KH Mas Abdurachman bin Jamal Aljanakawi adalah seorang ulama besar dari Banten yang namanya lekat dengan sejarah berdirinya Mathla’ul Anwar — salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia. Dengan bekal ilmu yang ditempa bertahun-tahun di Makkah dalam kondisi serba kekurangan, beliau kembali ke tanah air dan membangun fondasi pendidikan Islam yang kini tersebar luas dari Banten hingga Lampung.
Profil Singkat KH Mas Abdurachman
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | KH Mas Abdurachman bin Jamal Aljanakawi |
| Lahir | ± 1875 M, Kampung Janaka, Labuan, Pandeglang, Banten |
| Ayah | K. Jamal (ulama dan ahli agama) |
| Pendidikan | Masjidil Haram, Makkah (± 1905–1915) |
| Guru Utama | Syekh Nawawi Al-Bantani, Ki Achmad Chatib Al-Minangkabau |
| Organisasi | Mathla’ul Anwar, Sarikat Islam, Nahdlatul Ulama |
| Karya Besar | Mendirikan Mathla’ul Anwar (1916 M / 1335 H) |
Kelahiran dan Keluarga
KH Mas Abdurachman lahir sekitar tahun 1875 M di Kampung Janaka, sebuah perkampungan yang terletak di lereng Gunung Haseupan, Distrik Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Lokasinya terpencil — sekitar 17 km ke utara dari kota Menes — dengan medan yang terjal sehingga sebagian perjalanan harus dilakukan dengan berjalan kaki.
Beliau adalah putra dari K. Jamal, seorang yang alim dan taat beragama. Sang ayah sangat peduli dengan pendidikan agama anak-anaknya sejak dini. Mengenai garis keturunan beliau belum tercatat secara lengkap, namun ada indikasi bahwa leluhurnya berasal dari Banten. Kemungkinan besar, nenek moyang beliau berpindah ke dataran tinggi sebagai tempat berlindung saat Belanda menyerbu wilayah Banten.
Menuntut Ilmu di Makkah: Penuh Perjuangan
Salah satu babak paling menginspirasi dalam kehidupan KH Mas Abdurachman adalah perjuangannya menuntut ilmu di Makkah. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau memilih untuk menetap di Makkah sekitar tahun 1905 M dan belajar langsung di Masjidil Haram.
Kondisi hidupnya saat itu sangat jauh dari kata nyaman. Beliau tidur di Masjidil Haram, sering menahan lapar, dan tidak memiliki tempat tinggal tetap. Untuk menyambung hidup, beliau bahkan bekerja sebagai penjual kayu bakar. Namun semangat belajar dan sikap tawakalnya tidak pernah goyah.
Selama hampir 10 tahun penuh, beliau tekun belajar berbagai ilmu agama di Makkah — sebuah pengorbanan yang luar biasa dan menjadi bukti betapa kuatnya tekad beliau untuk membawa ilmu kembali ke tanah air.
Guru-Guru Beliau
Di Makkah, KH Mas Abdurachman belajar langsung dari beberapa ulama besar, di antaranya:
- Syekh Nawawi Al-Bantani dari Tanahhara — ulama ahli tafsir kebanggaan Nusantara yang terkenal di seluruh dunia Islam
- Ki Achmad Chatib Al-Minangkabau — pakar ilmu tasawuf
Selain dari keduanya, beliau juga mengikuti pengajian dari ulama-ulama yang datang dari Mesir, Makkah, dan Baghdad, memperluas wawasan keilmuannya dari berbagai mazhab dan tradisi keilmuan Islam.
Kembali ke Tanah Air dan Mendirikan Pesantren
Sekitar tahun 1915, atas ajakan Ki Saleh dan Ki Yasin, KH Mas Abdurachman kembali ke Indonesia. Sesampainya di tanah air, beliau tidak berpangku tangan. Beliau langsung mendirikan pesantren di Kampung Soreang, Menes, Pandeglang, sebagai langkah awal untuk menyebarkan ilmu yang telah beliau timba selama satu dekade di Makkah.
Mendirikan Mathla’ul Anwar (1916)
Langkah berikutnya yang menjadi tonggak sejarah adalah ketika KH Mas Abdurachman menggagas pendirian sebuah sistem madrasah yang lebih terorganisir. Melalui musyawarah bersama para tokoh setempat, dan dengan memanfaatkan rumah yang dihibahkan oleh Kiai Mustaghfiri, terbentuklah sebuah lembaga pendidikan Islam yang diberi nama:
Mathla’ul Anwar — sekitar tahun 1335 H / 1916 M
Dengan semangat gotong royong dan dukungan wakaf dari masyarakat, madrasah permanen kemudian mulai dibangun pada sekitar tahun 1920-an.
Mathla’ul Anwar tumbuh dengan sangat pesat. Dari Menes, lembaga ini terus berkembang hingga menjangkau berbagai wilayah, di antaranya Lebak, Karawang, Tangerang, Lampung, dan seluruh wilayah Banten. Mathla’ul Anwar kini dikenal sebagai salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia.
Peran di Organisasi Islam
Selain membangun Mathla’ul Anwar, KH Mas Abdurachman juga aktif dalam berbagai gerakan organisasi Islam:
- Sarikat Islam (SI): Beliau membentuk cabang Sarikat Islam di daerahnya. Beliau memilih berafiliasi dengan “SI Putih” — kelompok yang tetap setia pada ajaran Islam murni dan menolak pengaruh paham lain yang masuk ke dalam gerakan tersebut.
- Nahdlatul Ulama (NU): Beliau turut berperan dalam mendirikan NU di Pandeglang, dan dipercaya untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kongres Besar NU ke-IX di Menes — sebuah kepercayaan besar yang mencerminkan pengaruh dan reputasi beliau di kalangan ulama nasional.
Karya-Karya Tulis
Sebagai pendidik sejati, KH Mas Abdurachman tidak hanya mengajar secara lisan tetapi juga menyusun berbagai kitab pelajaran untuk murid-muridnya. Kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Sunda maupun bahasa Arab, agar ilmu dapat tersebar lebih luas:
Kitab Berbahasa Sunda
- Tajwid — panduan membaca Al-Qur’an dengan benar
- Tauhid — dasar-dasar akidah Islam
- Jawiz
- Tauhfah
- Muhajiulqawin
Kitab Berbahasa Arab
- Nahu Adjuriyah I–III — ilmu nahwu (tata bahasa Arab)
- Syaraf Takhlip — ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab)
- Ilmu Balaghah — seni retorika dalam bahasa Arab
Keluarga dan Penerus
KH Mas Abdurachman menikah tiga kali dan dikaruniai 15 orang anak dari ketiga istrinya:
- Istri pertama, Nyi Menot Aminah: Emed, M. Khabir (Abeh), Hamid, Nyi Enong, Nyi Eno, K. Abdurachim (Adung), Nyi Mariah, Nyi Bay — (8 anak)
- Istri kedua, Nyi Idjot Khadijah: H. Khalid, H. Muslim, Nyi Muslimah, Nahid A.R. — (4 anak)
- Istri ketiga, Nyi Enjoh: Nyi Zahriah, Nyi Zahra, Nyi Munjiah — (3 anak)
Murid-Murid yang Menjadi Tokoh
Warisan terbesar KH Mas Abdurachman adalah para santri dan muridnya yang kemudian meneruskan perjuangan pendidikan Islam melalui Mathla’ul Anwar, di antaranya:
- K.H. Mochamad Ra’is
- K.H. Abdullatif
- K.H. Syafei
- K.H. Uwes Abubakar
- K.H. Syidik
- K.H. M. Juana
- K.H. Sudari
- K.H. Achmad Suhaemi
- K.H. Tb. Suhaemi
- K. Tb. Achmad
- K.H. Moch Ichsan
Warisan yang Abadi
KH Mas Abdurachman adalah sosok yang membuktikan bahwa ilmu yang diraih dengan penuh perjuangan akan melahirkan karya yang besar. Dari lereng Gunung Haseupan yang terpencil, ia pergi ke Makkah dengan tangan kosong, tidur di Masjidil Haram, dan bekerja serabutan demi bisa belajar. Lalu ia pulang membawa cahaya ilmu dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang hingga kini masih berdiri dan terus tumbuh.
Mathla’ul Anwar adalah bukti nyata bahwa seorang ulama yang ikhlas bisa mengubah nasib banyak orang — bahkan generasi-generasi jauh setelah ia tiada.








