
KH. Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan) — Ketua PWNU Jawa Barat & Pengasuh Pesantren Ashiddiqiyah Karawang
Profil Singkat
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | KH. Hasan Nuri Hidayatullah |
| Nama Panggilan | Gus Hasan |
| Lahir | 25 Februari 1978 |
| Asal | Banyuwangi, Jawa Timur |
| Domisili | Cilamaya, Karawang, Jawa Barat |
| Ayah | KH. Ibrahim Majid |
| Ibu | Nyai Hj. Sa’adatul Ukhrowiyah |
| Pesantren | Ashiddiqiyah 3 & 4, Cilamaya, Karawang |
| Jabatan NU | Ketua PWNU Jawa Barat (2016–2021) |
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
KH. Hasan Nuri Hidayatullah, atau yang lebih akrab disapa Gus Hasan, adalah sosok ulama muda yang namanya sudah sangat dikenal luas di Karawang, Jawa Barat — khususnya di Kecamatan Cilamaya. Ia dikenal sebagai kiai yang santun, cerdas, progresif, dan memiliki visi jauh ke depan.
Meski usianya terbilang muda, kedalaman ilmunya tidak kalah dengan para kiai senior. Ini tidak lepas dari lingkungan keluarga dan pesantren yang membentuk karakternya sejak dini.
Gus Hasan lahir dari pasangan KH. Ibrahim Majid — seorang kiai asal Banyuwangi — dan Nyai Hj. Sa’adatul Ukhrowiyah, putri pendiri Pesantren Manba’ul Ulum, Berasan, Muncar, Banyuwangi. Dengan latar keluarga pesantren yang kuat, nilai-nilai Islam dan tradisi keilmuan sudah mengalir dalam darahnya sejak kecil.
Perjalanan Pendidikan
Belajar di Pesantren Kakek
Pendidikan Gus Hasan dimulai di Pesantren Manba’ul Ulum Berasan, Muncar, Banyuwangi, yang dipimpin oleh KH. Iskandar (Askandar) — kakek kandungnya sendiri. Meski statusnya sebagai cucu sang kiai, Gus Hasan tetap menjalani kehidupan santri biasa dengan penuh kesederhanaan.
Ia bahkan memilih tinggal di asrama bersama teman-temannya ketimbang di rumah sang kakek. Di sini karakter sosialnya mulai terlihat: ia rajin, ramah, dan tidak sungkan membantu teman yang kesulitan belajar maupun yang membutuhkan bantuan materi.
“Di mana ada Hasan, di situ pasti teman-temannya berkumpul.”
Selama di pesantren, belajar Al-Qur’an ia dapatkan langsung dari neneknya, sementara ilmu fiqih ia pelajari dari KH. Hasan Sadzili, pamannya.
Melanjutkan ke Jakarta
Selepas pendidikan dasar, Gus Hasan melanjutkan ke Pesantren Ashiddiqiyah, Jakarta, yang dipimpin KH. Noer Muhammad Iskandar — pamannya. Pengalaman hidup di Jakarta membentuknya menjadi pribadi yang luwes menghadapi perbedaan budaya dan cara pandang.
Di jenjang SMP, ia dipercaya menjadi pengurus OSIS. Di SMA, ia diamanahi sebagai Ketua Rohis tingkat SMA se-Jakarta Barat. Tidak hanya itu, ia juga berhasil meraih juara lomba muhadloroh (pidato) antar santri di pesantren.
Menuntut Ilmu di Madinah
Pada tahun 1997, Gus Hasan melanjutkan pendidikannya ke Rubat Al-Jufri, Madinah, Arab Saudi — sebuah lembaga pendidikan Islam tinggi yang diasuh oleh Habib Zein bin Smith. Di sana, ia juga belajar dari ulama-ulama besar seperti Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri dan Syekh Musthofa At-Turki.
Selama empat tahun di Madinah (1997–2001), Gus Hasan tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menunaikan ibadah haji setiap tahun dan aktif membimbing jamaah haji dari Indonesia — pengalaman yang sangat berharga bagi seorang ulama muda.
Memimpin Pesantren Ashiddiqiyah Karawang
Sekembalinya dari Madinah pada tahun 2002, Gus Hasan dipercaya memimpin Pesantren Ashiddiqiyah 3 yang berlokasi di Cilamaya, Karawang. Tugas ini awalnya terasa berat — memimpin pesantren bukan sekadar mengajar, melainkan juga menjadi teladan hidup bagi ratusan santri.
Inovasi Kurikulum
Gus Hasan memadukan dua pendekatan pendidikan:
- Pesantren Salaf: penguasaan kitab kuning ( turats)
- Pesantren Modern: kemampuan bahasa asing (Arab dan Inggris)
- Program Tahfidz: kewajiban hafalan Al-Qur’an bagi seluruh santri
Program Kewirausahaan Santri
Selain ilmu agama, santri juga dibekali keterampilan berwirausaha. Beberapa programnya antara lain:
- Koperasi santri yang dikelola langsung oleh para santri
- Koperasi asatidz sebagai wadah pengembangan ekonomi para guru
- Pinjaman modal tanpa agunan bagi asatidz yang ingin mengembangkan usaha
Penghargaan untuk Asatidz Berprestasi
Gus Hasan juga memperhatikan kesejahteraan para guru dengan program:
- Kepemilikan rumah: tanah dibeli dan dibangunkan rumah atas nama asatidz, dengan cicilan terjangkau ke pesantren
- Umroh gratis: diberikan setiap tahun kepada dua asatidz berprestasi
Program-program ini terbukti efektif menjaga loyalitas dan semangat para pengajar dalam berkhidmah di pesantren.
Peran di Nahdlatul Ulama
Kesibukan mengasuh pesantren tidak membuat Gus Hasan menjauh dari organisasi NU. Pada tahun 2006, ia diamanahi sebagai Wakil Katib PWNU Jawa Barat. Setahun kemudian (2007), saat usianya baru 29 tahun, ia terpilih sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Karawang — kepercayaan luar biasa yang diberikan para kiai senior kepada sosok muda ini.
Program Pemberdayaan Ekonomi Umat
Sebagai pimpinan PCNU Karawang, Gus Hasan tidak hanya fokus pada kegiatan keagamaan. Ia juga menggulirkan berbagai program pemberdayaan ekonomi umat, di antaranya:
Koperasi Berbasis Jamaah Majelis Taklim
Gus Hasan mendorong pendirian koperasi berbasis jamaah majelis taklim dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai sarana penguatan ekonomi rakyat.
Program Pinjaman Kelompok Tanpa Agunan
Bekerja sama dengan BMT Niaga Utama Karawang, ia turun langsung ke masyarakat dengan pola pemberdayaan berkelompok:
- Masyarakat dibentuk dalam kelompok 10 orang
- Setiap anggota bisa mendapat pinjaman maksimal Rp10 juta tanpa agunan
- Pengembalian dilakukan dengan cicilan ringan
- Anggota kelompok saling bertanggung jawab dan mendukung satu sama lain
Program ini menjadi pilot project di beberapa kecamatan, yaitu Telagasari, Tempuran, Cilamaya Wetan, dan Cilamaya Kulon. Selain membantu perekonomian, program ini juga efektif memangkas praktik rentenir berkedok koperasi.
“Seberapapun modal yang diberikan kepada masyarakat, jika tidak dibarengi pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan, hasilnya tidak akan maksimal.”
— KH. Hasan Nuri Hidayatullah
Pengajian Malam Kamis & Bedah Mushola
Gus Hasan juga menggagas pengajian rutin malam Kamis di Pesantren Ashiddiqiyah 3 yang kini selalu dipadati jamaah. Setelah pengajian, dilanjutkan dengan program “Bedah Mushola” — bakti sosial renovasi mushola di sekitar Cilamaya menggunakan dana infak jamaah. Program ini berjalan sejak tahun 2016, dilaksanakan satu kali setiap bulan.
Menjadi Ketua PWNU Jawa Barat
Pada 11 Oktober 2016, dalam Konferensi Wilayah NU Jawa Barat yang dilaksanakan di Pesantren Fauzan, Garut, Gus Hasan terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Barat periode 2016–2021. Pelantikannya dilakukan pada 17 Desember 2016 oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA.
Ia didampingi KH. Muhammad Nuh Ad-Dawami, pimpinan Pesantren Nurul Huda Garut, sebagai Rois Syuriah PWNU Jawa Barat.
Visi Menjadikan Kantor PWNU sebagai Pesantren Percontohan
Salah satu gagasan besarnya adalah menjadikan kantor PWNU Jawa Barat sebagai lingkungan pesantren percontohan — mengintegrasikan nilai-nilai pesantren ke dalam gerakan organisasi NU secara menyeluruh.
“Kantor PWNU Jawa Barat akan kita jadikan lembaga pendidikan pesantren percontohan. Ke depan, lingkungan sekitarnya akan kita kembangkan menjadi lingkungan pondok pesantren.”
Tiga Bekal untuk Pengurus NU
Kepada seluruh jajaran pengurus, Gus Hasan menekankan tiga hal utama sebagai bekal berorganisasi:
- Ilmu — fondasi setiap amal dan gerak organisasi
- Akhlak — kunci dakwah yang merangkul, bukan memisahkan
- Kesungguhan — tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras dan komitmen nyata
Kisah Keteladanan Gus Hasan
Sang Kiai yang Dikira Santri
Suatu ketika, serombongan wali santri datang berkunjung ke pesantren. Saat tiba, mereka disambut oleh seorang pria berpakaian sederhana yang sedang menerima tamu di teras. Tidak ada yang menyangka bahwa pria itulah Gus Hasan sendiri.
Setelah lama berbincang, ketua rombongan meminta agar diantar menemui “pak kyai”-nya. Betapa kagetnya mereka saat menyadari bahwa orang yang mereka ajak bicara sejak tadi adalah Gus Hasan sendiri. Dengan senyum, Gus Hasan hanya berkata:
“Saya sudah sering mengalami kejadian seperti ini. Banyak orang mengira bahwa Gus Hasan sudah tua, ternyata tidak.”
Ajudan yang Dikira Kiai
Kisah lain tak kalah menggelitik. Saat menghadiri pengajian di luar daerah, tuan rumah salah menyangka ajudan Gus Hasan — yang berpakaian necis dan berdasi — sebagai sang kiai. Jamaah pun berebut menyalaminya dan mempersilakannya duduk di tempat kehormatan.
Sementara Gus Hasan sendiri dengan santai duduk di kursi jamaah biasa. Baru ketika tiba saatnya ia naik mimbar, semua orang tersadar dan memohon maaf. Gus Hasan hanya menanggapi dengan senyum tulus.
Istiqomah Mengimami Shalat
Para santri mengenal Gus Hasan sebagai sosok yang luar biasa istiqomahnya. Meski jadwal kegiatannya sangat padat, ia selalu mengimami shalat Maghrib dan Isya bersama santri tanpa pernah absen. Prinsip yang selalu ia tanamkan:
“Al-Istiqomah khairun min alfi karomah” — Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah.
Kesimpulan
KH. Hasan Nuri Hidayatullah adalah gambaran nyata seorang ulama masa kini: berakar kuat pada tradisi pesantren, namun berpikiran terbuka dan inovatif. Dengan memadukan ilmu agama yang mendalam, kepedulian sosial, dan visi pemberdayaan ekonomi umat, Gus Hasan telah membuktikan bahwa seorang kiai tidak hanya berperan di atas mimbar, tetapi juga di tengah kehidupan nyata masyarakat.
Sosoknya yang sederhana, humoris, dan penuh keteladanan menjadikannya panutan yang dihormati — bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena akhlak dan dedikasinya yang tulus.








