ULAMA NUSANTARA

KH Saefuddin Zuhri Ulama Tasikmalaya

Mengenal KH. Saefuddin Zuhri, ulama kharismatik asal Tasikmalaya, pendiri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning, dan Musytasyar PCNU Tasikmalaya. Baca kisah hidup, wasiat, dan warisannya.


Siapa KH. Saefuddin Zuhri?

KH. Saefuddin Zuhri, yang akrab disapa Ajengan Saefuddin Zuhri, adalah seorang ulama kharismatik asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning sekaligus tokoh berpengaruh di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tasikmalaya.

Sebagai seorang ajengan — sebutan penuh hormat bagi ulama di tanah Sunda — beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendidik santri, menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, dan mengokohkan peran pesantren sebagai benteng akidah umat.


Kelahiran dan Latar Belakang

Ajengan KH. Saefuddin Zuhri dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak muda, beliau sudah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu agama dan dunia pesantren.


Perjalanan Pendidikan

Untuk menuntut ilmu, Ajengan Saefuddin Zuhri menempuh perjalanan panjang dengan belajar di berbagai pondok pesantren ternama. Di antara pesantren yang pernah beliau singgahi adalah:

  • Pesantren Cibeuti
  • Pesantren Cilendek
  • Pesantren Ciharashas
  • Pesantren Bantar Gedang
  • Pesantren Keresek
  • Pesantren Sayuran
  • Pesantren Sadang
  • Pesantren Sagaranten
  • Pesantren Sirnasari

Tradisi ngalap barokah atau belajar dari satu pesantren ke pesantren lain ini mencerminkan kesungguhan beliau dalam menguasai berbagai disiplin ilmu agama Islam, termasuk ilmu alat (nahwu, shorof, dan sejenisnya) yang menjadi salah satu keahlian utama beliau.


Mendirikan Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning

Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren, Ajengan KH. Saefuddin Zuhri mendirikan Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning di Tasikmalaya.

Pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan biasa. Bagi beliau, pesantren adalah wadah utama untuk merawat dan mewariskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah NU kepada generasi berikutnya.

“Nilai-nilai Ahlussunnah wal-Jamaah NU tidak akan berdiri tegak secara benar, kecuali bersandar pada nilai-nilai pendidikan di pondok pesantren.”
— KH. Saefuddin Zuhri

Karena keyakinan itulah, setiap kali mengasuh pesantren, beliau selalu menitipkan NU — baik melalui pengajaran, pembiasaan, maupun teladan langsung kepada para santrinya.


Peran di Nahdlatul Ulama (NU)

Ajengan KH. Saefuddin Zuhri memegang posisi penting sebagai Musytasyar (Dewan Penasihat) PCNU Kabupaten Tasikmalaya. Jabatan ini mencerminkan betapa besar kepercayaan dan penghormatan para ulama serta pengurus NU terhadap keilmuan dan integritas beliau.


Kehidupan Keluarga

Ajengan KH. Saefuddin Zuhri menikah dengan seorang wanita dari wilayah setempat. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai 7 orang anak — 4 putra dan 3 putri.

Salah satu putranya, KH. Busyrol Karim, menjadi saksi sekaligus penerus perjuangan sang ayah, termasuk dalam menyampaikan dan menjaga wasiat-wasiat beliau kepada keluarga dan para santri.


Wasiat Enam Perkara

Setahun sebelum wafat, dalam sebuah pertemuan alumni pondok pesantren, Ajengan KH. Saefuddin Zuhri menyampaikan enam wasiat yang ia tujukan kepada anak cucu dan para santrinya. Wasiat ini disampaikan langsung oleh putranya, KH. Busyrol Karim.

Berikut keenam wasiat tersebut:

1. Pertahankan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah
Wajib mempertahankan akidah, syariah, dan akhlak Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari.

2. Shalat Berjamaah Awal Waktu di Masjid
Jangan tinggalkan kebiasaan shalat berjamaah di masjid, dan selalu usahakan di awal waktu.

3. Jangan Berhenti Mengaji
“Ulah eureun ngaji” — jangan pernah berhenti belajar ilmu agama, sepanjang hayat masih dikandung badan.

4. Wajib Pesantren untuk Anak dan Cucu
“Anak, incu wajib dipasantrenkeun” — setiap anak dan cucu harus menjalani pendidikan di pondok pesantren agar akidah dan akhlaknya terbentuk dengan baik.

5. Harus Menjadi Bagian dari NU
“Kudu jadi NU” — tetap teguh dalam barisan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi penjaga Ahlussunnah wal Jamaah.

6. Jangan Terlalu Cinta Dunia
“Hate ulah nyantel kana dunya, sing nyantel ka akherat” — hati jangan terlalu tertaut pada urusan duniawi, tapi selalu arahkan pada kepentingan akhirat.


Pesan Terakhir: Pentingnya Shalawat kepada Nabi

Selain enam wasiat di atas, catatan seorang santri bernama Husni Mubarok mengabadikan pesan terakhir Ajengan Saefuddin Zuhri tentang keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Pesan ini disampaikan pada Jumat, 30 Agustus 2013, saat pengajian kitab Nashoihud Diniyyah. Beliau membacakan syair dari kitab Marqotul Mahabbah yang kemudian diikuti seluruh jamaah:

الاايهاالاخوان صلوا وسلم # على المصطفى فى كل وقت وساعة

“He sakabeh dulur-dulur, urang sing getol tadzakur — maca shalawat jeung salam ka Nabi nu langkung masyhur.”
(Wahai seluruh saudara, hendaklah kalian rajin bertadzakur — membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang sangat masyhur.)

فان صلاة الهاشمي محمد # تنجي من الاهوال يوم القيامة

“Saenyana sholawat teh eta nu jadi wasilah — salamet tina pakewuh riweuhna poe kiamah.”
(Sesungguhnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad adalah wasilah — selamat dari bencana dahsyat di hari kiamat.)


Wafat dengan Cara yang Mulia

Seusai pengajian malam itu, Ajengan Saefuddin Zuhri menunaikan shalat Isya berjamaah seperti biasanya, dilanjutkan dengan shalat sunnah ba’diyah.

Namun, saat hendak bangkit dari ruku’ menuju i’tidal, beliau terjatuh ke belakang tepat di pangkuan seorang santri. Ketika hendak dibawa keluar masjid menuju rumah, ulama ahli ilmu alat itu mengembuskan napas terakhirnya — wafat dalam keadaan baru selesai beribadah kepada Allah SWT.

Sebuah akhir hayat yang penuh kemuliaan — husnul khatimah — yang menjadi doa setiap muslim.


Warisan KH. Saefuddin Zuhri

Ajengan KH. Saefuddin Zuhri meninggalkan warisan besar yang terus hidup hingga hari ini:

  • Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning yang terus melahirkan santri berakhlak mulia
  • Enam wasiat sebagai pedoman hidup anak cucu dan santrinya
  • Teladan nyata dalam menjaga NU dan Ahlussunnah wal Jamaah
  • Semangat keilmuan yang ditularkan melalui ratusan santri yang tersebar di berbagai daerah

Kesimpulan

KH. Saefuddin Zuhri adalah sosok ulama sejati yang menggabungkan keilmuan mendalam, keteguhan akidah, dan pengabdian tanpa henti kepada umat. Kisah hidupnya — dari perjalanan panjang menuntut ilmu hingga wafat dalam keadaan bersujud di masjid — adalah teladan yang sangat berharga bagi generasi Muslim Indonesia.

Semoga Allah SWT merahmati beliau, menempatkannya di sisi para kekasih-Nya, dan menjadikan ilmu serta amalnya sebagai pahala yang terus mengalir. Aamiin.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker