ULAMA NUSANTARA

KH. Muhammad Sa’id: Pendiri Pesantren Gedongan Cirebon

Siapa KH. Muhammad Sa’id?

KH. Muhammad Sa’id — yang akrab disapa Kiai Sa’id — adalah seorang ulama besar asal Desa Pesawahan, Sindanglaut, Cirebon. Beliau diperkirakan lahir sekitar tahun 1800-an, meskipun tanggal dan tahun pastinya belum diketahui hingga kini.

Kiai Sa’id dikenal sebagai pendiri Pesantren Gedongan, salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Cirebon. Jejak keilmuan dan jaringan pesantren yang beliau bangun terus hidup hingga generasi-generasi berikutnya.


Keluarga

Kiai Sa’id menikah dengan Nyai Hj. Maemunah, yang ternyata adalah kakak kandung dari Kiai Abas Buntet — tokoh pendiri Pesantren Buntet, Cirebon. Pernikahan ini kelak menjadi salah satu jalinan penting antara Pesantren Gedongan dan Pesantren Buntet.


Awal Kedatangan ke Gedongan

Terdapat dua versi cerita tentang mengapa Kiai Sa’id memilih menetap di Gedongan:

Versi pertama menyebutkan bahwa beliau pergi ke Gedongan untuk menghindari kejaran penjajah Belanda, karena terlibat dalam pemberontakan yang digagas oleh Bagus Rangin bersama Kesultanan Cirebon.

Versi kedua menyatakan bahwa beliau datang ke Gedongan semata-mata untuk uzlah (mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah) sekaligus menyebarkan Islam di wilayah Cirebon yang lebih luas.

Ijin dari Sultan Kasepuhan

Sebelum berangkat, Kiai Sa’id terlebih dahulu bermusyawarah dan memohon izin kepada Sultan Kasepuhan Cirebon. Hal ini penting karena tanah yang akan dijadikan tempat tinggalnya merupakan pemberian Sultan kepada ayah beliau. Sebagai kerabat keraton, Kiai Sa’id pun mendapat izin untuk menempati kawasan hutan tersebut.

Rombongan yang Menemani

Kiai Sa’id tidak berangkat sendirian. Bersama beliau turut serta:

  • Istrinya, Nyai Hj. Maemunah
  • Sejumlah santri ayahnya
  • Calon santri yang ingin berguru kepada Kiai Sa’id
  • Total rombongan berjumlah 24 orang
  • Ditambah dua pembantu remaja: Ngarpin (laki-laki) dan Kamal (perempuan)

Berdirinya Pesantren Gedongan

Seiring berjalannya waktu, kawasan hutan yang dibuka Kiai Sa’id berkembang pesat. Semakin banyak keluarga yang datang dan menetap, rumah-rumah pun bertambah, hingga terbentuklah sebuah komunitas yang dikenal dengan nama Pedukuhan Gedongan.

Pesantren yang diasuh Kiai Sa’id pun semakin dikenal luas dengan nama Pesantren Gedongan — kini tercatat sebagai salah satu pesantren tertua di Cirebon.


Murid-Murid Berpengaruh Kiai Sa’id

Meskipun santri Kiai Sa’id sangat banyak, beberapa nama tercatat dalam sejarah karena pengaruh besar yang mereka tinggalkan:


1. KH. Jauhari Mashur (Kiai Ijo)

Kiai Ijo adalah murid yang dikenal sangat luar biasa dalam hal kesungguhan belajar. Ia menempuh perjalanan dari daerah Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon dengan berjalan kaki selama 41 hari hanya untuk bisa mengaji kepada Kiai Sa’id.

Tidak hanya itu, atas perintah gurunya, Kiai Ijo pernah menjalani latihan spiritual yang sangat berat: tidak batal wudu dan tidak mengedipkan mata selama 41 hari penuh.


2. KH. Siroj (dari Karangwareng)

Berasal dari keluarga kaya di Karangwareng, Kecamatan Karang Sembung, Kabupaten Cirebon, Kiai Siroj mengaji di Pesantren Gedongan hingga putra bungsu Kiai Sa’id menikah.

Ia bahkan turut hadir dan mengantar pengantin ke Solo bersama Kiai Munawir dari Krapyak Jogjakarta, saat putra Kiai Sa’id menikah dengan putri keturunan keraton Solo.

Sebelum wafat, Kiai Siroj berpesan kepada anak-anaknya agar tidak memutus hubungan dengan keturunan Kiai Sa’id — dan pesan itu terus dijaga hingga kini.


3. KH. Amin (dari Kalimukti)

Berasal dari Desa Kalimukti, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, KH. Amin dikenal sebagai murid yang paling setia mendampingi Kiai Sa’id ke mana pun beliau pergi — termasuk sebagai pengemudi dokar pribadi sang kiai.

Yang menarik, KH. Amin adalah ayah kandung dari KH. Mahrus Amin — pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah di Kebayoran Lama, Jakarta, sekaligus pendiri Pesantren Madinnatunnajah yang kini tersebar di banyak daerah, terutama Jawa Barat dan DKI Jakarta.


4. KH. Suchaimi (Pendiri Pesantren Assalafiyah Brebes)

KH. Suchaimi adalah pendiri Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, Kabupaten Brebes. Bersama mertuanya (Kiai Ambari) dan saudaranya (Kiai Manshur), setiap tahun mereka menyedekahkan sebagian hasil sawah kepada Kiai Sa’id — padi tersebut diangkut dengan pedati berkuda sejauh ratusan kilometer dari Brebes ke Gedongan.

Tradisi kesetiaan ini berlanjut hingga masa Kiai Siroj, putra bungsu Kiai Sa’id. Kini Pesantren Assalafiyah Luwungragi telah berkembang menjadi pesantren terkemuka di Brebes, diasuh oleh keturunan Kiai Suchaimi dan Kiai Manshur, antara lain Kiai Subhan Ma’mun dan Kiai Kholil Suchaimi.


Jaringan Pesantren: Hubungan Gedongan dengan Pesantren Besar Lainnya

Pesantren Gedongan bukan berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan sejumlah pesantren besar melalui jalur kekerabatan dan pernikahan:

Dengan Pesantren Benda Kerep

Kakak kandung Kiai Sa’id, Ny. Maesaroh, menikah dengan Kiai Sholeh, pendiri Pondok Pesantren Benda Kerep Cirebon. Hubungan ini kemudian diperkuat ketika Kiai Nachrowi (putra kedua Kiai Sa’id) menikah dengan Ny. Humairoh, putri Kiai Sholeh Benda Kerep.

Dengan Pesantren Buntet

Istri Kiai Sa’id, Nyai Maemunah, adalah kakak kandung Kiai Abas Buntet — tokoh Pesantren Buntet yang sangat legendaris di Cirebon.

Dengan Pesantren Kempek

Kiai Maksum Siraj dan Kiai Aqil Siraj (cucu Kiai Sa’id) masing-masing menikahi Ny. Rubai’ah dan Ny. Afifah, putri Kiai Harun — pendiri Pondok Pesantren Kempek, Cirebon.

Dengan Pesantren Lirboyo Kediri

Kiai Mahrus Ali menikah dengan Ny. Zainab, putri Kiai Abdul Karim — pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.


Kisah Karamah: Belanda Dibuat Bingung

Menurut sejarah yang dituturkan turun-temurun, ketika tentara Belanda hendak menyerang ketiga pesantren yang bersaudara ini, mereka justru dibuat bingung oleh penglihatan yang aneh:

  • Pesantren Gedongan tampak seperti lautan
  • Pesantren Buntet tampak seperti tumpukan padi

Kebingungan itulah yang membuat serangan Belanda tidak berhasil dilakukan.


Penutup

KH. Muhammad Sa’id adalah ulama yang tidak hanya mendirikan pesantren, tetapi juga membangun jaringan keilmuan dan kekerabatan yang kuat antar pesantren di Jawa. Dari Gedongan, lahirlah murid-murid yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren besar dan berpengaruh di berbagai daerah.

Warisannya bukan sekadar bangunan atau nama — melainkan semangat keilmuan, kesetiaan, dan jalinan ukhuwah yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker