
Siapa Nyai Chadijah Dahlan?
Nyai Chadijah Dahlan adalah Ketua Pertama Muslimat NU — perempuan yang berdiri di garis terdepan saat organisasi perempuan Nahdlatul Ulama resmi dilahirkan pada 1946. Ia bukan hanya pemimpin seremonial, tetapi juga seorang pemikir yang berani menyuarakan hak-hak perempuan di tengah budaya yang masih sangat patriarki.
Kelahiran dan Latar Belakang
Nyai Chadijah Dahlan lahir pada 1912 di Pasuruan, Jawa Timur — sebuah kota yang dikenal sebagai daerah santri dengan akar keislaman yang kuat. Lingkungan inilah yang membentuk karakter dan pemikirannya sejak dini.
Ia menikah dengan KH. Muhammad Dahlan, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dari sang suami, Nyai Chadijah banyak menyerap semangat berorganisasi dan memahami pentingnya wadah perjuangan bagi kaum perempuan NU.
Pemikiran yang Jauh Melampaui Zamannya
Nyai Chadijah dikenal sebagai pemikir yang merdeka dan progresif untuk ukuran awal abad ke-20. Ia dengan tegas menolak anggapan bahwa perempuan adalah warga kelas dua dalam kehidupan bermasyarakat maupun berorganisasi.
Pemikirannya tertuang dalam tulisan pembuka (mukaddimah) yang ia susun sebagai Ketua Muslimat NU pertama — sebuah dokumen yang kemudian masuk ke dalam Peraturan Chususi NU bagian Muslimat NU. Ini menjadikannya bukan hanya pemimpin, tetapi juga peletak fondasi ideologis organisasi.
Suara Nyai Chadijah tentang Perempuan
Ia menulis dengan lugas:
“Memang rupanya soal perempuan kurang sekali dipedulikan, bukan saja anggapan umum demikian, tetapi pemimpin-pemimpin juga masih kurang memperhatikan kaum wanita itu. Sikap demikian itu salah belaka dan harus dilenyapkan…”
Dan dengan berani ia menambahkan:
“Anggapan-anggapan orang yang mengatakan bahwa kaum wanita itu harus tinggal di dapur saja ternyata keliru dan berbahaya sekali bagi kemajuan pergaulan hidup manusia.”
Dua pernyataan ini bukan sekadar retorika. Bagi Nyai Chadijah, kemajuan Islam tidak bisa dicapai jika separuh umatnya — kaum perempuan — dibiarkan tertinggal dan tidak diberdayakan.
Peran di Nahdlatul Ulama
Ketua Pertama Muslimat NU (1946)
Muslimat NU resmi lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 1946, dalam forum Muktamar ke-16 NU. Pada momen bersejarah itu, Nyai Chadijah Dahlan dipilih sebagai ketua pertamanya.
Ia juga tercatat sebagai perempuan pertama yang menyampaikan pidato resmi dalam kongres perdana Muslimat di Purwokerto. Pidatonya bahkan dijadikan salah satu bahan masukan dalam penyusunan peraturan organisasi — bukti nyata bahwa suaranya bukan hanya didengar, tetapi juga dihormati.
Saat itu, Muslimat NU masih bernama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) dan berstatus sebagai lembaga organik NU, bukan badan otonom. Status otonom baru diperoleh pada Muktamar ke-19 NU di Palembang tahun 1952 — sayangnya, Nyai Chadijah tidak sempat menyaksikannya.
Di Balik Berdirinya Muslimat NU
Dalam sejarah kelahiran Muslimat NU, ada nama suami Nyai Chadijah yang tidak bisa dilewatkan. KH. Muhammad Dahlan adalah sosok pria utama yang mendorong dan memperjuangkan lahirnya organisasi perempuan NU ini dari dalam PBNU.
Sejak awal berdirinya, Muslimat NU berpusat di Surabaya — mengikuti kantor pusat PBNU. Namun ketika revolusi 10 November meletus, kantor pusat PBNU dan Muslimat NU dipindahkan ke Pasuruan, kota asal Nyai Chadijah.
Tak lama berselang, pasca peristiwa Clash I, KH. Muhammad Dahlan sekeluarga berpindah ke Madiun, dan kantor organisasi pun turut dipindah ke sana. Namun situasi kembali memanas ketika terjadi pemberontakan PKI yang dipimpin Muso — sebuah tragedi yang merenggut banyak nyawa ulama dan kaum muslimin.
Tepat sebulan setelah pemberontakan itu, Nyai Chadijah Dahlan wafat.
Wafat
Nyai Chadijah Dahlan wafat pada 1948 — hanya dua tahun setelah ia memimpin Muslimat NU. Usianya baru 36 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka besar bagi gerakan perempuan Islam di Indonesia, namun warisan pemikirannya terus hidup hingga kini.
Warisan Nyai Chadijah Dahlan
Meski masa kepemimpinannya singkat, jejak Nyai Chadijah dalam sejarah Muslimat NU sangat dalam:
- Ia adalah ketua pertama yang meletakkan arah dan identitas Muslimat NU sejak hari pertama
- Mukaddimahnya menjadi dokumen ideologis yang mengukuhkan posisi perempuan dalam organisasi NU
- Pidatonya di kongres perdana menjadi bagian dari peraturan resmi organisasi
- Ia membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin, berpikir kritis, dan berjuang dalam kondisi sesulit apapun — bahkan di tengah revolusi
Ringkasan Data
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Nyai Chadijah Dahlan |
| Lahir | 1912, Pasuruan, Jawa Timur |
| Wafat | 1948, Madiun |
| Suami | KH. Muhammad Dahlan (Ketua Tanfidziyah PBNU) |
| Peran | Ketua Pertama Muslimat NU (1946–1948) |
| Organisasi | Muslimat NU / Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) |
| Warisan | Mukaddimah Muslimat NU, pidato kongres pertama |








