
Profil Ulama | Biografi Imam Al Qusyairi : Penulis Kitab Risalah Qusyairiyah

Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi adalah salah satu tokoh ulama paling menonjol pada zamannya (abad ke-4 dan ke-5 H). Beliau adalah sosok langka yang mampu mengintegrasikan Syariat (fikih Syafi’i) dan Hakikat (tasawuf Asy’ariyah). Karyanya yang paling masyhur, Al-Risalah Al-Qusyairiyah, menjadi rujukan utama dalam disiplin tasawuf sunni hingga hari ini.
Kelahiran dan Nasab
- Nama Lengkap: Abdul karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Tholhah bin Muhammad al-Qusyairi.
- Kelahiran: Beliau lahir pada bulan Rabi`ul Awwal 376 H (986 M) di Ustua (Astawa), Naisabur, daerah Khurasan, Iran.
- Tempat Tinggal: Beliau hidup hingga akhir hayat di Naisabur, salah satu ibu kota Islam terbesar pada abad pertengahan, yang juga merupakan tempat lahir Umar Khayyam dan Fariduddin ‘Atthaar.
- Nasab Mulia (Qusyair): Nama al-Qusyairi merujuk pada Qusyair, marga dari suku Qahthaniyah yang awalnya menempati Hadhramaut. Nasab lengkapnya adalah Ibnu Ka’b bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Qais bin Ailan. Keluarga besar Qusyair ini adalah orang-orang Arab yang berbondong-bondong memasuki Islam dan datang ke Khurasan di zaman Umayah.
- Hubungan Keluarga: Beliau mempunyai hubungan nasab dari pihak ibunda pada as-Sulamy. Pamannya, Abu Uqail as-Sulamy, adalah salah seorang pemuka wilayah Astawa.
- Mazhab: Beliau mengikuti Mazhab Syafi’i dalam fikih dan Mazhab Asy’ari dalam ilmu kalam (akidah).
Masa Muda dan Pilihan Jalan Hidup
- Masa Kecil: Beliau menjadi yatim piatu sejak kecil dan kemudian diasuh oleh Abul Qasim Al-Alimani, sahabat karib keluarga Qusyairi, tempat beliau belajar bahasa dan sastra Arab.
- Cita-Cita Awal: Awalnya, al-Qusyairi bercita-cita meringankan beban rakyat dari pajak yang tinggi akibat ulah penguasa. Karena itu, beliau pergi ke Naisabur untuk belajar ilmu hitung yang berkaitan dengan pajak.
- Perubahan Haluan: Sesampainya di Naisabur, beliau bertemu dengan maha guru Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisaburi Ad-Daqaq. Gurunya ini memiliki firasat bahwa pemuda ini cerdas dan brilian, sehingga mengajarkan berbagai macam bidang ilmu. Setelah itu, Al-Qusyairi mencabut cita-citanya menguasai peran pemerintahan dan memilih thariqah (jalan tasawuf) sebagai garis perjuangan hidup.
Kehidupan Keluarga
- Pernikahan: Beliau menikah dengan Fatimah, putri dari guru sejatinya, Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisaburi Ad-Daqaq. Fatimah adalah wanita yang berilmu, beradab, dan termasuk ahli zuhud yang meriwayatkan banyak hadis. Beliau hidup bersamanya sejak 405 H (1014 M) hingga 412 H (1021 M).
- Keturunan: Asy-Syaikh meninggalkan 6 orang putera dan seorang putri yang kesemuanya adalah ahli ibadah:
- Abu Said Abdullah
- Abu Said Abdul Wahid
- Abu Manshur Abdurrahman
- Abu Nashr Abdurrahim
- Abu-Fatih Ubaidillah
- Abu-Mudzaffar Abdul Mun’im
- Ummatul Karim (putri)
Guru-Guru dan Murid-Murid
Guru-Guru
Selain berguru pada mertuanya, Abu Ali Ad-Daqaq, Imam Al-Qusyairi juga berguru pada:
- Al Mas’udi
- Abu Ali At-Thabari
- Al Qaffal Al Kabir Asy-Syasyi
- Abdurrahman Muhammad ibn al-Husain (sufi, penulis, dan sejarawan)
- Abu Bakr Muhammad ibn Abu Bakr at-Thusy
- Abu Bakr Muhammad ibn al-Husain (ulama ahli Ushul Fiqh)
- Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad
- Abu Abbas ibn Syuraih
- Abu Mansyur Abdul Qohir ibn Muhammad al-Ashfarayain.
Murid-Murid
Murid-murid beliau tersebar luas dan menjadi ulama besar, di antaranya:
- Abu Bakr – Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdady (sejarawan dan ulama Hadits)
- Abu Ibrahim – Ismail bin Husain al-Husainy
- Abu Muhammad – Ismail bin Abul Qasim al-Ghazy an-Naisabury.
- Abul Qasim – Sulaiman bin Nashir bin Imran al-Anshary
- Abu Bakr – Syah bin Ahmad asy-Syadiyakhy.
- Abu Muhammad – Abdul Jabbar bin Muhammad bin Ahmad al-Khawary.
- Abu Bakr bin Abdurrahman bin Abdullah al-Bahity.
- Abu Muhammad – Abdullah bin Atha’al-Ibrahimy al-Harawy.
- Abu Abdullah – Muhammad ibnul Fadhl bin Ahmad al-Farawy
- Abdul Wahab ibnus Syah Abul Futuh asy-Syadiyakhy an-Naisabury.
- Abu Ali – al-Fadhl bin Muhammad bin Ali al-Qashbany
- Abul Tath – Muhammad bin Muhammad bin Ali al-Khuzaimy.
Keilmuan, Pujian, dan Gelar Kehormatan
Imam Al-Qusyairi dikenal sebagai ulama multi-disiplin yang menguasai berbagai bidang ilmu:
- Ushuluddin (Akidah): Beraliran Mazhab Asy’ari.
- Ilmu Fiqih: Beraliran Mazhab Syafi’i.
- Ilmu Tasawuf: Beliau adalah sufi sejati yang tulus memperjuangkan ajaran tasawuf murni, dibuktikan dengan karya monumentalnya, al-Risalah al-Qusyairiyah.
Pujian Para Ulama:
- Imam Adz-Dzahabi (dalam Siyar A’lam an-Nubala): Menyebutnya sebagai “Seorang imam yang zahid, qudwah (panutan), ustadz… asy-Syafi’i, ash-Shufi, Al-Mufassir, penulis kitab ar-Risalah.” Adz-Dzahabi juga memuji keunggulan beliau dalam ilmu ushul dan furu’ serta berkata beliau tiada tandingan dalam suluk (akhlak) dan tadzkir (nasihat), serta “lembut kata-katanya, luhur budi pekertinya, serta pakar dalam menyelami makna-makna.”
- Ibnu Khallikan: Mengatakan beliau sangat berilmu dalam bidang fikih, tafsir, hadis, ushul, adab (sastra), syair, dan karya tulis. Beliau pernah haji bersama Imam Abu Muhammad al-Juwaini dan Imam Abu Bakr al-Baihaqi.
- Abu Sa’d as-Sam’ani: Menyebut beliau “tiada tertandingi dalam hal kesempurnaan dan kehebatannya” karena mampu menggabungkan antara Syariat (ilmu dzhohir) dan Hakikat (ilmu bathin).
- Imam Abu Bakr Al-Khathib: Bersaksi bahwa beliau “tsiqoh (terpercaya), indah nasehatnya, manis isyaratnya.”
- Abu Bakr Al-Bakharzi: Mengatakan beliau mahir dalam ilmu kalam Asy’ari dan “keluar dari batasan manusia” dalam wawasan keilmuan.
Gelar Kehormatan:
Atas kedudukannya yang tinggi, beliau diberi banyak gelar penghormatan, antara lain:
- al-Imam
- al-Ustadz
- asy-Syekh (Maha Guru)
- Zainul Islam
- al-Jaa’mi bainas Syariah wal haqiqat (Pengintegrasi antara Syariat dan Hakikat)
Keahlian Unik dan Karisma
- Mahir Berkuda dan Senjata: Asy-Syaikh tidak hanya seorang ulama di masjid. Beliau juga seorang yang pandai menunggang kuda, terbukti dalam berbagai lapangan pacuan kuda, dan tangkas memainkan senjata.
- Karisma Spiritual (Kisah Kuda): Kesalehan beliau diakui bahkan oleh hewan. Al-Muayyad dalam kitab Tarikhnya menulis bahwa kuda hadiah yang beliau kendarai selama 20 tahun tidak mau makan dan mati seminggu kemudian setelah beliau wafat.
Karya-Karya Monumental
Imam Al-Qusyairi adalah penulis produktif. Karya-karya beliau mencakup tasawuf, hadis, fikih, dan tafsir.
| Bidang Ilmu | Judul Karya |
| Tasawuf | al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilmi al-Tasawuf (Karya Paling Fenomenal) |
| Adab al-Shufiyah, Balaghah al-Maqashid fi al-Tasawuf, Tartib al-Suluk, fi Thariqillahi Ta’ala | |
| Hadis | Al-Arba’un fi al-Hadits, Nasikhu al-Hadits wa Mansukhuhu |
| Tafsir | at-Taisir fi ‘Ilmi al-Tafsir, Lathaif al-Isyarat |
| Akidah | al-Tauhid al-Nabawi, al-Fushul fi al-Ushul, al-Luma’ fi al-I’tiqad, Syikuyat Ahl al-Sunnah bi Hikayati ma Nalahun min al-Mihnah |
| Fikih & Lainnya | Ahkam al-Syar’i, Syarâh Asma al-Husna, Diwan al-Syi’ri, Nahw al-Qulub al-Shaghir, Nahw al-Qulub al-Kabir |
Wafat
Imam Al-Qusyairi wafat di Naisabur pada hari Ahad pagi tanggal 16 Rabi’ul Akhir tahun 465 H (19 Oktober 1072 M), dalam usia 87 tahun. Jenazah beliau disemayamkan di sisi makam gurunya, Syekh Abu Ali ad-Daqaq.









One Comment