
Profil Ulama | Biografi KH. Muhammadiyah Campalagian

KH. Muhammadiyah adalah salah satu ulama Campalagian yang meninggalkan jejak perjuangan yang tak terlupakan hingga saat ini. Tiga hal utama menggambarkan kontribusi beliau:
1. Diabadikan Menjadi Nama Jalan
Nama KH. Muhammadiyah diabadikan menjadi nama Jalan KH. Muhammadiyah, bersebelahan dengan Jalan KH. Maddappungen.
Lokasi ini berada dekat dengan Masjid Raya Campalagian, sebuah pusat dakwah, pengembangan keilmuan, dan kaderisasi ulama di Mandar, Sulawesi Barat.
Masjid Raya Campalagian yang megah berukuran 40 x 42 meter ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan di wilayah tersebut.
2. Yayasan Perguruan Islam Campalagian
Yayasan Perguruan Islam Campalagian merupakan salah satu warisan penting dari KH. Muhammadiyah.
Yayasan ini mulai kokoh berdiri dengan unit Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.
Yayasan ini berawal dari Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) yang didirikan oleh KH. Abd Hamid Dahlan pada tahun 1930.
KH. Muhammadiyah memimpin perkembangan MAI hingga tahun 1937.
MAI dikenal di kalangan masyarakat sebagai Sekolah Arab, berkat kurikulum yang menggunakan kitab berbahasa Arab.
Nama KH. Muhammadiyah selalu dikenang sebagai tokoh inspiratif dari Sekolah Arab.
3. Peran dalam Kaderisasi Ulama
KH. Muhammadiyah memainkan peran sentral dalam kaderisasi ulama di Campalagian, khususnya di Bonde, melalui empat tempat utama:
Madrasah Arabiyah Islamiyah
Sebagai pusat lahir dan berkumpulnya para ulama, di sinilah KH. Muhammadiyah dan ulama lainnya memberikan pengaruh besar.
Masjid Raya Campalagian
Tempat pengajian dengan sistem halaqah dan sorogan, di mana KH. Muhammadiyah terlibat sebagai Khatib (katti’) Masjid Raya mendampingi KH. Abd Hamid Dahlan yang menjabat sebagai Qadhi ke XV (1895-1948).
Pada tahun 1959, di sebelah utara masjid ini didirikan Pesantren Calon Alim Ulama.
Rumah-rumah Para Ulama
Rumah rumah para ulama Menjadi tempat kajian kitab kuning dengan sistem sorogan dan halaqah.
Rumah Wakaf
Disediakan oleh masyarakat sebagai tempat telaah kitab, diskusi, dan tempat tinggal para santri dari luar daerah.
Contohnya, KH. Muhammad Yunus Maratan, KH. Abd Kadir Khalid, MA, dan Syekh Salim bin Jindan pernah tinggal di Campalagian untuk menuntut ilmu.
Biografi KH. Muhammadiyah
KH. Muhammadiyah lahir di Bonde, Kampung Masigi Campalagian, sekitar tahun 1901.
Beliau wafat pada tahun 1962 di Desa Komba Larompong, Palopo, Luwu, Sulawesi Selatan.
Menurut Ensiklopedi Pemuka Agama Nusantara yang diterbitkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2016, tahun kelahiran KH. Muhammadiyah tercatat sebagai 1897 di makamnya, dan wafat pada tahun 1960.
KH. Muhammadiyah lahir dari pasangan Mira dan Rundang.
Beliau menikah dengan Tammauna dan memiliki 11 anak, termasuk
- KH. Bukhari Muhammadiyah (imam Masjid Jami’ Polewali),
- Ust. Baharuddin Muhammadiyah (Khatib Masjid Raya Campalagian),
- Ust. Drs. H. Urwah Muhammadiyah (tokoh agama di Bontang),
- Hafsah dan Kasim yang juga berperan penting dalam pengembangan keagamaan di Campalagian.
Kisah Hidup Dari Kecil Hingga Wafat
Masa hidup KH. Muhammadiyah adalah periode yang penuh dinamika, ditandai dengan pertumbuhan pesat dalam pengajian dan kajian kitab kuning di Campalagian, khususnya di Kampung Masigi Bonde.
Selama masa ini, Campalagian menjadi pusat ilmu dan kebangkitan agama yang signifikan.
1. Kehadiran Para Ulama Di Campalagian
Pada awal abad ke-20, Campalagian kedatangan ulama terkemuka, KH. Maddappungen, seorang murid Syekh Abdul Karim dari Pontianak, Belokka Sidrap.
Pada tahun 1910, KH. Maddappungen menikah dengan putri KH. Abd Hamid Dahlan.
Selain KH. Abd Hamid Dahlan, Campalagian juga menerima kunjungan beberapa ulama besar, seperti Syekh Said Alwi bin Sahl bin Jamalullail dari Yaman, Syekh Said al-Yamani, dan Syekh Hasan al-Yamani, yang semuanya adalah mufti Syafi’i dari Mekkah dan Arab Saudi.
Kehadiran mereka memberikan dampak besar terhadap pengembangan pendidikan agama di wilayah tersebut.
2. Pendidikan KH. Muhammadiyah
KH. Muhammadiyah mendapatkan pendidikan langsung dari para ulama tersebut serta beberapa guru lainnya yang tidak disebutkan namanya.
Beliau juga belajar di Pulau Salemo Pangkep, Bone, dan lokasi lain, dengan fokus pada pendidikan agama dan pengajian kitab kuning, tanpa mengikuti sistem pendidikan formal yang umum pada masa penjajahan Belanda.
Santri yang belajar di bawah bimbingan KH. Muhammadiyah tidak hanya berasal dari daerah lokal, tetapi juga dari luar Polman dan Sulawesi.
Beberapa di antaranya termasuk
- KH. Hasan,
- H. Mahmud Yamin,
- KH. Mahmud,
- Kyai Ahmad Zein,
- KH. Ahmad Syamsuddin,
- Hj. Hadharah,
- al-Ust. Abd Latif Abbana Yamang,
- KH. Abd Halim dari Masalembo Jawa Timur,
- KH. Abd Latif Busyra,
- Juniara binti H. Aco, yang fasih dalam membaca aksara Lontara Bugis dan tulisan Arab berbahasa Indonesia.
3. Pendidikan Formal
Pada masa awal, pengajian kitab kuning dilakukan di masjid dan rumah KH. Muhammadiyah dengan sistem sorogan dan halaqah.
Melihat jumlah santri yang semakin banyak, KH. Abd Hamid Dahlan, yang saat itu menjabat sebagai Qadhi Masjid Raya Campalagian, memprakarsai pendirian Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) pada tahun 1930.
Meskipun madrasah telah berdiri, proses pembelajaran tetap dilakukan di rumah.
Pada tahun 1936, bangunan fisik Madrasah Arabiyah Islamiyah didirikan di atas tanah wakaf KH. Abd Hamid Dahlan di Jl. Ammana Ma’jju, Desa Bonde Campalagian.
Kini, di lokasi tersebut berdiri bangunan dua lantai yang menampung Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah di bawah Yayasan Perguruan Islam.
Pendiriannya dilakukan oleh KH. Abd Hamid, namun pengelolaan dan pembinaan banyak dilakukan oleh KH. Muhammadiyah.
4. Kontribusi dalam Kaderisasi Ulama
KH. Muhammadiyah berperan penting dalam proses pembelajaran di Madrasah, bersama ulama setempat lainnya seperti :
- KH. Abd Rahim,
- KH. Abd Kadir Ismail,
- KH. Mahmud Ismail,
- KH. Muhammad Zein,
- KH. Mas’ud Rahman,
- KH. Habib Saleh Hasan al-Mahdali,
- KH. Sayid Muhammad Said Hasan al-Mahdali,
- KH. Abdullah Maddappungen,
- KH. Najamuddin Tahir Putera Imam Lapeo,
- KH. Mahdi Buraerah,
- Hj. Hadharah, dan
- KH. Muhammad Dahlan Hamid.
5. Masa Pemberontakan
Sekitar tahun 1950-an, masa pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan membuat situasi di Campalagian sangat menegangkan.
KH. Muhammadiyah bersama muridnya diculik oleh pasukan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar dan dibawa ke Palopo, markas DI/TII.
Beliau tinggal di sana bersama pengikut Kahar Muzakkar selama kurang lebih 10 tahun hingga wafat di Desa Komba, Kecamatan Larompong, Wilayah Palopo Luwu, sekitar tahun 1960.
Sementara itu, masyarakat Campalagian mengalami masa sulit dengan ancaman dari dua kekuatan militer, yaitu Batalyon 710 Andi Selle dan pasukan DI/TII.
Ketegangan antara kedua kekuatan ini menyebabkan banyak masyarakat mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian.
Penutup
Jejak perjuangan KH. Muhammadiyah merupakan warisan berharga yang menginspirasi santri dan generasi berikutnya untuk melanjutkan kaderisasi ulama.
Pengabdian beliau dalam pendidikan dan dakwah Islam memberikan teladan yang patut diikuti dalam upaya memajukan agama dan masyarakat.
Semoga warisan ini terus memotivasi para generasi mendatang untuk meneruskan semangat dan dedikasi KH. Muhammadiyah.








