
Mengenal KH. R. Abdurrohim atau Mbah Durohim, ulama zuhud asal Solo yang menjadi Rais Syuriyah dan Mustasyar PCNU Kota Surakarta, ahli fiqih mazhab empat, dan modin Keraton Surakarta.
Siapa KH. R. Abdurrohim (Mbah Durohim)?
KH. R. Abdurrohim, atau yang lebih akrab disapa Mbah Durohim, adalah seorang ulama besar asal Solo yang dikenal karena keilmuannya di bidang fiqih, kesederhanaan hidupnya, serta peran besarnya di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Kota Surakarta.
Beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah sekaligus kemudian sebagai Mustasyar PCNU Kota Surakarta — dua posisi tertinggi dalam struktur kepengurusan NU di tingkat kota. Di balik gelar dan jabatannya, Mbah Durohim dikenal sebagai sosok yang jauh dari kemewahan dunia, seorang ulama sejati yang mewariskan ilmu, bukan harta.
Kelahiran dan Masa Kecil yang Penuh Ujian
KH. R. Abdurrohim lahir di Gandekan, Jebres, Solo, sebagai putra dari Abi Hasan. Sejak usia sangat dini, beliau sudah menghadapi cobaan yang berat: pada usia 5 tahun, kedua orang tuanya telah wafat, meninggalkannya sebagai yatim piatu.
Cucu beliau, Gus Ahmad Zawawi Suryo Buwono, menuturkan:
“Simbah Kiai Abdurrohim sejak umur 5 tahun sudah yatim piatu, kemudian diasuh oleh Pakdhe dan Budhenya.”
Kehilangan kedua orang tua di usia semuda itu tidak mematahkan semangat beliau. Justru di bawah asuhan pakdhe dan budhenya, Abdurrohim kecil tumbuh menjadi anak yang tekun dan haus ilmu.
Pendidikan: Nyantri dari Pesantren ke Pesantren
KH. R. Abdurrohim menempuh pendidikannya dengan cara yang lazim di kalangan ulama tradisional: berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mendalami berbagai cabang ilmu agama Islam.
Dedikasi dan ketekunannya dalam menuntut ilmu mengantarkan beliau pada pengakuan yang luar biasa: beliau diangkat menjadi modin (ulama) Keraton Surakarta. Atas jabatan bergengsi tersebut, nama beliau mendapat tambahan gelar Raden di depannya — sebuah penghargaan dari keraton yang tidak diberikan sembarangan.
Teladan Kesederhanaan: Ulama yang Zuhud
Di antara sekian banyak sifat mulia yang melekat pada diri Mbah Durohim, kezuhudan adalah yang paling dikenang. Beliau menjalani hidup dengan sangat sederhana, jauh dari kemewahan, meski memiliki kedudukan tinggi baik di keraton maupun di organisasi NU.
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah ketika anak beliau menawarkan untuk membelikannya sebuah rumah — dan Mbah Durohim menolak tawaran itu.
Saat beliau wafat, hampir tidak ada harta benda yang ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah dua almari besar, dan keduanya penuh berisi kitab-kitab — bukan barang berharga secara materi, tetapi itulah warisan yang paling berharga menurut pandangan seorang alim.
Kisah ini menjadi cermin nyata dari sabda para ulama: “Ulama adalah pewaris para nabi” — yang diwariskan bukan emas atau perak, melainkan ilmu.
Keahlian Fiqih dan Cara Beliau Menjawab Persoalan Umat
Mbah Durohim dikenal luas sebagai ahli ilmu fiqih yang mumpuni. Gus Zawawi menggambarkan metode beliau dalam menjawab pertanyaan umat:
“Setiap ada permasalahan yang berkaitan dengan syariat, selalu dijawab dengan ucapan: menurut Imam mazhab empat itu begini…”
Pendekatan ini mencerminkan sikap ilmiah yang adil dan komprehensif — tidak fanatik pada satu mazhab, tetapi menyajikan pandangan dari keempat imam mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) agar umat bisa memahami keluasan syariat Islam.
Peran di Nahdlatul Ulama (NU) Kota Surakarta
KH. R. Abdurrohim memainkan peran yang sangat penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di Kota Solo. Dua jabatan strategis yang pernah beliau emban:
1. Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta
Rais Syuriyah adalah pemimpin tertinggi dalam struktur Syuriyah NU — dewan ulama yang menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan organisasi. Kepercayaan ini diberikan kepada beliau karena keilmuan dan integritas yang tidak diragukan.
2. Mustasyar PCNU Kota Surakarta
Di penghujung hidupnya, Mbah Durohim mengemban amanah sebagai Mustasyar — dewan penasihat tertinggi NU di tingkat kota. Posisi ini biasanya diisi oleh para sesepuh ulama yang menjadi rujukan moral dan spiritual organisasi.
Warisan yang Tak Ternilai
Kepergian KH. R. Abdurrohim meninggalkan warisan yang tak bisa diukur dengan materi. Beliau mewariskan:
- Ilmu fiqih yang mendalam dan cara pandang yang luas terhadap syariat Islam
- Keteladanan hidup zuhud yang relevan di segala zaman
- Pengabdian tanpa pamrih kepada umat melalui jalur NU
- Semangat nyantri — bahwa ilmu harus dicari dengan sungguh-sungguh, bukan diperoleh dengan mudah
Sosok Mbah Durohim adalah pengingat bahwa seorang ulama sejati diukur bukan dari banyaknya harta, melainkan dari dalamnya ilmu dan mulianya akhlak.








