
Nyai Mariam Kanta Sumpena adalah tokoh perempuan Nahdlatul Ulama asal Tasikmalaya yang menjadi anggota parlemen dari Fraksi NU pada Pemilu 1955. Kenali perjuangan dan kiprahnya di sini.
Siapa Nyai Mariam Kanta Sumpena?
Nyai Mariam Kanta Sumpena adalah seorang tokoh perempuan Islam yang lahir pada Agustus 1927 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah salah satu figur perempuan paling berpengaruh dalam sejarah awal Nahdlatul Ulama — seorang pendidik, pemimpin organisasi, aktivis politik, dan wakil rakyat yang menapaki semua peran itu di tengah era yang belum berpihak penuh pada kaum perempuan.
Perjalanan hidupnya adalah bukti nyata bahwa perempuan ulama pun mampu berdiri di garis terdepan perjuangan bangsa dan agama.
Pendidikan
Nyai Mariam memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat Gadis, kemudian melanjutkan ke Perguruan Muchtariah hingga jenjang Tamhidul Mu’allimin — sebuah jenjang pendidikan keguruan Islam yang membekalinya dengan ilmu agama sekaligus keterampilan mengajar.
Bekal pendidikan inilah yang kemudian ia abdikan sepenuhnya untuk masyarakat, khususnya generasi muda Muslim.
Karier sebagai Pendidik
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nyai Mariam mengabdikan diri sebagai guru agama di Bandung. Dua sekolah rakyat menjadi tempat ia mendidik generasi penerus bangsa:
- 1941–1945 — Mengajar agama di Sekolah Rakyat Nomor 39
- 1951–1956 — Mengajar agama di Sekolah Rakyat Raden Dewi
Dedikasinya di dunia pendidikan tidak pernah berhenti meski aktivitasnya di organisasi dan politik terus berkembang. Bagi Nyai Mariam, mendidik adalah panggilan yang tidak bisa ditinggalkan.
Kepemimpinan di Organisasi Perempuan Islam
Di sela-sela kesibukannya mengajar, Nyai Mariam tampil sebagai pemimpin organisasi perempuan yang aktif dan dipercaya. Dua jabatan penting ia emban sekaligus:
- 1942–1946 — Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Puteri Cabang Bandung
- Pada periode yang sama, ia juga menjabat sebagai Ketua Umum Pemudi NU Cabang Bandung
Kemampuannya memimpin dua organisasi besar sekaligus mencerminkan kapasitas dan kepercayaan yang luar biasa dari komunitas Muslim Bandung pada sosoknya.
Peran di Nahdlatul Ulama
Kiprah Nyai Mariam di tubuh Nahdlatul Ulama dimulai sejak masa NU bergabung dengan Masyumi. Ia merintis jalan dari bawah, membangun pengalaman dan jaringan yang kelak membawanya ke panggung nasional:
- 1947–1951 — Menjabat sebagai Sekretaris Masyumi Daerah Priangan
- Pada waktu bersamaan, ia juga menjadi Sekretaris Muslimat NU Cabang Bandung
- 1951 — Naik jabatan menjadi Wakil Ketua Konsul Muslimat NU Jawa Barat
Jabatan terakhir ini ia emban hingga datang panggilan yang lebih besar: menjadi wakil rakyat di parlemen nasional dengan Nomor Anggota 195.
Menembus Parlemen: Pemilu 1955
Puncak perjalanan politik Nyai Mariam Kanta Sumpena adalah keterpilihannya sebagai anggota parlemen dalam Pemilu 1955 — pemilu demokratis pertama dalam sejarah Indonesia.
Ia terpilih melalui Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah dan duduk sebagai anggota Fraksi Nahdlatul Ulama di parlemen. Sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang perempuan dari daerah pada era tersebut.
Menariknya, meskipun terpilih dari dapil Jawa Tengah, Nyai Mariam sejatinya adalah sosok yang tumbuh, berjuang, dan dikenal luas di Jawa Barat — menunjukkan betapa besar kepercayaan NU secara nasional terhadap dirinya.
Warisan Nyai Mariam Kanta Sumpena
Nyai Mariam Kanta Sumpena adalah representasi dari perempuan Muslim Indonesia yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga berani terlibat dalam ruang publik dan politik. Di era ketika keterwakilan perempuan masih sangat terbatas, ia telah mebuktikan bahwa ulama perempuan pun bisa menjadi pemimpin organisasi, pendidik bangsa, sekaligus wakil rakyat.
Kisahnya adalah inspirasi yang relevan hingga hari ini — bagi setiap perempuan Muslim yang ingin berkontribusi nyata bagi agama, masyarakat, dan bangsanya.
Kesimpulan
Dari ruang kelas di Bandung hingga kursi parlemen nasional, Nyai Mariam Kanta Sumpena menjalani hidup yang penuh pengabdian. Ia adalah guru, pemimpin organisasi, dan politisi yang menyatukan nilai-nilai Islam dan semangat kebangsaan dalam satu perjuangan. Namanya layak dikenang sebagai salah satu pelopor perempuan Islam Indonesia yang paling berpengaruh di abad ke-20.







