ULAMA NUSANTARA

Biografi Lengkap KH. Chasan Tholabi

Profil Ulama | Biografi Lengkap KH. Chasan Tholabi

KH. Chasan Tholabi (sering disebut Kiai Chasan) merupakan sosok ulama karismatik dan pejuang dakwah gigih yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Al-Qur’an dan masyarakat.

Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup beliau, mulai dari kelahiran, pendidikan, hingga perjuangannya mendirikan Pondok Pesantren Al-Qur’an Wates.

Kelahiran dan Nasab Mulia

KH. Chasan Tholabi dilahirkan di Krapyak pada tahun 1921.

Beliau adalah putra dari KH. Amiruddin bin KH. Abdullah Rosyad.

Garis keturunan ulama ini semakin kuat karena beliau juga merupakan keponakan langsung dari ulama besar Al-Qur’an, yaitu KH. Muhammad Munawwir, Krapyak.

Pendidikan Berdisiplin Tinggi

Pendidikan agama Kiai Chasan dimulai sejak usia dini, langsung di bawah bimbingan ayahnya, Kiai Amiruddin.

Menginjak dewasa, beliau melanjutkan mengaji kepada pamannya, KH. Munawwir.

Saat berguru kepada KH. Munawwir, Kiai Chasan mendalami Al-Qur’an hingga mencapai Juz 25.

Sayangnya, cita-cita mengkhatamkan hafalan di Krapyak harus tertunda karena KH. Munawwir wafat pada tahun 1942.

Kiai Munawwir sendiri dikenal sangat keras dan disiplin dalam mendidik kerabatnya.

Setiap pelanggaran kecil akan segera dita’zir (dihukum), sebuah didikan penuh ketegasan demi membentuk calon ulama pejuang.

Setelah dari Krapyak, Kiai Chasan melanjutkan petualangan ilmunya ke Pesantren Tremas, Pacitan.

Di pesantren yang masyhur melahirkan ulama besar seperti KH. Ali Maksum dan KH. Hamid Pasuruan ini, beliau memperdalam ilmu fiqih, tafsir, dan berbagai ilmu keislaman lainnya.

Perjalanan untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an berlanjut di Demak, tepatnya di Pondok Pesantren Bustanu Usysyaqil Qur’an.

Di sana, Kiai Chasan mengkhatamkan hafalan di bawah bimbingan KH. Muhammad, putra dari KH. Mahfudz Tremas.

Menariknya, KH. Muhammad adalah murid KH. Munawwir Krapyak dan juga menantu dari KH. Soleh Darat Semarang.

Kehidupan Keluarga dan Perjuangan Dakwah

Sekembalinya dari Demak, KH. Chasan Tholabi mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Nyai Mursyidinah.

Istrinya ini masih kerabat dekat, yakni cucu dari KH. Abdullah Rosyad.

Setelah menikah, fokus dakwah Kiai Chasan tidak berubah.

Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat aktif berdakwah keliling dari satu tempat ke tempat lain.

Demi menyesuaikan lokasi dakwah, tercatat Kiai Chasan dan keluarga sempat enam kali mengontrak rumah di Jogja Kota dan Bantul.

Lokasi kontrakan tersebut termasuk Krapyak Wetan, Krapyak Kulon, Sewon, Sentolo, Mergangsan Kidul, dan Mergangsan Lor.

Baru pada kontrakan yang ketujuh, beliau memutuskan untuk fokus dan pindah permanen ke Wates.

Selama masa perjuangan dakwah keliling ini, Bu Nyai Mursyidinah memegang peran penting menopang ekonomi keluarga.

Beliau berjuang berdagang minyak tanah, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Kiai Chasan sendiri tak kenal lelah, terus menemani dan mendidik masyarakat melalui pengajian keliling, sebuah semangat yang selalu didorong dan didukung oleh KH. Ali Maksum.

Mendirikan Pesantren Al-Qur’an Wates (PESAWAT)

Pada tahun 1970, setelah berpindah-pindah tempat di Jogja dan Bantul, Kiai Chasan berhijrah ke Wates.

Di sana, beliau mengawali dakwah dengan mendirikan sebuah mushala.

Misi dakwah awalnya sangat spesifik, yaitu mengajarkan Al-Qur’an.

Keputusan ini didasari kondisi Wates saat itu yang merupakan basis daerah abangan dan mayoritas masyarakatnya masih awam agama.

Tantangan dakwah di Wates sangat berat.

Kiai Chasan harus menghadapi gangguan hebat, mulai dari mushala yang sering dilempari batu, hingga adzan yang dikumandangkan diteriaki seperti anjing menggonggong.

Gangguan fisik pun sempat muncul, namun berkat ilmu kanuragan yang dimiliki Kiai Chasan, hambatan-hambatan tersebut lambat laun dapat teratasi.

Spirit dakwah terhadap masyarakat awam justru menjadi pemicu semangat beliau.

Puncaknya, pada tahun 1979, Kiai Chasan berhasil mendirikan Pesantren Al-Qur’an Wates (PESAWAT) di atas tanah seluas 280 m.

Ciri khas pengajian di pesantren ini sangat unik: setiap santri yang hendak mengaji selalu memulai dengan praktik usholli dan kabira.

Ini berarti, pelajaran dimulai dengan memastikan santri memahami dan mempraktikkan tata cara shalat yang benar, termasuk cara membawa Al-Qur’an dengan adab yang baik.

Metode ini mencerminkan cara shalat yang telah disepakati oleh para ulama pesantren, khususnya khas ala NU, sebuah tradisi yang tetap dilestarikan di pesantren tersebut hingga kini.

Wafat

Sang pejuang dakwah, KH. Chasan Tholabi, wafat pada tahun 1991 di rumah beliau sendiri, di Krapyak.

Warisan perjuangan dakwah dan pendidikan Al-Qur’annya terus dilanjutkan melalui Pesantren Al-Qur’an Wates (PESAWAT) yang didirikannya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker