
KH. Abdurrohim — atau yang akrab disapa Ajengan Abdurrohim — adalah tokoh ulama dan pejuang kemerdekaan dari Kota Banjar, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai pengasuh dan penerus Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Kota Banjar, yang kini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam lengkap dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi.
Di balik nama besarnya hari ini, perjalanan pesantren ini menyimpan kisah yang penuh perjuangan — dari hutan belantara yang angker, gempuran meriam Belanda, hingga kebangkitan kembali yang gemilang.
Profil Singkat KH. Abdurrohim
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | KH. Abdurrohim (nama asli: Badrun) |
| Nama Panggilan | Ajengan Abdurrohim |
| Asal | Kota Banjar, Jawa Barat |
| Ayah | Kiai Marzuki Mad Salam (pendiri awal Pesantren Citangkolo) |
| Peran | Penerus & pengasuh Pesantren Citangkolo, Komandan Pasukan Hizbullah |
| Pesantren | Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar |
Awal Mula: Kisah Kiai Marzuki di Hutan Citangkolo (1911)
Untuk memahami sosok KH. Abdurrohim, kita perlu menengok dulu kisah ayahnya, Kiai Marzuki Mad Salam — sang perintis pertama yang meletakkan batu fondasi Pesantren Citangkolo.
Kiai Marzuki berasal dari Dusun Grumbul Kelawan, Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Melihat kondisi umat Islam yang memprihatinkan di bawah cengkeraman penjajah Belanda, beliau memilih untuk berkelana mencari tempat yang tepat untuk berdakwah — melewati Gombong, Tambak, Sitinggil, dan berbagai daerah lainnya.
Pada tahun 1911, Kiai Marzuki tiba di Citangkolo — sebuah kawasan yang saat itu masih berupa hutan belantara, terkenal angker, dan dipenuhi binatang buas. Sebelum kedatangannya, dikisahkan bahwa tiga keluarga yang berasal dari Manonjaya Tasikmalaya, Cineam Tasikmalaya, dan Rancah Ciamis pernah tinggal di sana, namun tiba-tiba hilang tanpa jejak dan tanpa sebab yang jelas.
Namun Kiai Marzuki tidak gentar. Tepat pada 10 Muharam 1911, beliau mendirikan sebuah mushola panggung berukuran 2 x 3 meter — cikal bakal dari pesantren besar yang kelak akan berdiri di tanah ini.
Dari Mushola Kecil Menjadi Masjid Jami’ (1911–1923)
Perkembangan dakwah Kiai Marzuki berjalan perlahan namun pasti:
- 1911 — Mushola panggung 2×3 meter didirikan pada 10 Muharam
- 1916 — Kiai Marzuki memboyong seluruh keluarganya dari Kebumen, termasuk bayi laki-laki berusia 100 hari bernama Badrun (yang kelak menjadi KH. Abdurrohim). Mushola pun diperluas menjadi 5×9 meter
- 1923 — Atas permintaan Bupati Tasikmalaya, mushola diubah statusnya menjadi Masjid Jami’, karena semakin banyaknya pemuda-pemudi yang datang untuk belajar agama kepada Kiai Marzuki
Dalam proses pengembangan ini, Kiai Marzuki dibantu oleh putranya Kiai Mad Soleh (wafat 1950) dan para menantunya.
KH. Abdurrohim: Pejuang Kemerdekaan Pemimpin Hizbullah
Bayi kecil bernama Badrun yang dibawa dari Kebumen pada 1916 itu tumbuh menjadi seorang ulama sekaligus pejuang kemerdekaan yang tangguh.
Sebelum meneruskan perjuangan sang ayah, Badrun — yang kemudian berganti nama menjadi KH. Abdurrohim — terlebih dahulu menimba ilmu ke berbagai pesantren untuk membekali dirinya dengan ilmu agama yang kokoh.
Ketika semangat perjuangan kemerdekaan memuncak pada era pra-kemerdekaan, Pesantren Citangkolo menjadi salah satu basis pergerakan para pejuang dalam melawan kolonial Belanda. KH. Abdurrohim memimpin pasukan Hizbullah yang membawahi wilayah Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.
Diserang Meriam Belanda
Pergerakan Pesantren Citangkolo akhirnya tercium oleh Belanda. Kemarahan kolonial memuncak terutama setelah terjadi penggulingan kereta api di wilayah Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar — sebuah aksi perlawanan yang dinilai Belanda sangat membahayakan.
Akibatnya, Pesantren Citangkolo menjadi sasaran tembakan meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Banjar. Sebuah serangan yang menggambarkan betapa Belanda memandang pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat perlawanan yang harus dihancurkan.
Masa Kekosongan dan Kebangkitan Kembali
Setelah berbagai gejolak panjang, pada tahun 1960 Pesantren Citangkolo mengalami masa Fatroh — istilah untuk kekosongan kepemimpinan. Namun ini bukan akhir dari segalanya.
Tepat pada 10 Muharam 1960, pesantren dirintis kembali dengan nama baru: Pondok Pesantren Miftahul Huda.
Kemudian, pada 10 Muharam 1987, seiring kepulangan KH. Munawir Abdurrohim — putra pertama KH. Abdurrohim — dari studi di Al-Azhar, Kairo, Mesir, nama pesantren kembali diperbarui menjadi:
Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo
Penambahan nama “Al-Azhar” menjadi simbol perpaduan tradisi pesantren lokal dengan keilmuan Islam tingkat dunia.
Perkembangan Pesantren Hingga Kini
Sejak kebangkitannya kembali, Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo berkembang dengan sangat pesat. Kini pesantren ini telah memiliki lembaga pendidikan yang lengkap dari berbagai jenjang:
- PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
- MI (Madrasah Ibtidaiyah)
- SMP & MTs
- SMA & MA
- Perguruan Tinggi: STAIMA Banjar (Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Huda Al-Azhar)
Setiap bulan Muharam, pesantren rutin menggelar Haul Pendiri yang dirayakan dengan berbagai kegiatan keagamaan selama satu bulan penuh — sebuah tradisi yang menjaga agar kisah perjuangan para pendahulu tidak pernah terlupakan.
Warisan yang Terus Hidup
Dari sebuah mushola panggung kecil di tengah hutan yang angker, hingga menjadi pesantren besar dengan perguruan tinggi — perjalanan Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo adalah bukti bahwa keikhlasan dan kegigihan seorang ulama bisa mengubah sejarah.
KH. Abdurrohim adalah penerus yang layak dari sang ayah, Kiai Marzuki — dua generasi ulama yang berjuang bukan hanya dengan ilmu dan dakwah, tetapi juga dengan nyawa di medan perang melawan penjajah.








