
KH. Alwi Dawud, yang akrab dipanggil Asngodo, adalah seorang ulama besar yang perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan dan dedikasi dalam menyebarkan ilmu agama Islam. Dari Sumatera hingga pelosok Jombang, beliau menorehkan jejak yang kini masih dirasakan manfaatnya oleh ribuan santri dan masyarakat sekitar.
Kelahiran KH. Alwi Dawud
KH. Alwi Dawud dilahirkan di Sumatera. Beliau merupakan putra dari K. Dawud, seorang tokoh yang turut menemani perjalanan hidup beliau hingga ke Jawa Timur. Meski informasi tanggal lahirnya belum tercatat secara pasti, pengaruh dan warisan beliau tetap hidup hingga hari ini.
Keluarga KH. Alwi Dawud
KH. Alwi Dawud menikahi seorang wanita dari desanya sendiri. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai empat orang anak, yaitu:
- Waritsah
- Munshorif
- Manshoer
- Anwar
Keempat putra-putri beliau menjadi bagian penting dalam perjuangan membangun komunitas dan pesantren di tanah baru.
Perjalanan Hijrah Menuju Jombang
Singgah di Desa Keras
Ketika KH. Alwi Dawud dan keluarganya pindah ke Desa Keras, Jombang, beliau bertemu dengan seorang kiai asal Jawa Tengah yang sudah lama menetap di sana, yaitu Kiai Asy’ari — yang tidak lain adalah ayah dari Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Pertemuan ini membuat hati KH. Alwi semakin mantap untuk menetap di Jawa Timur.
Pindah ke Desa Cukir
Setelah beberapa tahun di Desa Keras, KH. Alwi beserta keluarganya berpindah ke Desa Cukir. Di sana, beliau menempati sebuah lokasi yang kini dikenal sebagai Masjid Al-Falah, Cukir.
Namun, kehadiran Pabrik Gula Cukir milik Pemerintah Hindia Belanda membuat suasana di desa tersebut tidak nyaman. Banyaknya orang Belanda di sekitar membuat KH. Alwi memutuskan untuk mencari tempat yang lebih tenang.
Membuka Hutan di Dusun Sumber Macan
Beliau kemudian pindah ke sebuah dusun kecil di arah timur laut Desa Cukir, yang bernama Dusun Sumber Macan — wilayah yang kala itu masih berupa hutan lebat dan hampir tidak berpenghuni.
Dengan penuh kesabaran, KH. Alwi mulai membuka hutan sedikit demi sedikit untuk dijadikan tempat tinggal. Ketenangan dan keamanan tempat itu membuat beliau merasa cocok dan betah. Beliau bahkan kembali ke Klaten untuk mengajak sanak saudara yang masih tertinggal di sana agar hijrah bersama ke Jawa Timur dan menetap selamanya.
Lahirnya Nama “Paculgowang”
Seiring waktu, Dusun Sumber Macan berganti nama menjadi “Fauzul Qiwam”, yang dalam bahasa Arab berarti “kaum-kaum yang beruntung”. Karena masyarakat Jawa sekitar pada waktu itu belum banyak yang mengenal bahasa Arab, nama tersebut lama-kelamaan berubah penyebutannya dan lebih dikenal dengan nama Paculgowang — sebutan yang digunakan hingga sekarang.
Mendirikan Pesantren Tarbiyatunnasyi’in
Di tempat baru inilah, KH. Alwi Dawud bersama ayahnya (K. Dawud) dan keempat anaknya memulai lembaran hidup yang baru. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun sebuah musholla sebagai pusat pengajaran ilmu agama bagi warga sekitar.
Musholla sederhana itu kini telah berkembang menjadi Masjid Al-Alawy, Paculgowang.
Antusiasme masyarakat yang begitu besar — ditandai dengan semakin banyaknya orang tua yang menitipkan anak mereka kepada KH. Alwi — menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang.
Para santri yang belajar di pesantren ini tidak hanya berasal dari daerah sekitar, tetapi juga dari Jawa Tengah dan berbagai daerah di luar Jawa — sebuah bukti nyata bahwa pengaruh KH. Alwi Dawud melampaui batas wilayah tempat beliau tinggal.
Warisan KH. Alwi Dawud
Perjalanan panjang KH. Alwi Dawud — dari Sumatera, singgah di Jawa Tengah, lalu menetap di Jombang — adalah kisah seorang ulama yang tidak pernah berhenti berjuang demi ilmu dan dakwah. Pesantren yang beliau rintis dari sebuah musholla kecil di tengah hutan kini telah menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang diperhitungkan di Jawa Timur.






