
Profil Ulama | Profil Lengkap Imam Taqiyuddin As Subki

Imam Taqiyuddin As-Subki, lahir pada tahun 683 H di desa Subki, Mesir.
Beliau adalah salah satu ulama besar mazhab Syafi’i pada masanya.
Dikenal mahir dalam berbagai disiplin ilmu seperti tafsir, ushuluddin, fikih, nahwu, dan sharaf, beliau menjadi sosok yang sangat berpengaruh di dunia Islam, khususnya di Mesir dan Syam.
Jejak Pendidikan dan Kecerdasan yang Mumpuni
Sejak kecil, Taqiyuddin As-Subki sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa.
Orang tuanya membawanya ke Kairo untuk menimba ilmu dari para ulama terkemuka.
Di antara guru-gurunya yang paling berpengaruh adalah Hafidz Dimyathi dan Syaikh al-Islam Ibnu Daqiq al-Ied.
Berkat kecerdasan dan kedisiplinannya, beliau mampu menguasai banyak ilmu dalam waktu singkat.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Kairo, beliau melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Syam (Suriah).
Di sana, karena ketinggian ilmunya, beliau diangkat menjadi Qadhi (hakim).
Bahkan, beliau mendapat gelar prestisius Qadhi al-Qudhaa’, yang berarti “hakim dari semua hakim”, sebuah pengakuan atas keilmuan dan keadilannya.
Pengabdian dan Teladan Kepemimpinan
Taqiyuddin As-Subki tidak hanya bergelut dalam dunia pendidikan, tetapi juga mengabdi di pemerintahan.
Beliau menjabat sebagai hakim selama tujuh belas tahun, sebuah periode yang menunjukkan kepercayaan publik dan pemerintah terhadap integritasnya.
Selain itu, beliau juga menjadi khatib di Masjid Agung Umayyah dan mengajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi di Damaskus.
Saat jatuh sakit, jabatannya sebagai hakim ketua digantikan oleh sang putra, Tajuddin As-Subki, yang juga mengikuti jejak keilmuan ayahnya.
Karya-Karya Monumental dan Warisan Intelektual
Sebagai ulama yang produktif, Imam As-Subki meninggalkan setidaknya 20 kitab besar.
Karya-karyanya menjadi rujukan penting bagi para pelajar dan ulama hingga saat ini.
Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah:
- Takmilah Syarah al-Muhazzab:
Sebuah karya yang melengkapi kitab syarah Imam Nawawi, menunjukkan betapa mendalamnya pemahaman beliau terhadap fikih mazhab Syafi’i.
- Syarah Kitabu al-Minhaj:
Karya lain yang memberikan penjelasan rinci tentang kitab Imam Nawawi.
- Tafsir Ad Durun Nazhim fi tafsiril Quranil ‘Azhim:
Sebuah karya tafsir yang menjadi bukti keahlian beliau dalam ilmu Al-Qur’an.
- Kitab penolak faham Ibnu Taimiyah:
Kitab yang secara khusus membantah pandangan Ibnu Taimiyah terkait masalah talak dan ziarah kubur, menunjukkan keberanian dan ketegasan beliau dalam berargumen.
Selain itu, ada juga karya-karya lain seperti At Tahbiril Muhazzab, Raful Hajib, dan Nurul Mashabih fi Shalatit Tarawih.
Wafat
Imam Taqiyuddin As-Subki wafat di Kairo, Mesir, pada tahun 756 H.
Kepergiannya membawa duka mendalam bagi umat Islam.
Ribuan orang mengiringi prosesi penguburannya.
Bahkan, ada yang membandingkan bahwa jumlah pelayatnya hanya bisa ditandingi oleh jumlah pelayat Imam Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam.
Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan kehormatan yang dimiliki oleh Imam Taqiyuddin As-Subki di hati umat.









One Comment