
KH. Miftachul Akhyar adalah salah satu ulama paling berpengaruh di Indonesia saat ini. Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, berakhlak mulia, dan memiliki penguasaan ilmu agama yang sangat luas. Dari pengasuh pesantren di Surabaya, beliau dipercaya memimpin dua organisasi Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Inilah kisah lengkap perjalanan hidup beliau.
1. Kelahiran dan Keluarga
Kelahiran
KH. Miftachul Akhyar lahir pada tahun 1953. Beliau merupakan putra kesembilan dari tiga belas bersaudara, dari pasangan keluarga yang berlatar belakang pesantren. Ayahnya, KH. Abdul Ghoni, adalah seorang pengasuh di Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.
Ayah beliau dikenal sebagai sahabat dekat dari KH. M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo — kedua tokoh ini sama-sama pernah menimba ilmu kepada KH. Romli Tamim di Pesantren Rejoso, Jombang. Ikatan persahabatan yang lahir dari dunia pesantren ini kelak turut membentuk karakter dan lingkungan tumbuh KH. Miftachul Akhyar sejak kecil.
Keluarga
Keluasan ilmu dan kemuliaan akhlak KH. Miftachul Akhyar rupanya menarik perhatian seorang ulama besar. Syekh Masduki Lasem, tokoh terkemuka dari Pesantren Lasem dan alumni istimewa Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, tertarik dengan kepribadian beliau hingga menjadikan KH. Miftachul Akhyar sebagai menantu. Sebuah kepercayaan besar yang mencerminkan betapa tingginya maqam keilmuan dan akhlak beliau di mata para ulama senior.
2. Perjalanan Pendidikan
Belajar dari Sang Ayah
Sejak kecil, KH. Miftachul Akhyar tumbuh dan belajar langsung dalam bimbingan ayahnya, KH. Abdul Ghoni. Berbagai disiplin ilmu agama Islam beliau pelajari dari rumah sendiri — sebuah tradisi khas keluarga pesantren yang mengutamakan pendidikan sejak dini.
Mengembara ke Berbagai Pesantren
Setelah menyelesaikan pendidikan bersama ayahnya, KH. Miftachul Akhyar melanjutkan pengembaraan ilmunya ke sejumlah pesantren ternama:
- Pesantren Tambakberas, Jombang – Jawa Timur
- Pesantren Rejoso (Darul Ulum), Jombang – Jawa Timur
- Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur
- Pesantren Lasem, Rembang – Jawa Tengah
- Majelis Taklim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki, Malang – Beliau sempat belajar langsung kepada ulama besar asal Makkah ini saat Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.
Perjalanan panjang ini membentuk KH. Miftachul Akhyar menjadi ulama dengan sanad keilmuan yang kuat dan beragam.
3. Pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya
KH. Miftachul Akhyar adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya — sebuah lembaga pendidikan Islam yang menjadi pilar keagamaan di ibu kota Provinsi Jawa Timur. Surabaya, dengan mayoritas masyarakat nahdliyin-nya, menjadikan kehadiran pesantren ini sangat strategis dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
4. Perjalanan di Nahdlatul Ulama
KH. Miftachul Akhyar adalah kader tulen Nahdlatul Ulama — dilahirkan dan dibesarkan dalam tradisi NU, lalu mengabdikan dirinya untuk organisasi ini sejak usia muda. Berikut rekam jejak jabatan beliau di NU:
| Jabatan | Periode |
|---|---|
| Rais Syuriyah PCNU Surabaya | 2000 – 2005 |
| Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur | 2007 – 2013 dan 2013 – 2018 |
| Wakil Rais Aam PBNU | 2015 – 2020 |
| Rais Aam PBNU | 2018 – 2020 |
| Ketua Umum MUI | 2020 – 2025 |
Dipilih Menjadi Rais Aam PBNU
Pengangkatan KH. Miftachul Akhyar sebagai Pejabat Rais Aam PBNU bukan tanpa alasan. Banyak tokoh senior dan sesepuh NU yang meminta beliau bersedia mengisi jabatan bergengsi tersebut.
Salah satu yang paling vokal adalah Mustasyar PBNU, KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen). Dalam sebuah rilis resmi yang disebarkan pada Sabtu, 22 September 2018, Mbah Moen menyatakan bahwa beliau telah dua kali menemui KH. Miftachul Akhyar secara langsung untuk memohon agar beliau bersedia mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU.
Permintaan dari ulama sekaliber KH. Maimoen Zubair ini menjadi salah satu bukti betapa besarnya kepercayaan para ulama senior terhadap kapasitas dan integritas KH. Miftachul Akhyar.
5. Keteladanan: Kesederhanaan yang Mengakar
Di balik jabatan-jabatan besar yang beliau emban, KH. Miftachul Akhyar tetaplah sosok yang sederhana dan berakhlak mulia. Salah satu hal yang paling menonjol dari kepribadian beliau adalah cara beliau memperlakukan tamu.
Tanpa rasa sungkan, beliau langsung melayani tamu-tamunya sendiri — menuangkan minuman, mengambilkan makanan, dan menghidangkan semuanya dengan tangannya sendiri — tanpa menyuruh pembantu atau siapapun. Sikap ini bukan sekadar basa-basi, melainkan merupakan karakter yang diwariskan langsung dari sang ayah, KH. Abdul Ghoni, yang juga dikenal memperlakukan tamunya dengan cara yang sama.
Kemuliaan akhlak KH. Miftachul Akhyar bukan sekadar cerita — ia adalah warisan nyata yang hidup dalam keseharian beliau.
6. Penutup
KH. Miftachul Akhyar adalah bukti nyata bahwa ulama sejati bukan diukur dari jabatannya, melainkan dari akhlak dan pengabdiannya kepada umat. Dari kamar pesantren ayahnya di Rangkah, Surabaya, hingga kursi Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI — beliau menjalani semuanya dengan kerendahan hati yang konsisten.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga, melindungi, dan memberikan keberkahan kepada beliau dan seluruh keluarga. Aamiin.








