ULAMA NUSANTARA

KH Abdullah Faqih Cemoro Ulama Pejuang Kemerdekaan

Profil Ulama | KH Abdullah Faqih Cemoro Ulama Pejuang Kemerdekaan

Kehidupan Awal

KH. Abdullah Faqih, sering akrab dipanggil sebagai KH. Faqih Cemoro, dilahirkan pada tahun 1870.

Ia merupakan sosok yang dikenang tidak hanya karena kealamian dalam ilmu agama, tetapi juga kegigihan beliau dalam menuntut ilmu sejak usia dini, seraya mengikuti jejak ayah yang terkenal akan keilmuan agama dan keahlian kanuragan.

Keluarga dan Penghujung Hayat

KH. Abdullah Faqih menjalani kehidupan berumah tangga bersama Suryati dan dikaruniai lima orang anak.

Putra dan putri beliau antara lain KH. Ahmad Muhtarom, KH. Sholeh Abdullah, Siti Maryam, Mohammad Idris, dan Salamah.

Beliau menghembuskan napas terakhir pada malam Jumat Kliwon tahun 1953, di usia 83 tahun.

Penguburan dilaksanakan di pekuburan keluarga tidak jauh dari makam almarhumah Suryati, istrinya, yang wafat lebih dahulu ketika berusia 60 tahun.

Pendidikan dan Pembelajaran

Sejak kecil, KH. Abdullah Faqih menunjukkan tekad yang kuat dalam menimba ilmu.

Pada usia sembilan tahun, ia memulai pengembaraannya yang panjang.

Melalui berbagai perjalanan ilmiah, beliau mempelajari banyak aspek keilmuan Islam dan hikmah, mencari guru-guru terkemuka di nusantara.

Perjalanannya mencakup studi bersama Kiai Purwosono di Lumajang selama dua tahun, melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo di bawah asuhan KH. Abdul Karim, berguru dengan KH. Siddiq di Pasuruan, hingga ia menjadi santri ke-22 dari Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, yang di mana ia berkesempatan satu perguruan dengan tokoh-tokoh besar seperti KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Chasbullah, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Selain itu, KH. Abdullah Faqih juga sempat berguru di Pesantren Kaliwungu dan Cirebon, sebelum akhirnya belajar kepada ulama-ulama besar di tanah suci Mekkah selama lebih dari enam tahun.

Pendirian Pesantren

Atas dasar ilmu dan pengalaman yang didapatnya, beliau mendirikan pesantren pada tahun 1911, yang resmi mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda pada 17 Agustus 1917, meskipun harus berhadapan dengan berbagai hambatan administratif.

Namanya sebagai ulama besar menarik perhatian banyak murid dari berbagai daerah.

Pesantren yang didirikannya kemudian terkenal dengan nama Yayasan Pendidikan Pesantren KH Abdullah Faqih, atau disebut juga sebagai Pesantren Cemoro.

Murid-Murid dan Perjuangan

Pesantren Cemoro melahirkan beberapa ulama terkenal, seperti KH. Harun dari Banyuwangi, KH. Abdul Manan dari Desa Wringin Putih, serta KH. Ahmad Qusairi.

Selain peranannya dalam pengajaran ilmu agama, KH. Abdullah Faqih juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang tangguh.

Ia terlibat dalam berbagai pertempuran melawan penjajahan Belanda di Jawa Timur, mengibarkan bendera Hizbullah, termasuk di perang Parangharjo dan Lemahbang.

Wafatnya KH. Abdullah Faqih menutup lembaran sejarah seorang ulama pembaharu dan pejuang kemerdekaan yang kehidupan serta pengorbanannya akan terus dikenang dan dihormati generasi mendatang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker