ULAMA NUSANTARA

Enas Mabarti: Ulama, Politikus, dan Pujangga Sunda dari Garut

Enas Mabarti adalah tokoh Nahdlatul Ulama asal Garut yang dikenal sebagai penulis, politikus, dan pecinta budaya Sunda. Kenali perjalanan hidup dan karya-karyanya di sini.


Siapa Enas Mabarti?

Enas Mabarti adalah seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Garut, Jawa Barat, yang dikenal luas sebagai sosok multitalenta — ulama, politikus, akademisi, sekaligus penulis sastra Sunda. Ia adalah figur langka yang berhasil memadukan kecintaan terhadap budaya Sunda, semangat berorganisasi, dan kepedulian politik dalam satu nafas perjuangan.

Kecintaannya terhadap kebudayaan Sunda begitu dalam hingga ia mewariskannya bahkan setelah wafat — melalui wasiat yang ia tinggalkan untuk keluarganya.


Pendidikan dan Awal Mengenal NU

Enas Mabarti menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Namun di balik kehidupan kampusnya, ada satu pilihan yang mengubah arah hidupnya secara mendalam: ia memilih untuk nyantri di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, yang saat itu dipimpin oleh KH. Ali Ma’shum.

Di pesantren inilah Enas benar-benar mengenal dan menghayati nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Semangat berorganisasinya pun tumbuh, dan ia mulai aktif di Gerakan Pemuda Ansor — organisasi kepemudaan di bawah naungan NU.


Peran di Nahdlatul Ulama

Seusai menyelesaikan pendidikannya, Enas tidak berhenti bergerak. Ia langsung terjun mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Garut — sebuah posisi strategis dalam pengelolaan pendidikan berbasis NU di tingkat daerah.

Puncaknya, ia juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Garut, menegaskan posisinya sebagai salah satu tokoh sentral NU di wilayah Priangan Timur.


Karier Politik

Selain aktif di NU, Enas Mabarti juga terjun ke dunia politik. Sebagai dosen ilmu politik di Universitas Garut (Uniga), ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mempraktikkannya langsung:

  • 1982–1987 — Menjadi anggota DPRD II Kabupaten Garut dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  • 1999 — Terpilih sebagai Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Garut, bersamaan dengan jabatannya sebagai Ketua PCNU

Bagi Enas, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Dalam pandangannya, berpolitik harus dilandasi niat ibadah — dengan tiga pondasi utama bagi warga Nahdliyin: kaluhungan (ketinggian) ilmu, keimanan dan keahlian, serta takwa kepada Allah.


Sosok Penulis dan Pujangga Sunda

Di balik kesibukan berorganisasi dan berpolitik, Enas Mabarti adalah seorang penulis sejati. Bakatnya dalam dunia tulis-menulis sudah muncul sejak ia duduk di bangku SMA, dan terus berkembang sepanjang hidupnya.

Karya-karyanya tersebar di berbagai media terkemuka, di antaranya:

  • Pikiran Rakyat — surat kabar terbesar Jawa Barat
  • Sipatahoenan — media berbahasa Sunda bersejarah
  • Majalah Mangle — majalah bahasa Sunda yang legendaris

Ia juga pernah menjadi wartawan Bina Rimba Perhutani selama sepuluh tahun (1978–1988). Enas dikenal pula dengan kebiasaannya yang unik: menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bentuk puisi — sebuah perpaduan spiritual dan seni yang mencerminkan jiwanya yang dalam.

Karena sifatnya yang melankolis dan penuh perasaan, ia mendapat julukan istimewa: “lelaki sutra”.


Karya-Karya Utama

Rencep Sidem Gunem

Buku berbahasa Sunda ini adalah salah satu karya sastra terpenting Enas Mabarti. Awalnya dimuat secara berkala di Majalah Mangle, buku ini mengangkat persoalan kehidupan sehari-hari dan mengolahnya menjadi bahan renungan yang kaya makna.

Keistimewaan buku ini terletak pada pendekatannya yang holistik: setiap tulisan dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, dan qaul (pendapat) para ulama, sehingga menghasilkan ajaran moral yang disampaikan dengan gaya bahasa yang indah dan penuh nilai artistik.

Elmu Politik keur Warga NU (Ilmu Politik untuk Warga NU)

Buku ini adalah karya Enas di bidang politik — dan memiliki dua keunikan sekaligus:

  1. Ditulis dalam bahasa Sunda, di tengah langkanya penulis yang berani menggunakan bahasa daerah untuk membahas topik serius seperti politik.
  2. Membahas ilmu politik dalam perspektif Islam dan ke-NU-an, dengan tujuan agar warga Nahdliyin di Kabupaten Garut — dan masyarakat Sunda pada umumnya — memiliki pemahaman politik yang cerdas dan bermartabat.

Buku ini menjadi bukti nyata bahwa bahasa daerah mampu menjadi medium intelektual yang kuat dan bermakna.


Wafat dan Warisan

Enas Mabarti wafat pada April 2014, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, murid, rekan seperjuangan, dan para pecinta sastra Sunda.

Salah satu hal yang paling dikenang dari Enas adalah wasiatnya kepada keluarga: seluruh honorarium yang diperoleh dari karya-karyanya agar disumbangkan untuk Pusat Studi Sunda (PSS) — sebuah lembaga yang berdedikasi pada pelestarian dan pengembangan kebudayaan Sunda.

Wasiat ini bukan sekadar pesan terakhir, melainkan cerminan hidup seorang Enas Mabarti: mengabdi sampai akhir hayat untuk ilmu, agama, dan budayanya.


Kesimpulan

Enas Mabarti adalah sosok yang membuktikan bahwa seorang ulama tidak harus memilih antara agama, budaya, atau politik. Ia menjalani ketiganya sekaligus dengan penuh integritas. Kecintaannya pada budaya Sunda, komitmennya pada nilai-nilai NU, dan keberaniannya bersuara melalui tulisan menjadikan ia salah satu tokoh penting Jawa Barat yang layak dikenang dan diteladani.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker