ULAMA NUSANTARA

Biografi KH. Maftuh Basthul Birri: Sang Pendekar Al-Qur’an Lirboyo

Siapa KH. Maftuh Basthul Birri?

KH. Maftuh Basthul Birri adalah seorang ulama besar, hafidz Al-Qur’an, ahli kaligrafi, dan penulis produktif yang namanya sangat dikenal di kalangan pesantren Indonesia — khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Murottilil Qur’an (PPMQ), sebuah unit pendidikan khusus Al-Qur’an di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Di kalangan santri, beliau akrab dipanggil “Gus Maftuh” atau “Romo Kiai Maftuh”. Beliau dikenal sebagai sosok yang tidak hanya menguasai ilmu baca Al-Qur’an, tetapi juga ilmu tulis-menulis Al-Qur’an (khat atau kaligrafi Islam), fikih, nahwu, saraf, dan berbagai cabang ilmu keislaman lainnya.


Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga

KH. Maftuh Basthul Birri lahir pada tahun 1948 M di Desa Karangwuluh, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Beliau lahir dari pasangan Basthul Birri dan Muslimah, dan merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Daerah kelahiran beliau dikenal sebagai wilayah yang sederhana secara ekonomi, dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani. Namun justru dari lingkungan sederhana itulah lahir seorang ulama yang kelak dikenal luas oleh jutaan umat Islam di Indonesia.


Perjalanan Pendidikan: Dari Purworejo hingga Menjadi Ulama Besar

1. Belajar Al-Qur’an kepada Sang Ayah

Sejak kecil, Kiai Maftuh sudah menunjukkan kecintaannya pada Al-Qur’an. Setiap ba’da Maghrib dan Subuh, beliau belajar membaca Al-Qur’an langsung kepada ayahnya dengan metode talaqqi — dibacakan dulu satu halaman oleh sang ayah, kemudian diulang oleh Kiai Maftuh kecil hingga lancar.

2. Pesantren Krapyak, Yogyakarta (1961–1966)

Pada sekitar usia 14 tahun, Kiai Maftuh mengikuti gurunya, KH. Nawawi Abdul Aziz, menuju Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di sinilah beliau menghabiskan lima tahun masa belajarnya. Yang paling membanggakan, beliau berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz secara bil-ghaib di usia 17 tahun — hanya dalam waktu dua setengah tahun! Beliau menghafal di bawah bimbingan langsung KH. Ahmad Munawwir.

3. Belajar Qira’ah Sab’ah kepada KH. Nawawi Abdul Aziz

Setelah menyelesaikan hafalan, Kiai Maftuh melanjutkan belajar Qira’ah Sab’ah (tujuh ragam bacaan Al-Qur’an) kepada KH. Nawawi Abdul Aziz di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Bantul, Yogyakarta — yang juga merupakan paman beliau sendiri.

4. Tabarukan di Yanbu’ul Qur’an, Kudus

Beliau juga sempat tabarukan (mencari berkah ilmu) di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus, di hadapan KH. Arwani Amin — salah satu ulama Al-Qur’an paling terkemuka di Indonesia pada masanya.

5. Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (1966–1971)

Atas anjuran KH. Ahmad Munawwir, Kiai Maftuh melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri — yang saat itu diasuh oleh KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Ali. Selama lima tahun, beliau menyelesaikan tingkat Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah di Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (MHM) Lirboyo.

6. Pesantren Sarang, Rembang (1971–1974)

Perjalanan ilmunya dilanjutkan selama tiga tahun di Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah — salah satu pesantren terkemuka yang sangat kuat dalam pengkajian kitab kuning. Di sinilah beliau memperdalam ilmu nahwu, saraf, dan fikih secara mendalam.


Kembali ke Lirboyo: Menantu dan Pengabdi

Setelah selesai menuntut ilmu, KH. Maftuh Basthul Birri akhirnya menjadi menantu KH. Marzuqi Dahlan, salah satu kiai besar Lirboyo. Sejak itulah beliau menetap di Lirboyo dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendidik generasi penerus Al-Qur’an.


Mendirikan PPMQ: Mencetak Hafidz Berkualitas

Awal Mula Pengajian Sorogan (1977)

Pada sekitar tahun 1977 M, KH. Maftuh Basthul Birri mulai merintis pengajian Al-Qur’an dengan sistem sorogan (santri menghadap guru satu per satu). Dari pengajian sederhana itulah cikal bakal lembaga besar ini bermula.

Berdirinya PPMQ (1979–1980)

Karena jumlah santri yang terus bertambah, sekitar tahun 1979–1980 M, pengajian tersebut berkembang menjadi Pondok Pesantren Murottilil Qur’an (PPMQ) — sebuah unit resmi di bawah naungan PP. Lirboyo yang khusus membidangi pendidikan Al-Qur’an.

Struktur Jenjang Pendidikan PPMQ

PPMQ memiliki lima jenjang pendidikan yang terstruktur:

TingkatanDurasiMateri Utama
I’dadiyah½ tahunBuku Turutan, Jet Tempur, Surat Al-A’la – An-Nas
Ibtidaiyyah½ tahunPersiapan membaca Al-Qur’an, menghafal Surat Al-A’la – An-Nas
Tsanawiyyah½ tahunTajwid Fathul Mannan, Manaqib Al-Auliya, hafalan + Ghorib
Aliyyah±1,5 tahunRasm Utsmani, sorogan juz 1–30, hafalan surat-surat pendek
Sab’atul Qira’at±2 bulanBagi yang telah khatam 30 juz dan siap Takhtiman

Cabang PPMQ di Batam

Pada 16 Juni 2002, PPMQ resmi membuka cabang di Batam, Kepulauan Riau. Meski awalnya menempati lahan sederhana di belakang Dormitori Kawasan Industri Batamindo, Muka Kuning, cabang ini langsung diikuti lebih dari 600 santri. Hingga kini, cabang Batam telah berkembang pesat dengan lebih dari 4.000 santri aktif.


Keahlian Multidimensi: Lebih dari Sekadar Hafidz

KH. Maftuh Basthul Birri bukan sekadar penghafal Al-Qur’an biasa. Beliau dikenal sebagai sosok yang menguasai berbagai bidang:

  • Hafidz Al-Qur’an dengan Qira’ah Sab’ah — hafal 30 juz sekaligus menguasai tujuh ragam bacaan
  • Ahli Khat (Kaligrafi Islam) — karya kaligrafi beliau dikenal sangat indah dan termasuk dalam jajaran khaththat (ahli kaligrafi) terbaik Indonesia
  • Pejuang Rasm Utsmani — beliau gigih mendorong umat Islam Indonesia untuk menggunakan Al-Qur’an dengan tulisan Rasm Utsmani yang asli
  • Perintis LBM Lirboyo — beliau merintis Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM), forum kajian dan diskusi fikih di lingkungan PP. Lirboyo
  • Pengamal Wirid Dzikrul Ghafilin — beliau juga merupakan pengamal wirid Gus Miek dan turut menulis biografi singkat para wali dalam wirid tersebut
  • Qari’ Jantiko MANTAB — di awal berdirinya semaan Al-Qur’an “Jantiko MANTAB”, beliau aktif sebagai qari’ untuk wilayah Kediri dan sekitarnya

Karya-Karya KH. Maftuh Basthul Birri

Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal setingkat universitas, beliau adalah seorang penulis yang sangat produktif. Puluhan karyanya dicetak berulang kali karena tingginya permintaan. Berikut karya-karya beliau yang paling dikenal:

  1. Hidangan Segar Al-Qur’an — tentang keutamaan dan kewajiban belajar Al-Qur’an
  2. Persiapan Membaca Al-Qur’an dengan Rasm Utsmani — panduan membaca dengan tulisan Utsmani
  3. Mari Memakai Al-Qur’an Rasm ‘Utsmaniy (RU) — kajian tulisan Al-Qur’an dan pembangkit generasinya (dianggap sebagai masterpiece beliau)
  4. Al-Qur’an Bonus yang Terlupakan — metode canggih mengaji dan mengajar Al-Qur’an
  5. Fath al-Mannan — kitab tajwid lengkap berbahasa Jawa (Arab pegon), diterbitkan CV. Ihsan Surabaya
  6. Standar Tajwid Bacaan Al-Qur’an — terjemahan Indonesia dari Fath al-Mannan
  7. Mental Khataman Al-Qur’an — panduan mental dan spiritual khataman
  8. Reformasi Menurut Al-Qur’an — perspektif Al-Qur’an tentang reformasi
  9. Manaqib al-Auliya’ al-Khamsin — biografi 50 wali Allah (berbahasa Arab)
  10. Manaqib 50 Wali Agung — terjemahan Indonesia dari buku di atas
  11. Jet Tempur — buku turutan/primer mengaji Al-Qur’an untuk anak-anak pemula

Shalawat “Mengajilah Al-Qur’an”: Warisan Lirik yang Menyentuh

Salah satu warisan spiritual KH. Maftuh Basthul Birri yang paling dikenal luas adalah Shalawat Mengajilah Al-Qur’an, sebuah karya yang menggabungkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW dengan ajakan semangat belajar Al-Qur’an:

“Al-Qur’an penuh berkah, mengajilah biar gagah…”
“Ngaji Qur’an tidak mudah, janganlah dianggap mudah…”
“Baca tulisan bukanlah ngaji, bahkan harus sampai hafal pandai…”

Lirik shalawat ini mencerminkan kegelisahan sekaligus harapan beliau agar umat Islam tidak sekadar “bisa membaca” Al-Qur’an, tapi benar-benar memahami, menghafal, dan mengamalkannya dengan tartil.


Wafatnya Sang Pendekar Al-Qur’an

KH. Maftuh Basthul Birri wafat pada Rabu, 4 Desember 2019, dalam usia 71 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo dan masyarakat Islam Indonesia yang lebih luas.

Namun warisan beliau — ribuan hafidz-hafidzah, puluhan karya tulis, dan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang terus berkembang — akan terus hidup dan memberi manfaat bagi generasi demi generasi.


Warisan yang Terus Hidup

Hari ini, PPMQ Lirboyo terus berkembang dengan ribuan santri aktif baik di Kediri maupun di Batam. Kitab-kitab karya KH. Maftuh Basthul Birri, terutama Fath al-Mannan dan Mari Memakai Al-Qur’an Rasm Utsmani, masih menjadi rujukan utama di ratusan pesantren dan lembaga pendidikan Al-Qur’an di seluruh Indonesia.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan menempatkan beliau di antara para hamba-Nya yang mulia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.


Informasi Cepat (Quick Facts)

KeteranganDetail
Nama LengkapKH. Muhammad Maftuh Basthul Birri
Lahir1948 M, Karangwuluh, Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah
Wafat4 Desember 2019, Kediri, Jawa Timur
Usia saat wafat71 tahun
Orang tuaBasthul Birri & Muslimah
MertuaKH. Marzuqi Dahlan (Lirboyo)
Lembaga yang didirikanPP. Murottilil Qur’an (PPMQ) Lirboyo
Keahlian utamaHafidz, Qira’ah Sab’ah, Khat, Fikih, Tajwid
Karya terkenalFath al-Mannan, Mari Memakai Al-Qur’an Rasm Utsmani

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker