
Profil Ulama | Biografi Imam Fakhruddin Ar-Razi Sang Ulama Multi Talenta

Imam Fakhruddin ar-Razi, yang bernama lengkap Muhammad bin Umar bin Al-Hasan At-Tamimy Al-Bakry Al-Qurasyi At-Tibristani Ar-Razi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari, adalah salah satu ulama terhebat dan paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Lahir pada 25 Ramadhan 543 H di kota Ray (sekarang Tehran, Iran), beliau dikenal sebagai ahli tafsir, filsafat, ilmu kalam, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Jejak Pendidikan dan Silsilah Keilmuan
Fakhruddin ar-Razi mengawali pendidikannya dari sang ayah, Dziya’uddin Umar.
Setelah ayahnya wafat, ia melanjutkan studinya kepada ulama-ulama terkemuka di kota ar-Ray.
Salah satu gurunya yang paling berpengaruh adalah Majdidin Al-Jaili, seorang ahli hikmah, kalam, dan fikih yang sangat dihormati.
Saking lamanya berguru, Fakhruddin ar-Razi menjadi sosok yang tak tertandingi pada masanya.
Dalam ilmu ushuluddin (ilmu tauhid/kalam), ia memiliki silsilah keilmuan yang luar biasa.
Ia belajar dari ayahnya, yang kemudian terhubung hingga ke Imam Al-Haramain Al-Juwaini dan bahkan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, pendiri mazhab teologi Asy’ariyah.
Sementara dalam ilmu fikih, ia juga belajar dari ayahnya, yang kemudian silsilahnya sampai kepada Imam Asy-Syafi’i melalui jalur ulama-ulama besar seperti Al-Farra’ Al-Baghawi dan Al-Qadhi Hussin Al-Marwazi.
Keistimewaan dan Keteladanan
Imam Fakhruddin ar-Razi adalah sosok serba bisa (multidisiplin).
Beliau menguasai fikih, bahasa dan sastra, logika (mantik), ilmu kalam, bahkan ilmu kedokteran dan hikmah.
Ketika beliau berjalan, ratusan murid mengiringinya, siap menyerap ilmu dari berbagai bidang.
Cara mengajarnya sangat unik.
Beliau dikelilingi oleh murid-murid seniornya yang siap menjawab pertanyaan.
Jika ada pertanyaan yang sulit, murid senior akan menjawabnya.
Jika terlalu sulit, barulah beliau yang akan menjawab sendiri.
Kedudukannya yang tinggi dalam ilmu ushul fikih membuat para ulama sering menyebutnya hanya dengan “Al-Imam” (sang Imam) tanpa menyebut namanya, karena sudah pasti merujuk pada Fakhruddin ar-Razi.
Beliau juga dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam berkarya.
Karya-karyanya, terutama dalam ilmu tafsir, telah mengisi kekosongan literatur Islam dan menjadi mercusuar ilmu bagi umat.
Ketulusannya dalam berkarya semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT menjadikannya sosok yang memiliki pemahaman mendalam dan kemampuan menulis yang luar biasa.
Sekilas Pemikiran dan Gelar-Gelar Kehormatan
Salah satu pemikiran menarik Fakhruddin ar-Razi adalah penafsirannya terhadap kalimat “La Ilaha Illallah”.
Berbeda dengan pandangan umum yang mengartikan “illa” sebagai pengecualian (istisna’), ia berpendapat bahwa “illa” bermakna “selain” (ghairu).
Menurutnya, jika “illa” diartikan sebagai pengecualian, kalimat tersebut tidak akan menjadi kalimat tauhid yang murni, karena secara implisit akan menetapkan adanya tuhan-tuhan lain yang dikecualikan.
Dengan mengartikannya sebagai “selain”, makna kalimat tersebut menjadi “Tidak ada tuhan selain Allah,” yang secara tegas menyatakan tauhid murni.
Berkat keluasan ilmunya, Fakhruddin ar-Razi dianugerahi banyak gelar, termasuk:
- Syaikh Al-Islam (Guru Besar dalam pengajian Islam)
- Imam Al-Mutakallimin (Panutan ulama ilmu Kalam)
- Fakhr Al-Islam (Kebanggaan agama Islam)
- Hujjatullah fi ‘Alamin (Tanda kebesaran Allah di muka bumi)
Karya-Karya Monumental
Fakhruddin ar-Razi meninggalkan warisan berupa karya-karya yang sangat banyak, terbagi dalam bahasa Arab yang selesai ditulis, bahasa Arab yang belum selesai, dan bahasa Persia.
Karya Terkenal dalam Bahasa Arab:
- Kitab Tafsir Al-Kabir: Kitab tafsir paling terkenal yang terdiri dari 32 jilid.
- Kitab Al-Mahshul fi Ilmi Usul Fiqh
- Kitab Manakib Al-Imam Asy-Syafi’i
- Lawami ul Bayyinat fi Syarh Asma’ Al-Allah was-Sifat
Karya yang Belum Selesai:
- Kitab Syarh Wajiz Al-Ghazali
- Kitab Al-Jami’ Al-Kabir fi Thibb (Kitab Besar dalam Ilmu Kedokteran)
Fakhruddin ar-Razi wafat pada tahun 606 H di Herat.
Beberapa riwayat menyebutkan kematiannya akibat diracun.
Terlepas dari bagaimana ia menghembuskan napas terakhirnya, jejak keilmuannya tetap abadi dan menjadi referensi penting bagi umat Islam hingga saat ini.









One Comment