ULAMA NUSANTARA

KH. Gholib: Ulama Pendiri Madrasah di Pringsewu Di Lampung

KH. Gholib adalah seorang ulama besar asal Jawa Timur yang dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam di Pringsewu, Lampung. Melalui madrasah dan pesantren yang beliau dirikan, ribuan santri dari berbagai daerah di Sumatera berhasil mengenyam pendidikan agama secara gratis. Kisah perjuangan beliau menjadi inspirasi nyata tentang bagaimana seorang ulama dapat mengubah wajah sebuah daerah melalui ilmu dan akhlak mulia.


Biografi Singkat KH. Gholib

Kelahiran dan Keluarga

KH. Gholib lahir pada tahun 1899 di Desa Mojosantren, Sidoarjo, Jawa Timur. Beliau adalah putra dari pasangan K. Rohani bin K. Nursihan dan ibunya bernama Muksiti. Dari lingkungan keluarga yang religius inilah, benih kecintaan beliau terhadap ilmu agama mulai tumbuh.

Pendidikan Sejak Dini

Sejak kecil, KH. Gholib sudah akrab dengan pendidikan agama Islam. Ilmu agama pertama kali beliau terima langsung dari kedua orang tuanya di rumah. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah yang berada di desa kelahirannya, Mojosantren, Sidoarjo.


Mendirikan Madrasah di Pringsewu, Lampung

Salah satu jejak terbesar KH. Gholib adalah mendirikan lembaga pendidikan Islam di kawasan Bambu Seribu atau yang kini dikenal sebagai Pringsewu, Provinsi Lampung.

Madrasah yang beliau bangun pada awalnya sangat sederhana, hanya mampu menampung sekitar 20 orang siswa. Bangunannya terdiri dari tiga lokal dengan lantai tanah, dinding geribik (anyaman bambu), dan beratap genteng. Guru pertama yang mengajar di madrasah ini adalah H. M. Nuh, seorang pendidik asal Cianjur, Jawa Barat.

Bertahan dan Berkembang di Masa Penjajahan Jepang

Pada tahun 1942, saat Jepang menjajah Indonesia, banyak lembaga pendidikan yang terpaksa tutup atau terganggu. Namun, madrasah KH. Gholib tetap berjalan bahkan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ini menjadi bukti nyata ketangguhan dan komitmen beliau terhadap keberlangsungan pendidikan Islam.

Berkembang Menjadi Pesantren

Seiring bertambahnya jumlah santri dan kedatangan guru-guru baru dari Jawa maupun dari Lampung, KH. Gholib kemudian mendirikan pesantren sebagai kelanjutan dari madrasah. Pesantren ini berhasil menarik minat belajar hingga mencapai ±1.000 murid yang berasal dari berbagai daerah, antara lain:

  • Lampung
  • Palembang
  • Bengkulu
  • Jambi

Kurikulum dan Mata Pelajaran di Madrasah KH. Gholib

Madrasah yang didirikan KH. Gholib tidak hanya mengajarkan ilmu dasar agama, tetapi juga membangun karakter dan disiplin ibadah para santrinya. Beberapa kompetensi yang dikembangkan meliputi:

  • Bahasa Arab — sebagai bahasa utama dalam kajian Islam
  • Nahwu dan Shorof — ilmu tata bahasa Arab yang menjadi fondasi membaca kitab kuning
  • Tilawah Al-Qur’an — membaca Al-Qur’an dengan fasih dan lagu yang merdu
  • Kedisiplinan Ibadah — setiap siswa dan guru diwajibkan melaksanakan shalat berjamaah di masjid ketika tiba waktu shalat

Pendidikan Gratis untuk Semua

Salah satu hal yang paling menonjol dari madrasah KH. Gholib adalah semua santri belajar tanpa dipungut biaya apapun. Seluruh kebutuhan operasional madrasah dan pesantren, termasuk kebutuhan para guru, ditanggung langsung oleh KH. Gholib dari kekayaan pribadinya. Beliau mendedikasikan hartanya sepenuhnya untuk kemajuan pendidikan Islam di Pringsewu.


Dampak Sosial Kehadiran Lembaga Pendidikan Islam

Kehadiran madrasah dan pesantren KH. Gholib membawa dampak positif yang nyata bagi masyarakat sekitar Pringsewu. Salah satu dampak yang paling mencolok adalah berkurangnya angka pencurian dan kejahatan di sekitar desa Pringsewu. Ini membuktikan bahwa pendidikan Islam yang kuat mampu membentuk lingkungan sosial yang lebih aman dan berakhlak.


KH. Gholib sebagai Teladan Ulama

KH. Gholib bukan hanya dikenal sebagai pendidik, tetapi juga sebagai sosok teladan yang disegani oleh seluruh lapisan masyarakat. Beberapa sikap mulia yang beliau tunjukkan antara lain:

  • Tidak membeda-bedakan golongan, status sosial, maupun latar belakang seseorang
  • Sangat menyayangi kaum fakir miskin dan anak yatim piatu
  • Selalu menjaga hubungan baik dan bergaul dengan masyarakat sekitar

Sikap-sikap inilah yang menjadikan KH. Gholib bukan sekadar ulama biasa, tetapi juga pemimpin masyarakat yang hidup di antara rakyatnya.


Kesimpulan

KH. Gholib adalah contoh nyata seorang ulama yang tidak hanya berperan dalam urusan agama, tetapi juga menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan dan sosial masyarakat. Perjuangan beliau mendirikan madrasah dan pesantren di Pringsewu — dari bangunan sederhana berdinding geribik hingga menjadi lembaga yang mendidik ribuan santri — adalah warisan tak ternilai bagi sejarah Islam di Lampung.

Kisah KH. Gholib mengingatkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqomah.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker