mendapat Tuntunan Langsung dari Rasulullah SAW (Ilmu Paled)
Habib Abdul Qadir pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang sedang menuntun Habib Hasan bin Soleh Al-Bahr.
- Pahala 50 Kali: Dalam mimpi itu, Nabi SAW menyuruhnya membaca Doa Khidir AS sebanyak 50 kali setiap pagi dan sore. Ketika Habib Abdul Qadir berniat memohon keringanan, Nabi SAW bersabda, “Bacalah sebanyak lima kali saja, tetapi pahalanya tetap 50.”
- Ilmu Paled: Seketika terbangun, Habib Abdul Qadir hafal doa tersebut dari awal sampai akhir, padahal belum pernah mempelajarinya. Setelah dicari, teks doa tersebut ditemukan utuh di kitab Ihya’ juz 4 bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar karya Imam Ghozali. Kemampuan menghafal yang demikian cepat ini dalam khasanah pesantren dikenal sebagai ilmu paled! (apal pisan langsung wuled).
IV. Wafat dan Warisan
4.1 Kabar Wafat dari Ahlil Ghaib
Ketika jatuh sakit, putra beliau, Umar, berusaha mengusahakan kesembuhan. Namun, Habib Abdul Qadir menolak dengan mengatakan, “Jangan merepotkan diri, karena Malaikat Maut sudah dua atau tiga kali mendatangiku.”
Dalam sakitnya, beliau sering menyambut kedatangan ahlil ghaib, termasuk Shohibul Waqt, Khidir, dan Ilyas. Bukti perbincangan ini adalah ditemukannya secarik kertas di dekatnya yang berisi syair kabar gembira dan perlindungan dari dengki serta syaitan.
4.2 Haul dan Makam
- Tanggal Wafat: Beliau meninggalkan alam fana pada tanggal 13 Rabiul Awal 1331 H (bertepatan dengan 1912 M).
- Pemakaman: Jasadnya yang suci dimakamkan di Pemakaman Bejagung, Tuban.
- Haul: Haul Habib Abdul Qadir biasanya diperingati pada bulan Sya’ban di Jl. Pemuda, Tuban, dan menjadi magnet bagi para pecinta auliya’ dari berbagai penjuru.
Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf meninggalkan jejak spiritual yang dalam, memastikan namanya senantiasa harum di kalangan pecinta Rasulullah dan para auliya’ di bumi Nusantara.








