
Ada ulama Mekah yang namanya mungkin belum terlalu dikenal di Indonesia, padahal justru orang-orang Jawa-lah yang paling setia menghadiri majelis ilmunya berabad-abad lalu. Dialah Syekh Ibnu Allan Al-Makki — seorang ulama Hijaz yang menguasai fiqih, tafsir, hadits, dan tasawuf sekaligus, serta meninggalkan karya-karya yang hingga kini masih dipelajari di seluruh dunia.
Nama Lengkap dan Latar Belakang
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin ‘Allan As-Shiddiqi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari Al-Makki. Dari rangkaian namanya terkandung beberapa keterangan penting:
- As-Shiddiqi — menunjukkan nasab beliau yang tersambung kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu
- Asy-Syafi’i — bermadzhab Syafi’i dalam fiqih
- Al-Asy’ari — mengikuti akidah Asy’ariyah, madzhab akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
- Al-Makki — lahir dan besar di Mekah Al-Mukarramah
Beliau lahir di Mekah pada tahun 996 H dan dikenal luas sebagai ulama yang menguasai empat bidang sekaligus: fiqih, tafsir, hadits, dan tasawuf.
Wafat
Syekh Ibnu Allan Al-Makki wafat di Mekah Al-Mukarramah pada tahun 1057 H dalam usia 61 tahun. Beliau menghabiskan seluruh hidupnya di kota suci tersebut — menuntut ilmu, mengajar, menulis, dan berkhidmat kepada para pelajar Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Perjalanan Pendidikan
Syekh Ibnu Allan Al-Makki memulai perjalanan keilmuannya dengan menghafal Al-Qur’an beserta berbagai macam qira’at (cara baca)-nya di Mekah. Setelah itu, beliau melanjutkan dengan menghafal matan-matan kitab dari berbagai disiplin ilmu.
Dalam mendalami ilmu, beliau berguru kepada para ulama terbaik di Mekah maupun yang datang dari luar:
- Ilmu Nahwu, ‘Arudh, Ma’ani, dan Bayan — dipelajari dari Abdurrahim bin Hassan Al-Hanafi
- Ilmu Qira’at, Hadits, dan Fiqih — dipelajari dari beberapa guru, di antaranya:
- Ahmad bin Ibrahim (paman beliau sendiri)
- Muhammad bin Muhammad bin Jarillah bin Fahd Al-Hasyimi
- As-Sayyid Umar bin Abdurrahim Al-Bashr
- Kamal Al-Islam Ubaidillah Al-Khanjandi
Beliau juga mendapat ijazah meriwayatkan hadits — termasuk Shahih Al-Bukhari — dari para ulama yang datang dari luar Mekah, antara lain:
- Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Asy-Syarbini Al-‘Utsmani
- Al-Hasan Al-Buraini Ad-Dimasyqi (dari Damaskus)
- Abdullah An-Nahrawi (Mufti Mesir Madzhab Hanafi)
- Muhammad Hijazi (pakar hadits dari Mesir)
Keragaman guru dan latar belakang keilmuan mereka mencerminkan betapa serius dan komprehensifnya proses belajar Syekh Ibnu Allan Al-Makki.
Hubungan Istimewa dengan Santri Jawa
Salah satu fakta paling menarik dari biografi Syekh Ibnu Allan Al-Makki adalah kedekatan beliau dengan para pelajar Muslim dari Jawa (Indonesia). Syaikh ‘Abdurrahman Al-Khayari, salah seorang muridnya, menceritakan:
“Beliau adalah Suyuthi di zamannya. Beliau biasa membuka majelis dekte hadits antara Maghrib dan Isya’, mengisi pengajian Shahih Al-Bukhari. Setiap malam, beliau memberikan ceramah sesuai makna hadits yang dibacanya, sambil membawakan pendapat para pensyarah hadits dari hafalannya — membuat para pendengar takjub dan kagum.”
Yang menarik, justru masyarakat Mekah sendiri kurang berminat menghadiri pengajiannya. Hanya satu atau dua orang Mekah yang hadir. Sementara itu, majelis beliau dipenuhi oleh orang-orang Jawa dan Yaman.
Kisah ini berlanjut hingga akhir hayat beliau:
“Di akhir umurnya, beliau menjadi orang yang kaya raya karena banyaknya pemberian dari orang-orang Jawa, dan hartanya yang dimudharabahkan kepada penduduk Mekah.”
Fakta ini menjadi bukti sejarah yang kuat bahwa para santri Jawa (Indonesia) telah lama memiliki tradisi belajar langsung kepada ulama-ulama besar di Mekah, jauh sebelum era modern. Mereka bukan sekadar tamu, tetapi murid-murid setia yang turut menopang kehidupan para gurunya.
Karya-Karya Ilmiah
Syekh Ibnu Allan Al-Makki meninggalkan sejumlah karya yang mencakup tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, hingga isu-isu sosial seperti hukum rokok.
1. Dhiya’ As-Sabil Ila Ma’ani At-Tanzil
(Lentera Jalan Menuju Makna Al-Qur’an)
Sebuah karya tafsir yang membahas makna dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an secara mendalam.
2. Dalil Al-Falihin Ila Thuruq Riyadh Ash-Shalihin
Karya paling terkenal dari Syekh Ibnu Allan Al-Makki. Kitab ini merupakan syarh (penjelasan) atas kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi — sebuah kitab kumpulan hadits yang sangat populer di kalangan umat Islam di seluruh dunia. Kitab Dalil Al-Falihin ini menjadi salah satu referensi utama dalam kajian hadits dan akhlak Islam hingga saat ini.
3. Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyyah
Sebuah syarh atas kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi — kitab kumpulan doa dan dzikir yang sangat dicintai umat Islam. Melalui karya ini, Syekh Ibnu Allan menjelaskan makna dan keutamaan setiap doa serta dzikir yang terdapat dalam Al-Adzkar.
4. Tanbih Dzawi Al-Idrak bi Hurmah Tanawul At-Tanbak
(Rambu-rambu Untuk Orang Cerdas Terkait Haramnya Rokok)
Sebuah risalah yang membahas hukum rokok dalam Islam dari perspektif fiqih. Karya ini menunjukkan kepekaan Syekh Ibnu Allan terhadap isu-isu sosial yang berkembang di zamannya.
5. I’lam Al-Ikhwan bi Tahrim Ad-Dukhan
(Pemberitahuan kepada Handai Taulan akan Haramnya Rokok)
Masih bertemakan hukum rokok, karya ini hadir sebagai bentuk kepedulian beliau terhadap kesehatan dan kebaikan umat — sebuah tema yang tetap relevan hingga hari ini.
6. Badi’ Al-Ma’ani Syarh ‘Aqidah Asy-Syaibani
Penjelasan ilmiah atas sebuah kitab akidah, mencerminkan perhatian Syekh Ibnu Allan terhadap pemurnian dan pemantapan akidah umat Islam.
7. Husn Al-‘Inayah fi Syarh Al-Kifayah
Sebuah syarh dalam bidang fiqih yang memperkuat kontribusi beliau dalam literatur hukum Islam Madzhab Syafi’i.
8. Raf’ Al-Iltibah bi Bayan Isytirak Ma’ani Al-Fatihah wa Surah An-Nas
(Pelebur Kerancuan Terkait Hubungan Makna Surat Al-Fatihah dan An-Nas)
Sebuah kajian ilmiah yang membahas keterkaitan makna antara Surat Al-Fatihah (pembuka Al-Qur’an) dan Surat An-Nas (penutup Al-Qur’an) — sebuah tema yang unik dan jarang dibahas secara khusus.
9. Ittihaf Ats-Tsiqat li Al-Muwafaqat
Karya ilmiah lainnya yang memperkaya khazanah keilmuan yang beliau tinggalkan.
Penutup
Syekh Ibnu Allan Al-Makki adalah sosok ulama yang mengajarkan kepada kita bahwa ilmu tidak mengenal batas geografi. Di Mekah, beliau membuka majelis untuk siapa saja — dan justru para santri dari Jawa-lah yang paling antusias menyerapnya. Karya-karyanya, terutama Dalil Al-Falihin dan Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah, terus dibaca dan dikaji oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia.
Semoga Allah merahmati Syekh Ibnu Allan Al-Makki, meluaskan kuburnya di tanah suci Mekah, dan menjadikan setiap baris karya serta setiap ilmu yang beliau ajarkan sebagai amal jariyah yang tiada putus.








