ULAMA DUNIA

Biografi Abu Syuja’ Penulis Kitab Matan Taqrib

Profil Ulama | Biografi Abu Syuja’ Penulis Kitab Matan Taqrib

Biografi Abu Syuja’ Penulis Kitab Matan Taqrib

Syaikh Al-Imam Al-Qadhi Syihabuddin Abu Syuja’, yang bernama lengkap Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Ashfahani, adalah salah satu ulama terkemuka dari mazhab Syafi’i.

Lahir di Bashrah, Irak, sekitar tahun 433 H/1041 M, beliau dikenal bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena kisah hidupnya yang luar biasa, penuh dengan pengabdian dan keteladanan.

Jejak Kehidupan dan Karier

Sejak muda, Abu Syuja’ sudah menunjukkan kecerdasan dan kedalaman spiritual.

Beliau menghabiskan 40 tahun di Bashrah untuk belajar dan mengajar fikih Syafi’i.

Pada usia 47 tahun, beliau diangkat sebagai Qadhi (hakim) dan kemudian Wazir (menteri).

Selama menjabat, beliau dikenal adil dan selalu memutuskan perkara sesuai dengan ajaran agama.

Meskipun memegang jabatan publik yang tinggi, Abu Syuja’ tidak kehilangan kedermawanannya.

Ia memerintahkan sepuluh pegawainya untuk membagikan sedekah kepada masyarakat.

Setiap pegawai diberi tugas membagikan 1.120 dinar kepada orang-orang yang berhak, menunjukkan betapa besar kepeduliannya terhadap kaum duafa.

Setelah mengabdi di pemerintahan, Abu Syuja’ memilih jalan zuhud dan meninggalkan kemewahan dunia.

Ia hijrah ke Madinah dan mengabdikan sisa hidupnya sebagai pelayan di Masjid Nabawi.

Tanpa merasa rendah diri, beliau membersihkan masjid, merapikan tikar, menyalakan lentera, dan merawat makam Rasulullah SAW.

Pengabdian ini ia jalani hingga akhir hayatnya.

Kisah Menakjubkan dan Wafatnya

Salah satu kisah paling menakjubkan dari Abu Syuja’ adalah usianya yang panjang, mencapai sekitar 160 tahun.

Di masa tuanya, beliau tetap sehat dan kuat.

Ketika ditanya rahasianya, beliau menjawab dengan kata-kata yang penuh hikmah:

“Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda, sehingga Allah menjaganya ketika kami tua.”

Beliau wafat di Madinah pada tahun 593 H/1196 M, dan dimakamkan di pemakaman Al-Baqi’, dekat makam Sayyidina Ibrahim, putra Rasulullah SAW.

“Matn Ghayah at-Taqrib”: Sebuah Mahakarya Abadi

Meskipun tidak tergolong ulama yang sangat produktif dalam menulis, Abu Syuja’ mewariskan satu karya monumental yang menjadi rujukan abadi bagi pelajar dan ulama fikih Syafi’i di seluruh dunia: Matn Ghayah at-Taqrib.

Kitab ini, yang juga dikenal sebagai Mukhtashar Abi Syuja’, adalah panduan ringkas namun padat yang mengupas tuntas amalan ibadah dalam mazhab Syafi’i.

Kitab ini menjadi kurikulum dasar di banyak pesantren dan majelis taklim, termasuk di Indonesia.

Kesederhanaan dan kedalamannya membuat banyak ulama tertarik untuk memberikan syarah (penjelasan), hasyiyah (catatan kaki), bahkan menggubahnya menjadi nazham (syair).

Beberapa syarah terkenal dari kitab ini antara lain:

  • Fath al-Qarib al-Mujib oleh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi, yang kemudian diberi hasyiyah oleh Imam al-Bajuri dan Syaikh Nawawi al-Bantani.
  • Kifayah al-Akhyar oleh Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hishni.
  • Al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’ oleh Imam Muhammad Asy-Syirbini Al-Khatib, yang kemudian diberi hasyiyah oleh Imam Bujairimi.

Banyak ulama dari berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara, telah mengerahkan tenaga untuk menyebarkan pemahaman dari kitab ini, membuktikan betapa besar pengaruh karya kecil Abu Syuja’ ini.

Klarifikasi Sejarah: Antara Sang Qadhi dan Sang Wazir

Ada kekeliruan sejarah yang telah lama beredar, mencampuradukkan riwayat hidup Imam Abu Syuja’ penulis Matn Taqrib dengan seorang wazir (menteri) yang juga bernama Abu Syuja’.

  • Wazir Abu Syuja’ (Muhammad bin Al-Husain Ar-Rudzrawari):

Lahir 437 H, wafat 488 H.

Ia menjabat menteri dan juga mengabdikan diri di Madinah.

Inilah sosok yang riwayatnya sering keliru disematkan pada penulis Matn Taqrib.

  • Al-Qadhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani):

Lahir 433 H, wafat 593 H.

Beliau adalah penulis Matn Taqrib yang berumur panjang hingga 160 tahun.

Kisah tentang kehidupan sederhana, kedermawanan, dan dedikasi total di Masjid Nabawi, serta rahasia panjang umurnya, adalah ciri khas dari Al-Qadhi Abu Syuja’, sang penulis Matn Taqrib.

Memahami perbedaan ini sangat penting untuk meluruskan sejarah dan memberikan apresiasi yang tepat kepada kedua tokoh besar ini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker