ULAMA DUNIA

Imam Thabari: Sejarawan, dan Mufassir Agung Sepanjang Masa

Mengenal Imam Thabari — ulama besar Islam yang hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun, menulis tafsir dan kitab sejarah monumental, serta menjadi sejarawan muslim tersohot sepanjang zaman.


Siapa Imam Thabari?

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Thabari, adalah salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam. Ia dikenal sekaligus sebagai ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan sejarawan — sebuah kombinasi yang langka dan menjadikannya figur tak tertandingi di zamannya.

Dalam bidang sejarah Islam, popularitasnya setara dengan Imam Bukhari dan Muslim dalam bidang hadits. Karya-karyanya masih menjadi rujukan utama para ulama dan akademisi hingga hari ini.


Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga

Imam Thabari lahir pada akhir tahun 224 H / awal 225 H di kota Amul, Tabaristan (wilayah yang kini menjadi bagian dari Iran utara).

Keluarganya tergolong sederhana — bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan cukup miskin. Namun sang ayah, Jabir bin Yazid, adalah sosok yang sangat sadar akan pentingnya pendidikan. Ia memberikan dukungan penuh kepada putranya sejak dini, dan hal ini kelak menjadi salah satu kunci kesuksesan Imam Thabari.

Lingkungan tempat Imam Thabari tumbuh juga sangat kondusif. Kota Amul pada masa itu melahirkan banyak ulama besar, seperti Ahmad bin Harun Al-Amuli, Abu Ishaq bin Basyar Al-Amuli, dan Abdullah bin Hamad Al-Amuli — pertanda bahwa tradisi keilmuan Islam sudah berakar kuat di sana.


Anak Ajaib: Hafal Al-Qur’an di Usia 7 Tahun

Imam Thabari pernah menceritakan sendiri kepada murid-muridnya tentang masa kecilnya yang luar biasa:

“Aku sudah hafal Al-Qur’an ketika aku berumur 7 tahun, menjadi imam shalat ketika berumur 8 tahun, dan mulai menulis hadits ketika berumur 9 tahun.”

Sang ayah pun pernah bermimpi melihat anaknya berdiri di depan Rasulullah ﷺ sambil membawa wadah penuh batu yang ia lemparkan ke hadapan beliau. Penta’bir mimpi menafsirkan: “Kelak jika dewasa, ia akan sangat berguna bagi agamanya dan menyuburkan syariatnya.”

Sejak itu, sang ayah semakin bersemangat mendidik dan mendukung perjalanan ilmiah putranya.


Perjalanan Menuntut Ilmu

Imam Thabari dikenal sebagai ulama yang gemar bepergian demi ilmu. Ia belajar di berbagai kota besar dunia Islam, antara lain:

  • Kota Ray — kota pertama tempat ia menimba ilmu di luar Amul
  • Baghdad — pusat peradaban Islam saat itu
  • Syam (Suriah) — untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu
  • Mesir — salah satu pusat keilmuan penting di masanya

Dari pengembaraannya yang panjang itu, Imam Thabari berguru kepada banyak ulama besar dan berhasil menguasai berbagai disiplin ilmu Islam secara mendalam.


Guru-Guru Imam Thabari

Beberapa guru utama Imam Thabari yang dicatat oleh Imam Adz-Dzahabi antara lain:

  • Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Asy-Syawarib
  • Ismail bin Musa As-Sanadi
  • Ishaq bin Abi Israel
  • Muhammad bin Hamid Ar-Razi
  • Ahmad bin Mani’
  • Abu Kuraib Muhammad bin Abdul A’la Ash-Shan’ani
  • Muhammad bin Al-Mutsanna
  • Dan sejumlah ulama besar lainnya

Murid-Murid Imam Thabari

Di antara murid-murid yang pernah belajar langsung kepadanya:

  • Abul Qasim Ath-Thabarani (penyusun Mu’jam Thabarani)
  • Ahmad bin Kamil Al-Qadhi
  • Abu Bakar Asy-Syafi’i
  • Abu Ahmad Ibnu Adi
  • Abu Muhammad Ibnu Zaid Al-Qadhi
  • Abu Al-Mufadhdhal Muhammad bin Abdillah Asy-Syaibani
  • Dan banyak ulama lainnya

Imam Thabari sebagai Sejarawan Muslim

Dalam bidang sejarah, Imam Thabari menempati posisi yang sangat istimewa. Ia memiliki metode penulisan sejarah yang unik dan sistematis, yang membedakannya dari sejarawan mana pun — baik yang datang sebelum maupun sesudahnya.

1. Berbasis Riwayat, Bukan Spekulasi

Imam Thabari berpendirian bahwa sejarah tidak sah jika hanya bersandar pada logika dan perkiraan. Dalam mukadimah kitabnya ia menegaskan bahwa seluruh informasi yang ia sajikan adalah hasil riwayat langsung dari para perawi — bukan rekayasa pikiran.

Karena prinsip ini, dalam kitabnya sering muncul beberapa versi berbeda tentang satu peristiwa. Ia membiarkan pembaca sendiri yang menilai dan memilih riwayat yang paling kuat.

2. Sangat Ketat Soal Sanad

Setiap informasi dalam kitabnya dilengkapi dengan rantai perawi (sanad) hingga ke sumber pertama — persis seperti metode para ahli hadits. Jika informasi berasal dari buku, ia menyebut pengarangnya. Jika ia mendengar sendiri, ia tulis “haddatsani fulan…” (si fulan berkata kepadaku). Jika didengar bersama orang lain, ia tulis “haddatsana fulan…” (si fulan berkata kepada kami).

3. Kronologis Berdasarkan Tahun (Hawliyat)

Untuk peristiwa-peristiwa setelah kedatangan Islam, Imam Thabari menyusun sejarah tahun per tahun secara berurutan — mulai dari hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah hingga tahun 302 H. Metode ini dikenal dengan istilah hawliyat atau annalistic form.

Untuk peristiwa pra-Islam, ia mulai dari penciptaan Nabi Adam, dilanjutkan kisah para nabi, raja-raja sezaman, hingga lahirnya Islam.

4. Memuat Teks Sastra dan Syair

Imam Thabari juga menyertakan teks-teks sastra seperti syair, pidato, dan surat-surat resmi dalam narasi sejarahnya. Pendekatan ini memperkaya konteks dan menjadikan kisah sejarah lebih hidup.

5. Penulisan Tematik untuk Informasi Umum

Informasi yang tidak terikat waktu tertentu ditulis secara tematik — misalnya, setelah membahas peristiwa di masa seorang khalifah, ia kemudian mengulas secara khusus karakter, akhlak, dan keistimewaan khalifah tersebut.


Karya-Karya Monumental Imam Thabari

Imam Thabari adalah ulama yang sangat produktif. Berikut sebagian karya besarnya:

Bidang Sejarah:

  • Tarikh Al-Umam wal Muluk (dikenal juga sebagai Tarikh Ath-Thabari) — kitab sejarah paling monumental dalam Islam

Bidang Tafsir:

  • Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an — tafsir Al-Qur’an terlengkap dan terpercaya

Bidang Hadits:

  • Tahdzib Al-Atsar wa Tafshil Ats-Tsabit ‘An Rasulillah min Al-Akhbar — Imam Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai salah satu kitab paling istimewa karya Ibnu Jarir, namun tidak sempat diselesaikan karena Imam Thabari wafat lebih dulu

Bidang Fiqih:

  • Ikhtilaf Al-Fuqaha’ — membahas perbedaan pendapat para ulama fiqih
  • Al-Basith — kitab fiqih setebal 1.500 lembar menurut keterangan Imam Adz-Dzahabi
  • Syara’i Al-Islam
  • Mukhtashar Al-Fara’idh
  • Al-Washaya
  • Az-Zakat

Bidang Lainnya:

  • Adab Al-Qadha’
  • Adab Al-Manasik
  • Adab An-Nufus
  • Al-Jami’ fil Qira’at
  • Al-‘Aqidah
  • Kitab Al-Fadhail
  • Fadhail Ali bin Abi Thalib

Sejumlah karya lainnya belum sempat dipublikasikan, di antaranya Ahkam Syara’i Islam, ‘Ibarat Al-Ru’ya, dan Al-Qiyas.


Wafat

Imam Thabari wafat pada sore hari, dua hari menjelang akhir bulan Syawal tahun 310 H. Sebagaimana dicatat oleh muridnya, Ahmad bin Kamil, jenazah beliau dimakamkan di rumahnya sendiri, di kawasan Mihrab Ya’qub, Baghdad.

Ia meninggalkan warisan keilmuan yang tidak ternilai — ribuan halaman karya tulis yang hingga kini masih menjadi rujukan para ulama, peneliti, dan akademisi di seluruh dunia.


Fakta Singkat: Imam Thabari

KeteranganDetail
Nama LengkapMuhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari
KunyahAbu Ja’far
LahirAmul, Tabaristan, ±224–225 H
Wafat310 H / Baghdad
KeahlianTafsir, Hadits, Sejarah, Fiqih
Karya UtamaTarikh Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari
Prestasi DiniHafal Al-Qur’an usia 7 tahun, imam shalat usia 8 tahun

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker