ULAMA NUSANTARA

Biografi KH. Hasbullah Abdusyakur : Arsitek Pendidikan Krapyak

Profil Ulama | Biografi KH. Hasbullah Abdusyakur : Arsitek Pendidikan Modern Krapyak

Biografi KH. Hasbullah Abdusyakur
Biografi KH. Hasbullah Abdusyakur

KH. Hasbullah Abdusyakur adalah ulama terkemuka dari Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Dikenal sebagai pendidik yang sangat disiplin dan manajer madrasah yang visioner, beliau memainkan peran sentral dalam pengembangan pendidikan formal dan non-formal di Krapyak, termasuk menjadi salah satu inisiator pendirian Ma’had Aly Krapyak.

Awal Kehidupan dan Keluarga

  • Kelahiran: Beliau lahir pada Juni 1942 di Kedung Cumpleng, Semarang.
  • Asal-Usul:
    • Ayah: H. Abdusyakur bin H. Abdullah bin H. Khairuman dari Bati Alih, Jepara. Kakek beliau dari jalur ayah adalah petinggi desa/birokrat.
    • Ibu: Hj. Mariah binti K.H. Cudlori dari Mayong, Jepara. Dari jalur ibu, beliau masih kerabat dengan Mbah Soleh Darat, yang merupakan guru dari ulama-ulama besar seperti KH. Munawwir, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim ‘Asyari, bahkan R.A. Kartini.
  • Pernikahan: Beliau menikah dengan Hj. Hanifah (lahir 1950), putri ketiga dari ulama kharismatik, KH. Ali Maksum.
    • Sanad Istri: Hanifah binti Ali Maksum bin Maksum bin Ahmad (jalur ayah) dan Hanifah binti Hasyimah binti Munawwir bin Abdullah Rosyad (jalur ibu).
    • Kisah Pernikahan: KH. Ali Maksum memilih KH. Hasbullah karena beliau adalah santri yang kuat, sudah dipercaya mengajar, dan bukan sembarang orang. Pernikahan ini dilangsungkan di Lasem setelah KH. Ali Maksum meminta pertimbangan KH. Maksum (ayah beliau).
  • Keturunan: Beliau dikaruniai lima anak: Nur Aini (Alm), Hilmy Muhammad, Zaky Muhammad, Afif Muhammad, dan Maya Fitria.

Pendidikan Formal dan Pesantren

KH. Hasbullah menjalani pendidikan agama dan formal secara seimbang, menunjukkan semangat belajar yang tinggi.

  • Pendidikan Agama:
    • Memulai belajar ilmu agama di tanah kelahirannya (Semarang).
    • Melanjutkan di Pondok Pesantren Krapyak, tempat beliau berguru kepada: KH. Ali Maksum, KH. Zaenal Abidin Munawwir, KH. Warson Munawwir, dan Mbah Tabarrun (Bantul).
    • Beliau juga pernah merasakan didikan Mbah Ma’shum (ayah KH. Ali Maksum) di Pesantren Lasem, terutama saat bulan puasa.
  • Pendidikan Formal:
    • Tsanawiyah (setara SMP) diselesaikan di Jepara.
    • Aliyah (setara SMA) diselesaikan di Yogyakarta.
    • Perguruan Tinggi (S1): Beliau merangkap kuliah di dua kampus sekaligus:
      1. IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Syariah (Program Studi Peradilan).
      2. UGM, Fakultas Hukum (Program Studi Hukum Adat), lulus tahun 1988.
  • Kisah Lulus UGM: Beliau berhasil menyelesaikan studi S1-nya berkat kegigihan dosen pembimbing yang secara khusus mencari dan membimbing beliau hingga ke rumah.
  • Gagal Melanjutkan Studi: Niat beliau untuk melanjutkan S2 di Al-Azhar, Mesir, gagal karena Mesir sedang perang. Upaya melanjutkan S2 di Australia juga gagal karena ketidaktransparanan dan keberpihakan pemerintah pada golongan tertentu saat itu.

Karier dan Dedikasi di Krapyak

KH. Hasbullah merupakan figur yang menonjol dan dipercaya penuh oleh para kiai sepuh Krapyak.

1. Mengelola Madrasah Aliyah (MA)

  • Penugasan: Beliau didawuhi (diperintahkan) oleh KH. Ali Maksum untuk mengelola madrasah.
  • Jabatan: Sejak awal, beliau menjadi pengasuh Madrasah Tsanawiyah 6 Tahun bersama KH. Zaenal dan KH. Attabik Ali. Ketika madrasah dibagi (1970-an), beliau menjabat sebagai Kepala Madrasah Aliyah (MA).
  • Manajemen Modern: Beliau menerapkan manajemen madrasah yang modern dan disiplin, yang kemudian ditiru oleh penerusnya. Kebiasaan yang diubah termasuk larangan bersekolah memakai sarung dan keharusan memakai sepatu.
  • Keteladanan Disiplin: Beliau selalu terjun langsung dan dikenal sangat disiplin dan tepat waktu.
    • Kisah Kacang: Pernah menyindir santri putri yang asyik mengobrol saat musyawarah dengan mengutus muridnya membelikan kacang, sebagai sindiran bahwa mereka seharusnya berdiskusi, bukan mengobrol.
    • Disiplin Keluarga: Beliau tidak memberikan keistimewaan kepada kelima anaknya yang sekolah di MA Krapyak, bahkan mereka harus tunduk pada kebijakan presensi kehadiran kurang dari 90% tidak boleh ikut ujian.

2. Mengelola Pesantren (Diniyah)

  • Pengajar Utama: Karena keilmuannya yang mendalam (mengaji di Jepara sebelum Krapyak), beliau dipercaya mengajar berbagai bidang, termasuk Alfiyah Ibnu Aqil, Musthalah Hadis, Ilmu Tafsir (Jalalain), Fikih (Tahrir), Jawahirul Bukhari, dan Irsyadul Ibad.
  • Jadwal Mengajar: Beliau mengajar diniyah bergantian dengan KH. Ali Maksum (masing-masing tiga hari).
  • Totalitas: Beliau ditugasi bagian internal pondok, mencurahkan daya upaya dalam kegiatan mengaji dan sekolah pagi, sore, siang, dan malam. Putranya menyebut beliau sebagai “tulang punggung beroperasinya pondok dan madrasah”.
  • Komplek Sakan: Beliau menerima nadhir wakaf tanah dari KH. Ali Maksum yang kemudian dibangun menjadi Pondok Pesantren Komplek Sakan (di bawah yayasan Ali Maksum, tetapi tergabung dalam PP Al-Munawwir secara kekeluargaan).

3. Inisiator Ma’had Ali Krapyak

  • Peran Pendiri: KH. Hasbullah adalah salah satu inisiator pendirian Ma’had Ali Krapyak, sebuah perguruan tinggi ilmu salaf yang berfokus pada pendalaman (ta’ammuq fi ad-din).
  • Peresmian: Setelah studi banding ke Jakarta yang beliau pimpin, dan atas restu keluarga besar Al-Munawwir, Ma’had Aly Krapyak resmi dibuka pada tahun 1414 H (1993 M).

4. Peran di Nahdlatul Ulama (NU)

Meskipun tidak terjun di bidang politik praktis, beliau aktif dalam struktur keorganisasian:

  • Ketua MUI Bantul.
  • Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY (jabatan terakhir sebelum wafat).

Teladan Hidup dan Wafat

Teladan Disiplin dan Kedermawanan

  • Mendidik Anak: Beliau meletakkan pondasi hidup disiplin dan kerja keras pada putra-putrinya. Beliau memberi kebebasan memilih pendidikan tetapi menuntut pertanggungjawaban dan kesungguhan.
  • Tegas Tanpa Memuji: Beliau tidak pernah memuji atau membangga-banggakan anaknya di depan orang lain agar mereka tidak cepat merasa puas.
  • Dermawan: Beliau dikenal sangat dermawan. Beliau dengan mudah memberikan sejumlah uang kepada KH. Muslih Ilyas (santri ndalem KH. Ali Maksum) untuk membeli tanah, dan mengizinkan putranya, Gus Afif, mengambil bahan bangunan dari Komplek Sakan untuk pembangunan musala KKN tanpa pertimbangan yang rumit.

Wafat

  • Penyebab: KH. Hasbullah wafat di usia muda (54 tahun) karena sakit diabetes dan gagal ginjal yang mengharuskan beliau cuci darah setiap minggu.
  • Tanggal Wafat: Beliau menghembuskan napas terakhir pada Selasa pagi, 9 Safar 1996, setelah dirawat selama 15 hari.
  • Firasat: Putranya menuturkan adanya firasat berupa perilaku tidak biasa Kiai Hasbullah membersihkan diri dan mencetak kalender khusus bulan Muharram berbahasa Arab yang disebar ke para Kiai dan internal Krapyak.
  • Pemakaman: Beliau dimakamkan di Dongkelan, dekat makam Mbah Munawwir.

Jasa dan kedisiplinan KH. Hasbullah Abdusyakur masih bisa dirasakan hingga kini, terutama dalam pondasi manajemen MA dan disiplin yang diterapkan oleh putra-putrinya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker