ULAMA NUSANTARA

KH A. Qulyubi: Perintis Nahdlatul Ulama di Tanah Sunda

KH A. Qulyubi, yang akrab disapa Ajengan Unung, adalah salah satu ulama berpengaruh dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai salah satu perintis Nahdlatul Ulama (NU) di Tanah Sunda dan memiliki garis keturunan yang tersambung hingga ke Sultan Agung Mataram — salah satu raja terbesar dalam sejarah Nusantara.


Profil Singkat Ajengan Unung

KeteranganDetail
Nama LengkapKH Ahmad Qulyubi
Nama PanggilanAjengan Unung
Lahir± 1891 M, Kampung Madewangi, Tasikmalaya
PendidikanMakkah Al-Mukarromah (1912–1916)
PeranPerintis dan pengurus pertama NU Tasikmalaya
NasabTersambung ke Sultan Agung Mataram

Kelahiran

KH A. Qulyubi atau Ajengan Unung lahir sekitar tahun 1891 M di Kampung Madewangi, Tasikmalaya. Sejak kecil, lingkungan keagamaan yang kuat membentuk karakter dan semangat keilmuannya, yang kelak membawanya jauh merantau ke Tanah Suci untuk mendalami ilmu agama Islam.


Nasab dan Silsilah Keturunan

Salah satu hal yang menjadikan sosok Ajengan Unung istimewa adalah garis nasabnya yang panjang dan terhormat. Berdasarkan buku Ringkasan Riwayat Hidup Ajengan Unung yang ditulis oleh putranya, KH. Ahmad Thabibudin, pada 27 November 1955, silsilah Ajengan Unung terhubung hingga ke Sultan Agung Mataram — bahkan ada catatan yang menghubungkannya pula dengan lingkaran keluarga Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Silsilah Lengkap Ajengan Unung

Berikut adalah urutan silsilah beliau dari bawah ke atas:

Ajengan Unung (KH Ahmad Qulyubi)

→ bin Abdulghani (Asiam / Icong)

→ bin Natawijaya (Bapa Lijam)

→ bin Iskin

→ bin Katam Jiwaraga (Aki Dukun)

→ bin Kiai Raden Mas Narawulan (Bagus Jamri, putra Dalem Suniawenang Cineam, Tasikmalaya)

→ bin Rd. Mas Sutanagara di Sukasindang, Setia Mulya

→ bin Rd. Mas Wisonajaya

→ bin Rd. Mas Prabu Singajiwakusumah (dimakamkan di Cipajaran, Tamanjaya / Gobras, Cibeureum, Tasikmalaya)

→ bin Rd. Mas Rangsang (Rd. Mas Cakrakusumah) — Sultan Agung Mataram, bergelar Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Abdurrohman Sayyidin Panatagama

→ bin Rd. Mas Jolang (Panembahan Seda Krapyak), Sultan Mataram

→ bin Sutawijaya (Senapati Adiwijaya, Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya / Jaka Tingkir di Pajang)

→ bin Kiai Ageng Pamanahan, Kepala Daerah Mataram

Silsilah ini menempatkan Ajengan Unung sebagai salah satu keturunan dari dinasti penguasa Mataram Islam, sebuah garis keturunan yang membawa tanggung jawab besar dalam menjaga dan menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.


Pendidikan di Makkah

Untuk membekali dirinya dengan ilmu yang mumpuni, Ajengan Unung pergi menuntut ilmu ke Tanah Suci Makkah pada tahun 1912 dan menetap di sana hingga tahun 1916 — selama empat tahun penuh. Di pusat keilmuan Islam tersebut, beliau mendalami berbagai disiplin ilmu agama yang kelak menjadi bekal utamanya dalam berdakwah dan membangun umat di Tasikmalaya.


Perintis NU di Tanah Sunda

Salah satu peran terpenting Ajengan Unung dalam sejarah Islam di Jawa Barat adalah keterlibatannya sebagai perintis Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya.

Berdasarkan buku A.E. Bunyamin, Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa, NU pertama kali diperkenalkan ke Tasikmalaya oleh Ajengan Fadil sekitar tahun 1928. Ajengan Fadil adalah seorang kiai dari daerah Cikotok (kini masuk wilayah Kabupaten Ciamis) yang kemudian menetap di Nagarawangi, Tasikmalaya.

Rapat pendirian NU Tasikmalaya pun berlangsung pertama kali di rumah Ajengan Fadil. Dalam momen bersejarah itulah, KH A. Qulyubi (Ajengan Unung) menjadi salah satu ulama yang pertama kali bergabung dan masuk dalam jajaran pengurus NU Tasikmalaya — menjadikannya salah satu tokoh peletak batu pertama organisasi ahlussunnah wal jamaah terbesar di Tanah Sunda.


Warisan dan Makna Perjuangan

Ajengan Unung adalah potret sempurna dari ulama Sunda yang menggabungkan kedalaman ilmu, kemuliaan nasab, dan semangat berorganisasi. Dari kampung Madewangi yang sederhana, beliau tumbuh menjadi tokoh yang diakui di tingkat regional, membawa panji NU ke Tasikmalaya, dan menjadi bagian dari rantai panjang perjuangan Islam di Nusantara.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker