
Mengenal Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri, ulama asal Bogor kelahiran 1884 yang menjadi pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, mewarisi halaqah dengan 300 santri dari seluruh dunia, dan melahirkan ulama-ulama besar Nusantara.
Siapa Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri?
Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri adalah seorang ulama besar asal Bogor, Jawa Barat, yang mencapai puncak keilmuannya di Mekah hingga dipercaya menjadi pengajar tetap di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Beliau dikenal luas di kalangan ulama Haramain dan para pelajar Islam dari Asia Tenggara (Jawah) sebagai sosok yang alim, tekun, dan metode pengajarannya yang khas memadukan teori dan praktik.
Nama lengkapnya adalah Muhammad Ahyad ibn Muhammad Idris ibn Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri. Nisbah al-Bughuri merujuk pada asal-usulnya dari Bogor (Bughur).
Kelahiran dan Wafat
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Lahir | Malam Rabu, 21 Ramadhan 1302 H / 1884 M |
| Tempat Lahir | Bogor, Jawa Barat |
| Wafat | Malam Sabtu, 9 Shafar 1372 H / 1952 M |
| Usia | ± 70 tahun |
| Tempat Makam | Ma’la, Mekah Al-Mukarramah |
Keluarga dan Latar Belakang
Ayah beliau, Kiai Muhammad Idris, adalah seorang pendidik yang visioner. Prinsipnya dalam mendidik anak sangat jelas: tanamkan dulu ilmu agama yang kuat sebagai fondasi, baru kemudian ilmu umum menyusul sebagai pelengkap. Prinsip inilah yang membentuk karakter Ahyad muda menjadi sosok yang seimbang antara keilmuan agama dan pengetahuan umum.
Perjalanan Pendidikan
Belajar di Kampung Halaman
Pendidikan Ahyad dimulai dari ayahnya sendiri dan para ulama di sekitar Bogor. Sejak dini, beliau menguasai ilmu-ilmu dasar keislaman seperti:
- Membaca dan menghafal Al-Qur’an
- Nahwu dan Sharaf (tata bahasa Arab)
- Fiqih dan Hadis
Metode belajar yang diterapkan adalah menghafal, sorogon, dan bandongan — metode klasik pesantren yang membentuk keilmuan yang kokoh.
Untuk pendidikan umum, sang ayah memasukkan Ahyad ke Volk School hingga lulus dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) — setingkat SMP di masa kolonial Belanda. Di sini Ahyad menguasai bahasa Belanda, Matematika, dan berbagai ilmu umum lainnya.
Menuntut Ilmu ke Haramain (1899)
Pada usia 15 tahun (1899), Ahyad berangkat ke Mekah untuk belajar di halaqah para ulama Masjidil Haram — sebuah cita-cita yang sudah lama dipupuk sejak kecil.
Di Haramain, beliau berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya:
- Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri (guru utama/umdah-nya)
- Syekh Baqir ibn Muhammad Nur al-Jukjawi
- Syekh Ahmad Sanusi
- Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani
- Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani
- Syekh Muhammad Abdul Hayyi al-Kittani
Dari para guru ini, Ahyad mendalami: Fiqih Syafii, Tafsir, Hadis, Ushul Fiqih, Faraidh, Falak (Astronomi Islam), Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Arûdh (ilmu syair Arab).
Mengajar di Masjidil Haram
Ketekunan dan kecerdasan Ahyad tidak luput dari perhatian gurunya, Syekh Mukhtar. Atas rekomendasi beliau, Ahyad dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram mulai tahun 1346 H (1927), bertempat di Bab al-Nabi Muhammad SAW.
Jadwal mengajarnya meliputi empat waktu dalam sehari:
- Sebelum shalat Dzuhur
- Setelah shalat Subuh
- Setelah shalat Maghrib
- Setelah shalat Isya
Materi yang diajarkan mencakup Faraidh (ilmu waris) dan Fiqih Mazhab Syafii.
Mewarisi Halaqah Syekh Mukhtar
Ketika Syekh Mukhtar wafat pada tahun 1930, Ahyad dipercaya untuk menggantikan posisi gurunya sebagai pengajar utama di Masjidil Haram. Syekh Mukhtar adalah ulama dengan halaqah terbesar di Masjidil Haram — dihadiri sekitar 400 thalib dari berbagai penjuru dunia.
Meski halaqah Ahyad tidak sebesar milik gurunya, tetap terbilang sangat besar dengan sekitar 300 thalib yang hadir secara rutin. Mayoritas santrinya berasal dari kawasan Jawah (Asia Tenggara: Indonesia dan Malaysia).
Mengajar di Masjid Nabawi
Kemasyhuran keilmuan Ahyad bahkan terdengar hingga ke Madinah. Atas permintaan gurunya yang merupakan ulama terhormat di Madinah, Ahyad pun turut mengajar di Masjid Nabawi — sebuah kehormatan yang hanya diberikan kepada ulama-ulama pilihan.
Metode Mengajar yang Khas: Teori dan Praktik
Salah satu ciri khas pengajaran Syekh Muhammad Ahyad adalah perpaduan teori dan praktik langsung. Beberapa contohnya:
- Saat mengajarkan tayamum, beliau langsung mengambil debu dan memperagakannya di hadapan santri sesuai sanad keilmuan hingga Rasulullah SAW.
- Saat mengajarkan ilmu Falak (astronomi Islam), beliau mengajak santri keluar untuk mengamati langsung bintang-bintang di langit dengan mata telanjang, mengenalkan nama-nama bintang dan planet satu per satu.
Metode unik ini kemudian diwariskan kepada murid-muridnya, salah satunya Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani, yang juga mengajak santrinya mengamati langit di padang pasir dari terbenamnya matahari hingga menjelang fajar.
Kitab-Kitab yang Diajarkan
Menurut kesaksian Syekh Yasin al-Fadani, kitab-kitab yang diajarkan Syekh Muhammad Ahyad di Masjidil Haram antara lain:
- Jâmi’ al-Tirmidzî
- Iqna’ li al-Khatîb al-Syarbinî
- Umdatu al-Abrâr fi al-Manâsiki al-Hajji wa al-Umrah
- Syarah Ibn Aqîl ala al-Fiyah Ibn Malik
- Mandzumâtu al-Qawâ’idu al-Fiqhiyyah
- al-Mawâhibu al-Saniyyah Syarh Mandzumâtu al-Qawâ’idu al-Fiqhiyyah
- Risâlah Adab wa al-Bahts
Murid-Murid yang Menjadi Ulama Besar
Di antara santri Syekh Muhammad Ahyad yang kemudian menjadi ulama besar adalah:
- Syekh Husein al-Palimbani
- Syekh Abdul Qadir ibn Muthalib al-Mindili
- Syekh Sodiq ibn Muhammad al-Jawi
- Syekh Zakaria Bela
- Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani (ulama hadis terkemuka Mekah asal Padang)
- Sayyid Muhsin ibn Ali al-Musawa
- Sayyid Hamid ibn Alawi al-Kaff
- Syekh Zain ibn Abdullah al-Baweani
- Syekh Abdul Karim al-Banjari
Peran Lain: Pemimpin Majelis Zikir dan Khalifah Tarekat
Selain mengajar, Syekh Muhammad Ahyad juga dipercaya memimpin majelis zikir yang sebelumnya dipimpin oleh Syekh Mukhtar. Jamaah majelis ini mayoritas pengikut Tarekat Qadiriyah wa al-Naqsabandiyah.
Beliau menerima baiat tarekat ini langsung dari Syekh Mukhtar, dan sekaligus diangkat sebagai khalifah (penerus) beliau.
Kedekatan Ahyad dengan Syekh Mukhtar bukan hanya sebatas hubungan guru dan murid. Beliau juga menjadi menantu Syekh Mukhtar dengan menikahi putrinya. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai tujuh orang anak, di antaranya: Muhammad Thayyib, Idris, Sa’dullah, dan Abdullah.
Karya-Karya Tulis
Syekh Muhammad Ahyad meninggalkan sejumlah karya tulis yang menjadi warisan intelektual beliau:
- Ta’lîqat alâ Kitab Jâmi’ al-Tirmidzî — catatan ilmiah atas kitab hadis Tirmidzi
- Hasyiyah alâ al-Kitab Umdati al-Abrâr fi Manâsiki al-Hajji wa al-I’timâr li Sayyid Ali al-Wanâ’i — komentar atas kitab manasik haji
- Ta’liqatu ala Nadzmi al-Qawâ’idi al-Fiqhiyyati — catatan atas kaidah-kaidah fikih
- Tsabat bi Asânidihi — kitab yang memuat silsilah sanad keilmuan beliau
Karya-karya ini, beserta koleksi kitab pribadinya, banyak yang diwakafkan di Madrasah Dar al-Ulum agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh para pelajar.
Fakta Singkat Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | Muhammad Ahyad ibn Muhammad Idris ibn Abi Bakar al-Bughuri |
| Lahir | 1884 M / 1302 H, Bogor, Jawa Barat |
| Wafat | 1952 M / 1372 H, dimakamkan di Ma’la, Mekah |
| Guru Utama | Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri |
| Mengajar | Masjidil Haram (1927) & Masjid Nabawi, Mekah-Madinah |
| Jumlah Santri | ± 300 thalib dari seluruh dunia |
| Tarekat | Khalifah Qadiriyah wa al-Naqsabandiyah |
| Karya | 4 kitab utama + koleksi wakaf di Dar al-Ulum |








