
Siapa KH. Mursyidin?
KH. Mursyidin adalah seorang ulama dan tokoh perintis (pembuka lahan/babat) yang berjasa menyebarkan Islam di wilayah Nguruan, Soko, Tuban, Jawa Timur. Beliau datang ke Nguruan dalam usia muda atas permintaan Mbah Kyai Maulono untuk bersama-sama membuka dan membangun desa Nguruan sebagai kawasan bernapaskan Islam. Nasab beliau terhubung hingga ke Brawijaya Majapahit — menjadikannya sosok yang memiliki akar sejarah dan kebudayaan Jawa yang sangat dalam.
Kelahiran
KH. Mursyidin lahir di Sluke, Lasem, Rembang, Jawa Tengah — sebuah daerah yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa.
Nasab dan Silsilah
KH. Mursyidin memiliki silsilah nasab yang sangat mulia dan terhubung langsung dengan para raja, wali, dan leluhur agung Nusantara. Berikut adalah rantai nasab beliau dari bawah ke atas:
KH. Mursyidin bin Abdullah Abbas → bin Abdul Hadi → bin Naib Jurung Jero → bin Ki Gumyar Jurung Jero → bin Ki Kaji → bin Barjiyah → bin Jarot Amangkurat → bin Sutowijoyo → bin Sultan Amangkurat → bin Sultan Hanyokrokusumo → bin Sunan Sedo Krapyak → bin Ki Ageng Pemanahan → bin Ki Ageng Enis → bin Ki Ageng Selo (Syekh Abd. Rahman) → bin Ki Ageng Getas Pandowo → bin Raden Bondan Kejawan → bin Kertabumi Brawijaya (Raja Majapahit)
Silsilah ini menempatkan KH. Mursyidin sebagai keturunan langsung dari Brawijaya Majapahit — raja besar terakhir Kerajaan Majapahit — sekaligus keturunan para wali dan sultan yang membangun peradaban Islam di tanah Jawa.
Pendidikan
KH. Mursyidin menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Kiai Qomaruddin, yang terletak di Bungah, Gresik, Jawa Timur — salah satu pesantren tua dan berpengaruh di wilayah Gresik. Di sinilah beliau mendapatkan bekal ilmu yang menjadi fondasi perjalanan dakwahnya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau mendapat kepercayaan besar: diminta oleh Mbah Kyai Maulono untuk ikut serta membuka (babat) Desa Nguruan dan bersama-sama memperjuangkan syiar Islam di bumi Nguruan.
Membuka dan Membangun Desa Nguruan
Ketika memulai perjalanan babat Nguruan, KH. Mursyidin masih dalam usia yang sangat muda dan belum menikah. Bersama Mbah Kyai Maulono, beliau bahu-membahu membuka lahan, membangun komunitas, dan menanamkan nilai-nilai Islam di desa yang kelak menjadi Nguruan, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.
Desa Nguruan sejak dahulu dikenal sebagai wilayah adat yang memiliki keunikan tersendiri — tanah di kawasan Santren tidak dapat dimiliki secara perorangan karena hanya memiliki satu sertifikat tanah yang bersifat komunal. Tradisi ini masih dipertahankan hingga hari ini sebagai bagian dari warisan leluhur.
Keluarga
Setelah beberapa tahun menetap dan membangun Nguruan, KH. Mursyidin akhirnya menikah ketika beliau telah mencapai usia yang cukup matang. Beliau dinikahkan dengan Mbah Sampet binti Mbah Tinggolo — yang juga memiliki nasab mulia: binti Mbah Kicoworo bin Demang Kayunan (R. Singomenggolo bin R. Mangoen Djoyo).
Dari pernikahan ini, KH. Mursyidin dan Mbah Sampet dikaruniai enam orang anak:
- Abdurrohman — Nguruan
- Basyer — Santren
- Aisyah
- KH. Abu Bakar — Santren
- Fatimah
- Siti Fatimah
Keturunan KH. Mursyidin kini banyak mendiami kawasan timur jalan depan masjid hingga wilayah Blokan Tengah sampai Nguruan Barat. Sementara keturunan Mbah Sampet dari garis Demang Kayunan tersebar luas — hampir seluruh kepala desa di wilayah Soko dan sebagian di Bojonegoro dahulunya adalah keturunan Demang Kayunan, termasuk pemimpin desa Nguruan di masa lampau.
Wafat dan Makam
KH. Mursyidin wafat dan dimakamkan bersama istrinya, Mbah Sampet, di sebelah pojok barat Makam Mbah Goang, di kawasan Santren, Nguruan.
Hingga kini, Santren tetap menjadi wilayah adat Nguruan yang dijaga kelestariannya. Tanah di kawasan ini tidak dapat dimiliki secara individual — sebuah tradisi yang mencerminkan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan para leluhur.
Warisan dan Pengaruh
KH. Mursyidin bukan sekadar seorang ulama — beliau adalah pelopor peradaban Islam di wilayah Nguruan. Melalui perjuangan babat desa, dakwah yang tulus, dan keturunan yang tersebar luas, beliau telah meletakkan fondasi kuat bagi kehidupan Islam di Soko, Tuban dan sekitarnya.
Warisan beliau tidak hanya berupa ilmu dan keturunan, tetapi juga tradisi adat dan tata kelola tanah komunal yang masih dijaga hingga hari ini — sebuah bukti bahwa kearifan lokal dan nilai-nilai Islam bisa berjalan beriringan dalam harmoni.
Kesimpulan
KH. Mursyidin adalah salah satu pahlawan tanpa mahkota dalam sejarah Islam di Tuban. Datang muda, merintis dari nol, dan meninggalkan warisan yang tak ternilai — baik dalam bentuk ilmu, keturunan, maupun tradisi yang masih hidup hingga kini. Beliau adalah cermin dari semangat ulama Jawa yang memadukan kedalaman ilmu agama, kemuliaan nasab, dan pengabdian tulus kepada masyarakat.








