
Mengenal Ibnu Daqiq al-Id, ulama besar Islam abad ke-7 Hijriah yang terkenal dengan keilmuan, kezuhudan, dan karomahnya. Biografi lengkap, karya, dan keteladanannya.
Siapa Ibnu Daqiq al-Id?
Ibnu Daqiq al-Id adalah salah satu ulama Islam terbesar yang pernah ada. Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu Al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ Al-Qusyairi Al-Manfaluthi Ash-Sha’idi Al-Maliki Asy-Syafi’i. Beliau lahir pada bulan Sya’ban tahun 625 H di dekat Yanbu’, Hijaz.
Nama “Ibnu Daqiq al-Id” menjadi nama yang paling dikenal hingga hari ini, dan sosoknya tetap menjadi rujukan para ulama di seluruh dunia.
Masa Kecil dan Pendidikan
Ibnu Daqiq al-Id menghabiskan masa kecilnya di Qaus, sebuah kota di selatan Mesir. Di sinilah ayahnya mengajar di madrasah yang didirikan oleh al-Najib bin Hibatullah pada tahun 607 H.
Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, yang mengajarkan fiqih mazhab Maliki dan Syafi’i. Dari sisi ibunya pun, beliau berasal dari keturunan yang mulia — ibunya adalah putri Imam Taqiyuddin al-Mudhoffar bin Abdullah, seorang ulama terkemuka di Qaus.
Karakter Sejak Kecil
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab al-Durar al-Kaminah mencatat bahwa sejak kecil, Taqiyuddin sudah menunjukkan karakter yang luar biasa:
- Pendiam dan hati-hati dalam berkata dan bertindak
- Tekun menuntut ilmu tanpa kenal lelah
- Sangat menjaga kesucian — bahkan di usia 10 tahun, ia mencuci sebuah tempat air berkali-kali hanya untuk memastikannya benar-benar suci sebelum diisi tinta
Meski demikian, beliau bukan sosok yang kaku. Ia juga suka bercanda dan bermain, namun tetap tidak pernah meninggalkan ibadah.
Perjalanan Mencari Ilmu
Setelah menguasai Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama di Qaus, beliau melanjutkan studinya ke Damaskus dan Iskandariah untuk memperdalam ilmu syariat dan hadits. Beberapa bidang ilmu yang beliau pelajari antara lain:
- Bahasa Arab — dari Syarafuddin Muhammad bin Abil Fadl al-Mursi
- Ushul Fiqih — dari ayahnya sendiri
- Hadits dan Fiqih — dari berbagai ulama di Qaus, Damaskus, dan Iskandariah
Guru-Guru Ibnu Daqiq al-Id
Beliau belajar dari banyak ulama besar, di antaranya:
- Abu Hasan Ali bin Wahab (ayahnya sendiri)
- Al-Baha’ al-Qufthi
- Muhammad bin Fadhl al-Mursi
- Ibnu al-Muqirah
- Ibnu al-Jumaizi
- Sabth as-Salafi
- Al-Hafizh Zakiyuddin
- Ibnu Abdid Da’im dan Abul Baqa’ Khalid bin Yusuf
- Imam Izzudin bin Abdissalam — ulama besar yang dikenal sebagai “Sultan para ulama”
Mengajar di Berbagai Madrasah Mesir
Setelah tiba di Kairo, Ibnu Daqiq al-Id mengajar di sejumlah madrasah bergengsi:
- Al-Madrasah al-Fadilah — di sisi makam Imam Husain r.a., dirintis oleh al-Qadhi al-Fadhil Abdur Rahim al-Bisani
- Madrasah Shalahiyah — dibangun oleh Shalahuddin al-Ayyubi di sisi makam Imam Syafi’i
- Madrasah al-Kamilah — di kawasan Nahhasin
- Madrasah Shalihiyah — dibangun oleh Sultan terakhir Dinasti Ayyubiyah, Shalih Najmuddin Ayyub
Sebelum ke Kairo, beliau juga sudah terbiasa mengajar di Darul Hadits di rumah peninggalan ayahnya.
Menjadi Qadhi (Hakim Agung) Mesir
Pada masa Sultan Lajin, Ibnu Daqiq al-Id diangkat menjadi Qadhi Qudhah (Hakim Agung) Mesir. Namun uniknya, beliau awalnya menolak jabatan ini. Beliau baru menerima setelah diberitahu bahwa jika menolak, jabatan itu akan diberikan kepada orang-orang yang tidak layak — dan barulah beliau menganggap menerima jabatan itu sebagai kewajiban.
Sikap Beliau Terhadap Kekuasaan
Ibnu Daqiq al-Id adalah contoh nyata ulama yang tidak silau jabatan dan kekuasaan:
- Beliau menolak memakai baju sutera yang diberikan kepada para qadhi, dan meminta menggantinya dengan baju dari bulu biasa
- Ketika Sultan Lajin berdiri untuk menghormatinya, beliau berjalan santai tanpa terburu-buru
- Saat duduk di hadapan sultan, beliau memilih duduk di atas bantal wol agar tidak duduk terlalu rendah di bawah sultan — lalu setelah selesai, ia mencuci bantal itu dan mandi, sebagai simbol betapa tidak nyamannya ia berada di lingkungan kekuasaan duniawi
Kedermawanan dan Kesederhanaan
Meski menjabat posisi tinggi, Ibnu Daqiq al-Id hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Beliau dikenal sangat dermawan hingga sering berada dalam kondisi kekurangan dan terpaksa berhutang.
Suatu ketika beliau mengaku punya hutang dari harta anak yatim. Ketika ditanya penyebabnya, beliau menjawab dengan jujur:
“Tidak ada yang menyebabkan aku terlilit hutang, kecuali karena kecintaanku pada buku.”
Karomah Ibnu Daqiq al-Id
Imam Suyuthi dalam kitab Husnul Muhadharah menyebutkan bahwa Ibnu Daqiq al-Id memiliki karomah dan mukasyafah — kemampuan mengetahui sesuatu secara batin — yang hanya dimiliki oleh para wali yang shalih.
Salah satu kisah yang terkenal: Ketika umat Islam tengah membaca Kitab Shahih Bukhari sebagai wasilah agar selamat dari serbuan pasukan Tartar, Ibnu Daqiq al-Id tiba-tiba muncul di masjid dan berkata bahwa keadaan sudah berbalik dan kaum Muslim telah menang — sebelum ada berita resmi yang datang. Beberapa hari kemudian, berita kemenangan itu benar-benar terkonfirmasi.
Karya-Karya Ibnu Daqiq al-Id
Meski kesibukannya luar biasa, beliau tetap produktif menulis. Di antara karya-karyanya yang terkenal:
| Judul Kitab | Keterangan |
|---|---|
| Syarh Al-Umdah | Penjelasan mendalam atas kitab Al-Umdah dalam fiqih |
| Al-Ilmam | Kitab komprehensif tentang fiqih dan hadits |
| Al-Imam fi Al-Ahkam | Bila selesai, diperkirakan mencapai 15 jilid |
| Kitab Ulum al-Hadits | Ilmu-ilmu hadits dan metodologinya |
Pujian Para Ulama
Al-Hafizh Quthbuddin berkata tentangnya:
“Syaikh Taqiyuddin adalah imam pada masanya, termasuk orang yang paling tinggi dalam ilmu dan kezuhudan dibandingkan rekan-rekannya. Menguasai dua mazhab, hafizh dalam hadits, dan dijadikan teladan dalam hal itu semua.”
Beliau juga dikenal:
- Simbol dalam hafalan, ketelitian, dan keseksamaan
- Sangat besar rasa takutnya kepada Allah
- Senantiasa berdzikir dan hampir tidak tidur malam kecuali sedikit
- Mengisi malamnya dengan menelaah, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan tahajjud
Wafatnya Ibnu Daqiq al-Id
Ibnu Daqiq al-Id wafat pada hari Jumat, 11 Safar 702 H dan dimakamkan di Bukit Muqattam, Kairo. Hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi masyarakat Mesir. Ribuan orang berbondong-bondong mengantar jenazahnya, para tentara dan pembesar mengantri untuk menyalatinya, dan para sastrawan di Kairo dan Qaus meratapi kepergiannya.
Kesimpulan
Ibnu Daqiq al-Id adalah potret sempurna seorang ulama yang memadukan ilmu yang luas, akhlak yang mulia, dan zuhud yang nyata. Beliau tidak tergoda jabatan, tidak silau kekuasaan, dan tidak lalai ibadah meskipun disibukkan dengan urusan dunia. Keteladanannya relevan hingga hari ini bagi siapa saja yang ingin menjadi manusia berilmu sekaligus berakhlak.








