
Jika berbicara tentang ulama Indonesia yang paling berjasa dalam menyebarkan ilmu Al-Qur’an, nama KH. M. Munawwir Krapyak tidak bisa dilewatkan. Beliau adalah seorang hafidz Al-Qur’an sekaligus ahli qira’ah sab’ah (tujuh bacaan Al-Qur’an) yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta — salah satu pesantren Al-Qur’an tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.
Ketekunan, kesabaran, dan kecintaannya yang luar biasa terhadap Al-Qur’an menjadikan beliau sosok panutan yang terus dikenang hingga hari ini. Ribuan ulama dan hafidz di Nusantara merupakan buah dari perjuangan beliau dalam mendidik santri-santri penerus.
Profil Singkat KH. M. Munawwir {#profil-singkat}
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | KH. Muhammad Munawwir |
| Tempat Lahir | Kauman, Yogyakarta |
| Wafat | 11 Jumadil Akhir 1942 M, Krapyak, Yogyakarta |
| Ayah | KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari |
| Pesantren | Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (didirikan 1910 M) |
| Keahlian | Hafidz Al-Qur’an, Qira’ah Sab’ah |
| Dimakamkan | Pemakaman Dongkelan, ±2 km dari Pesantren Krapyak |
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga {#kelahiran}
KH. M. Munawwir lahir di Kauman, Yogyakarta, dari pasangan KH. Abdullah Rosyad dan Ibu Khadijah. Keluarga beliau memiliki sejarah panjang dalam dunia keagamaan — kakek beliau, KH. Hasan Bashari, bahkan pernah menjadi ajudan Pangeran Diponegoro.
Ada kisah menarik yang menjadi latar belakang lahirnya seorang hafidz seperti KH. M. Munawwir. Kakek beliau, KH. Hasan Bashari, sejak lama sangat ingin menghafal Al-Qur’an. Namun setiap kali mencoba, selalu terasa berat. Setelah melakukan riyadhah dan mujahadah dengan tekun, Allah SWT mengilhamkan kepadanya bahwa keinginan itu akan terwujud pada keturunannya kelak.
Hal serupa juga dialami oleh ayahanda, KH. Abdullah Rosyad. Selama 9 tahun beliau berjuang menghafal Al-Qur’an di Tanah Suci Makkah. Pada akhirnya, beliau mendapat ilham bahwa yang akan dianugerahi hafalan Al-Qur’an adalah anak-cucunya. Dan terbuktilah — do’a dan mujahadah tiga generasi itu berbuah pada diri KH. M. Munawwir.
Beliau memiliki 5 orang istri yang dinikahi secara bertahap setelah istri pertama wafat. Dari pernikahan-pernikahan tersebut, lahirlah putra-putri penerus perjuangan beliau:
- KH. Abdullah Affandi Munawwir
- KH. Zainal Abidin Munawwir
- KH. Warson Munawwir (penyusun Kamus Al-Munawwir)
- KH. Dalhar Munawwir
- KH. R. Abdul Qadir Munawwir
- Nyai Hj. Hindun Munawwir
- Nyai Hj. Jauharoh Munawwir
- KH. Ahmad Munawwir
- KH. Zaini Munawwir
Perjalanan Menuntut Ilmu {#pendidikan}
Sejak kecil, KH. M. Munawwir sudah ditempa dalam didikan agama yang ketat oleh ayahnya. Sebagai penyemangat agar rajin membaca Al-Qur’an, sang ayah memberikan hadiah uang sebesar Rp. 2,50 setiap kali anaknya berhasil khatam dalam satu minggu. Yang menakjubkan, kebiasaan membaca Al-Qur’an ini terus berjalan bahkan setelah hadiah sudah tidak diberikan lagi.
Selain belajar dari ayahnya, beliau juga berguru kepada sejumlah ulama besar di Jawa:
- KH. Abdullah — Kanggotan, Bantul
- KH. Kholil — Bangkalan, Madura
- KH. Shalih Darat — Semarang
- KH. Abdurrahman — Watucongol, Magelang
Belajar 21 Tahun di Tanah Suci (1888–1909 M)
Pada tahun 1888 M, KH. M. Munawwir berangkat ke Makkah dan Madinah untuk memperdalam ilmu Al-Qur’an. Selama 21 tahun di Haramain, beliau berguru kepada para syaikh terkemuka, di antaranya Syaikh Abdullah Sanqara, Syaikh Syarbini, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Manshur, Syaikh Abdus Syakur, Syaikh Mushthafa, dan Syaikh Yusuf Hajar sebagai guru utama dalam qira’ah sab’ah.
Dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, tepatnya di Rabigh, beliau bertemu seorang tua yang tidak dikenalnya. Orang tua itu mengajak berjabat tangan, dan beliau pun memohon didoakan agar menjadi hafidz Al-Qur’an yang sejati. Orang tua itu menjawab: “Insya Allah.” Menurut KH. Arwani Amin (Kudus), orang tua misterius itu tidak lain adalah Nabiyullah Khidir AS.
Riyadhah Menghafal yang Luar Biasa
KH. M. Munawwir tidak sekadar menghafal — beliau menghafal dengan riyadhah yang sangat berat secara bertahap:
- Khatam Al-Qur’an dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun
- Khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun berikutnya
- Khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun berikutnya
- Riyadhah membaca Al-Qur’an selama 40 hari tanpa henti hingga mulut beliau berdarah
Proses menghafal awal pun terbilang luar biasa — seluruh 30 juz Al-Qur’an berhasil diselesaikan hanya dalam 40 hingga 70 hari. Beliau kemudian kembali ke Yogyakarta pada tahun 1909 M setelah dua dekade menimba ilmu.
Hidup Bersama Al-Qur’an {#hidup-bersama-al-quran}
Bagi KH. M. Munawwir, Al-Qur’an bukan sekadar hafalan — melainkan nafas kehidupan sehari-hari. Beberapa kebiasaan mulia beliau:
- Rutin membaca wirid Al-Qur’an setiap ba’da Ashar dan ba’da Shubuh.
- Mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap minggu, pada hari Kamis sore — kebiasaan ini dimulai sejak usia 15 tahun.
- Walau sudah hafal di luar kepala, beliau tetap membuka Mushaf sebagai bentuk penghormatan kepada kitab Allah.
- Kemanapun pergi — berjalan kaki maupun berkendara — wirid Al-Qur’an tidak pernah putus.
Standar beliau terhadap seorang hafidz sangat tinggi. Bagi beliau, hafidz yang sejati adalah orang yang bertakwa kepada Allah dan mampu shalat Tarawih dengan hafalan Al-Qur’an sebagai bacaannya.
Sikap hormat beliau terhadap Al-Qur’an begitu besar. Undangan Haflah Khatmil Qur’an hanya beliau sampaikan kepada mereka yang selalu dalam keadaan suci (berwudhu) ketika memegang Mushaf. Bahkan seorang santri pernah dikeluarkan dari pesantren karena terbukti memegang Mushaf dalam keadaan berhadas — meskipun santri tersebut sudah hafal 23,5 juz.
Mendirikan Pesantren Al-Munawwir Krapyak {#pesantren}
Sepulang dari Makkah pada 1909 M, KH. M. Munawwir langsung memulai dakwah Al-Qur’an di sekitar kediaman beliau di Kauman — tepatnya di sebuah langgar kecil milik beliau.
Atas saran KH. Sa’id (Pengasuh Pesantren Gedongan, Cirebon), pada tahun 1910 M beliau berhijrah ke daerah Krapyak. Di atas tanah yang awalnya milik Bapak Jopanggung — kemudian dibeli dengan uang amal dari Haji Ali — dibangunlah kompleks pesantren dan tempat tinggal.
Pada 15 November 1910, Pesantren Krapyak resmi mulai beroperasi untuk mengajarkan Al-Qur’an. Pembangunan berlanjut secara bertahap — masjid, akses jalan, hingga gedung santri — hingga tahun 1930 M.
Krapyak sebelum hadirnya pesantren dikenal sebagai daerah yang rawan dan sedikit yang menjalankan ajaran Islam. Berbagai rintangan dari kelompok klenik pun datang menghadang. Namun semua itu musnah — dan Krapyak berubah menjadi kawasan yang semarak dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Metode Pengajaran
Sistem mengajar beliau adalah Musyafahah (Sorogan) — setiap santri membaca langsung di hadapan beliau, dan jika ada kesalahan langsung dikoreksi saat itu juga. Pengajaran Al-Qur’an dibagi dua jalur:
- Bin-Nadzor — belajar membaca Al-Qur’an dengan melihat Mushaf
- Bil-Ghaib — menghafal Al-Qur’an
Santri yang telah khatam mendapat Ijazah resmi berisi pengakuan keilmuan dari guru beserta Sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.
Murid-murid beliau kemudian menyebar ke seluruh penjuru Nusantara dan mendirikan pesantren masing-masing, di antaranya KH. Arwani Amin (Kudus), KH. Muntaha (Wonosobo), KH. Ahmad Umar (Solo), dan KH. Abdul Hamid Hasbullah (Tambakberas).
Kisah Teladan Beliau {#teladan}
Kehidupan KH. M. Munawwir sehari-hari mencerminkan akhlak seorang alim yang tulus dan bersahaja:
- Selalu shalat di awal waktu, lengkap dengan shalat sunnah Rawatib, Isyraq, Dhuha, dan Tahajjud.
- Shalat Witir dikerjakan 11 rakaat dengan hafalan Al-Qur’an sebagai bacaannya.
- Tidak pernah makan sampai kenyang — di bulan Ramadhan, cukup satu cawan nasi ketan untuk sekali makan.
- Pakaian sederhana namun selalu rapi dan bersih: jubah, sarung, sorban, kopyah, dan tasbih.
- Jika ada titipan atau sumbangan yang bersisa, beliau kembalikan kepada pemberinya.
Kepada santri, beliau sangat penyayang dan nyaris tidak pernah marah. Ada kisah yang menggambarkan kesabaran beliau: suatu ketika saat beliau sedang tiduran di depan kamar santri, seorang santri tiba-tiba menarik bantalnya hingga kepala beliau mengenai lantai. Alih-alih marah, beliau memanggil santri itu dengan tenang dan berkata:
“Nak… saya pinjam bantalmu, karena bantal yang saya pakai baru saja diambil oleh seorang santri.”
Beliau juga sering memberi uang saku kepada santri yang pulang kampung, dan menganjurkan para santri untuk bertamasya keluar pesantren sekali setiap setengah bulan agar tidak jenuh dalam belajar.
Karomah KH. M. Munawwir {#karomah}
1. Mengajar Sambil Tidur
Salah satu hal yang paling mengagumkan dari beliau adalah kebiasaan mengajar sambil tiduran — bahkan kadang benar-benar tertidur. Namun setiap kali ada santri yang salah dalam bacaan, beliau langsung bangun dan mengoreksinya dengan tepat. Seolah-olah tidak ada satu pun kesalahan yang luput dari pendengaran beliau.
2. Diakui KH. Kholil Bangkalan Sejak Kecil
Saat berusia 10 tahun, KH. M. Munawwir mondok kepada KH. Kholil Bangkalan, Madura. Begitu tiba dan waktu shalat datang, KH. Kholil tiba-tiba menolak menjadi imam dan berkata:
“Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (KH. M. Munawwir). Walaupun ia masih kecil, tetapi ia adalah ahli qira’at.”
3. Menghafal 30 Juz dalam Waktu Singkat
Ketika di Tanah Suci, KH. M. Munawwir mengirim surat kepada ayahnya menyatakan niat untuk menghafal Al-Qur’an. Sang ayah belum sempat membalas — tapi surat kedua sudah datang lebih dahulu dengan kabar mengejutkan: “Ananda sudah terlanjur hafal.” Seluruh 30 juz berhasil beliau hafalkan hanya dalam 40 hingga 70 hari.
4. Sembuhnya Seorang Anak dari Cadel
Kiai Aqil Sirodj dari Kempek, Cirebon, semasa kecilnya sekitar usia 8 tahun tidak bisa mengucapkan huruf “R” dengan jelas. Setelah meminum air bekas cucian tangan KH. M. Munawwir, ia langsung bisa melafalkan “R” dengan sempurna.
5. Kewafatan yang Mengikut Ulama Lain
Ketika KH. Abdullah Anshar (Gerjen, Sleman) mendengar kabar wafatnya KH. M. Munawwir, ia menangis dan berkata tidak sanggup lagi hidup di dunia tanpa beliau. Sesampainya di rumah, KH. Abdullah pun wafat menyusul — seolah tak rela berpisah dari gurunya.
Wafat dan Warisan Beliau {#wafat}
KH. M. Munawwir menderita sakit selama 16 hari. Awalnya ringan, namun semakin hari semakin berat. Tiga hari terakhir beliau tidak tidur sama sekali. Selama sakit, rombongan santri bergantian melantunkan Surat Yasin sebanyak 41 kali tanpa henti.
Beliau wafat pada ba’da Jum’at, tanggal 11 Jumadil Akhir 1942 M, di kompleks Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Saat menghembuskan nafas terakhir, beliau hanya ditunggui oleh seorang putrinya, Nyai Jamalah.
Shalat jenazah dilaksanakan secara bergiliran karena begitu membludaknya jamaah yang berta’ziah. Bertindak sebagai imam adalah tiga ulama besar: KH. Manshur (Popongan, Solo), KH. R. Asnawi (Kudus), dan KH. Ma’shum (Lasem).
Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Dongkelan, sekitar 2 km dari kompleks pesantren. Sepanjang jalan, ribuan kaum muslimin memadati jalanan — keranda jenazah bahkan cukup “dioperkan” dari tangan ke tangan sepanjang perjalanan. Selama lebih dari satu minggu setelah pemakaman, pusara beliau tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk membacakan Al-Qur’an.
Warisan Abadi: KH. M. Munawwir meninggalkan warisan yang terus hidup hingga kini — Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang telah melahirkan ribuan hafidz dan ulama, sanad keilmuan Al-Qur’an yang tersambung hingga Rasulullah SAW, serta nilai-nilai keteladanan dalam mencintai dan menghormati Kitab Allah. Beliau adalah bukti nyata bahwa kesungguhan dan do’a lintas generasi pasti akan berbuah mulia.








