
Di antara deretan ulama besar yang pernah menghiasi dunia keilmuan Islam, Syekh Ali Asy-Syibramalisi adalah sosok yang layak dikenal lebih luas. Lahir dari sebuah kampung kecil di Mesir, beliau tumbuh menjadi ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus — dari fiqih, ushul fiqih, hingga sejarah Islam.
Nama Lengkap dan Latar Belakang
Nama lengkap beliau adalah ‘Ali bin ‘Ali Asy-Syibramalisi Nuruddin Abu Adl-Dliya Al-Qahiri Asy-Syafi’i. Beberapa hal penting yang terkandung dalam nama beliau:
- Asy-Syibramalisi — nisbat kepada kampung asal beliau, Syibramalisi, Mesir
- Nuruddin — gelar kehormatan yang berarti “Cahaya Agama”
- Abu Adl-Dliya — kunyah (nama panggilan kehormatan) beliau
- Al-Qahiri — menunjukkan keterkaitan beliau dengan Kairo, tempat beliau menuntut ilmu dan berkarir
- Asy-Syafi’i — menegaskan bahwa beliau bermadzhab Syafi’i
Syekh Ali Asy-Syibramalisi lahir pada tahun 997 H di sebuah kampung kecil bernama Syibramalisi, Mesir — sebuah desa yang kemudian diabadikan dalam nama besarnya.
Pendidikan dan Perjalanan Ilmiah
Perjalanan intelektual Syekh Ali Asy-Syibramalisi dimulai dari tanah kelahirannya di Syibramalisi. Namun untuk mendalami ilmu secara serius, beliau kemudian merantau ke Kairo dan menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar — lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia.
Di Al-Azhar inilah beliau menempa diri hingga berkembang menjadi ulama yang tidak hanya menguasai satu bidang, tetapi multi-disiplin ilmu. Keahlian beliau meliputi:
- Fiqih Madzhab Syafi’i — beliau menjadi salah satu rujukan utama dalam hukum-hukum Islam versi Madzhab Syafi’i
- Ushul Fiqih — ilmu tentang dasar-dasar dan metodologi pengambilan hukum Islam
- Sejarah Islam — beliau juga mendalami tarikh sebagai pelengkap wawasan keilmuannya
Keluasan ilmu inilah yang membuat nama Syekh Ali Asy-Syibramalisi begitu dihormati di kalangan para ulama dan pelajar ilmu agama.
Wafat
Syekh Ali Asy-Syibramalisi wafat pada tanggal 18 Syawal tahun 1087 H. Beliau telah mendedikasikan hampir seluruh usianya untuk menuntut ilmu, mengajar, dan menulis karya-karya yang bermanfaat bagi umat Islam.
Karya-Karya Ilmiah
Syekh Ali Asy-Syibramalisi dikenal sebagai ulama yang gemar menulis, khususnya dalam bentuk hasyiyah — yaitu komentar dan catatan ilmiah atas karya-karya ulama terdahulu. Metode penulisan hasyiyah mencerminkan tradisi intelektual Islam yang menjaga ketersambungan ilmu dari generasi ke generasi.
1. Hasyiyah ‘ala Nihayah Al-Muhtaj
Ini adalah karya beliau yang paling terkenal dan paling banyak dirujuk. Kitab ini merupakan hasyiyah atas Nihayah Al-Muhtaj, sebuah karya fiqih Madzhab Syafi’i yang monumental karangan Imam Ar-Ramli. Nihayah Al-Muhtaj sendiri adalah salah satu kitab fiqih Syafi’i paling penting yang menjadi pegangan di pesantren-pesantren tradisional. Hasyiyah Syekh Ali Asy-Syibramalisi atas kitab ini menjadikannya semakin mudah dipahami dan diaplikasikan.
2. Hasyiyah ‘ala Syarh Asy-Syama’il li Ibni Hajar Al-Haitsami
Karya ini adalah hasyiyah atas syarh kitab Asy-Syama’il — sebuah kitab yang membahas tentang sifat-sifat dan akhlak Rasulullah ﷺ karya Imam At-Tirmidzi, yang kemudian disyarahi oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami. Melalui karya ini, Syekh Ali Asy-Syibramalisi turut memperkaya literatur tentang kepribadian dan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ.
3. Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Jazariyyah fi At-Tajwid
Karya ketiga ini adalah hasyiyah atas syarh kitab Al-Jazariyyah, sebuah matan klasik dalam bidang ilmu tajwid (cara membaca Al-Qur’an dengan benar) yang ditulis oleh Imam Ibnu Al-Jazari. Karya ini membuktikan bahwa perhatian ilmiah beliau juga menjangkau bidang Al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
Penutup
Syekh Ali Asy-Syibramalisi adalah bukti nyata bahwa keilmuan sejati tidak mengenal batas bidang. Dari kampung kecil Syibramalisi, beliau melangkah menuju Al-Azhar, lalu meninggalkan jejak ilmu yang abadi melalui karya-karyanya. Hasyiyah-hasyiyahnya — terutama atas Nihayah Al-Muhtaj — hingga kini masih menjadi referensi penting di berbagai lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia.
Semoga Allah merahmati beliau, meluaskan kuburnya, dan menjadikan setiap ilmu yang beliau wariskan sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.








