ULAMA NUSANTARA

KH Thohir Bakri Ketua Umum GP Anshor Pertama

Profil Ulama | KH Thohir Bakri Ketua Umum GP Anshor Pertama

Lahir

KH. Thohir Bakri dilahirkan pada tahun 1908 di Praban, yang terletak di selatan Tugu Pahlawan, kota Surabaya.

Wafat

Beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 26 Juli 1959.

Pendidikan

Di masa kanak-kanak, KH. Thohir Bakri memulai pendidikannya dengan mempelajari ilmu agama dari orang tuanya.

Seiring bertambahnya usia, beliau melanjutkan perjalanan ilmu dengan menimba ilmu di Pesantren Peterongan, Jombang, dan dilanjutkan di Pesantren Tebuireng, di kota yang sama.

Mengabdi pada GP Ansor

KH. Thohir Bakri telah mengabdikan sebagian besar hidupnya kepada organisasi Ansor dan NU, dengan semangat yang tidak pernah padam.

Sebelum terpilih sebagai Ketua Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) pada tahun 1934, beliau telah lama bermimpi tentang bagaimana para santri di seluruh Indonesia bisa bergabung dengan ANO lengkap dengan seragam organisasi tersebut, sebagaimana diungkapkan oleh KH. Ahmad Abdul Hamid, sahabatnya saat di Tebuireng.

KH Thohir bahkan beberapa kali bertemu dengan KH. Wahid Hasyim untuk mendiskusikan aspirasi ini.

Perkembangan GP Ansor tidak terlepas dari latar belakang pergerakan dan sejarah NU itu sendiri.

Sejak tahun 1921, sudah muncul gagasan untuk membentuk suatu organisasi pemuda yang intensif, latar belakang ide ini juga dipicu oleh fenomena kemunculan berbagai organisasi pemuda di daerah seperti Jong Java, Jong Ambon, dan yang lainnya.

Tidak jarang, ide-ide ini kerap diperdebatkan antara kaum modernis dan tradisionalis berkenaan dengan berbagai masalah keagamaan.

Pada tahun 1924, KH. Abdul Wahab Chasbullah mendirikan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), dengan Abdullah Ubaid (Kawatan) sebagai Ketua, Thohir Bakri (Praban) sebagai Wakil Ketua, dan Abdurrahim (Bubutan) sebagai sekretaris.

Ketika Syubbanul Wathan mulai stabil dan banyak pemuda yang tertarik bergabung, dibuatlah seksi khusus untuk aktivitas kepanduan, Ahlul Wathan, yang menyesuaikan dengan minat pemuda yang saat itu mendambakan kegiatan kepanduan semacam itu.

Berlanjut pada muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, yang berlangsung pada tanggal 21-26 April 1934, ANO resmi diakui dan dikukuhkan sebagai Departemen Pemuda NU dengan struktur pertama; KH. Thohir Bakri sebagai Ketua, Abdullah Oebaid sebagai Wakil Ketua, dan H. Acmad Barawi serta Abdussalam sebagai Sekretaris.

Harian “Duta Masyarakat”, melalui tulisan H.A.A. Achsien pada tanggal 11 Agustus 1959, menyingkap kenangan tentang Thohir Bakri yang selalu berada di kantornya di Gedung Bubutan VI/2 Surabaya, sibuk dengan tugas-tugasnya, terutama membalas surat-surat dari cabang ANO di seluruh Indonesia, seringkali dikerjakan sendiri karena sekretarisnya, Bung Umar Burhan, juga mempunyai tugas lain yang tidak kalah penting.

Karier dan Pengabdian

  • Wakil Ketua Syubbanul Wathan
  • Bendahara Da’watus Syubban
  • Ketua NU Surabaya
  • Perintis GP Ansor
  • Ketua Sarbumusi Surabaya
  • Presiden Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama Afdeeling ANO
  • Kepala KUA Surabaya
  • Anggota Konstituante

KH. Thohir Bakri tak hanya dikenang karena peran intelektual dan kepemimpinannya tapi juga karena keteguhan hati dan dedikasi yang tidak terbatas terhadap pendidikan dan kebangkitan pemuda Indonesia

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker