ULAMA NUSANTARA

KH Ahmad Hafiduddin Ulama Yang Penuh Dengan Karomah

Profil Ulama | KH Ahmad Hafiduddin Ulama Yang Penuh Dengan Karomah

Kelahiran

KH. Ahmad Hafiduddin bin Usman Basyaiban, yang akrab dikenal sebagai Mbah Hafid Nogosari, dilahirkan di Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Ia adalah putra dari KH. Ageng Usman, yang berasal dari Mataram dengan garis keturunan yang menghubungkannya kepada Raden Fatah serta Prabu Brawijaya dari Majapahit.

Ayahnya, KH. Ageng Usman, dimakamkan di pemakaman Gribik, Malang.

Wafat

Pada hari Senin, 27 Shafar 1406 H, Mbah Hafid berpulang ke rahmatullah pada usia yang kira-kira mencapai 105 tahun.

Ia meninggalkan keturunan dua belas putra dan putri, beberapa di antaranya masih hidup, seperti KH. Nur Ali Yasin, Kiai Imam Ahmad Nur Sadah, dan Kiai Hasan.

Keluarga

Setelah menuntut ilmu agama di Mekkah, Mbah Hafid kembali ke tanah air dan mendedikasikan diri kepada gurunya, KH. Khozin di Siwalan Panji.

Beliau kemudian dinikahkan dengan putri gurunya, Nyai Muhsinah, menjadikannya menantu Kiai Khozin.

Pendidikan

Pendidikan agama KH. Ahmad Hafiduddin dimulai dengan belajar dari ayahnya sendiri.

Ia kemudian melanjutkan studinya bersama KH. R Khozin bin Khoiruddin bin Ahmad Al-Adhomat di Khon Siwalan Panji, Sidoarjo.

Setelah beberapa tahun belajar dengan KH. Khozin, ia berangkat ke Mekkah untuk menimba ilmu selama tujuh tahun.

Menurut laporan seorang teman sejawat, Almarhum mbah Kiai Ibrohim dari Pasuruan, Kiai Hafid juga pernah berguru pada Mbah Kholil Bangkalan selama lebih dari 16 tahun.

Pengajian

KH. Ahmad Hafiduddin mengadakan kajian kitab tafsir dengan partisipasi masyarakat dan para kiai dari sekitar Kecamatan Rambipuji setiap hari Minggu.

Ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, beliau senantiasa berhati-hati memperhatikan hukum tajwid dan makhorijul huruf dengan suara yang tartil dan merdu.

Hal yang sama dilakukan ketika membaca aurad, beliau membacanya dengan perlahan dan fasih untuk menghindari kekeliruan dalam pengucapan.

Amalan- Amalan

Ada dua amalan utama yang ditegakkan Mbah Hafid sebagai dasar hidupnya:

  1. Melakukan wudlu dengan sebaik mungkin.
  2. Menunaikan shalat dengan sebaik mungkin.

Mbah Hafid merias diri sebelum shalat, memakai minyak wangi, celak, jam tangan, serta pakaian dan sarung terbaiknya.

Ia selalu berjamaah dalam shalat lima waktu, memberikan hukuman kepada santri atau keluarga yang tidak berjamaah.

Karomah-Karomah

Mbah Hafid dikenal bukan hanya karena kealiman, tetapi juga karomahnya.

Banyak orang, termasuk habib, ulama, kiai, masyarakat umum, juga non-muslim yang mendatangi beliau untuk mendapatkan barokah.

Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy dari Ketapang Probolinggo sangat menghormati Mbah Hafid, bahkan tidak berani duduk tanpanya tanpa izin.

Karomah Unik

Sudah masyhur bahwa Mbah Hafid kerap didatangi Rasulullah dalam keadaan sadar, suatu karomah yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang pilihan.

Pada tahun 1975, ketika adik kandungnya KH. Muhammad Kholil bin Usman, ingin berhaji, Mbah Hafid menangis seraya berkata, “Waktunya sudah tiba.” KH. Kholil wafat dan dimakamkan di Makkah.

Menurut Pak Sholeh yang mengunjungi Mbah Kiai Khotib Abdul Karim Curah Kates, terkenal dengan kekeramatannya, Mbah Khotib menyebut Mbah Hafid sebagai Wali Qutub yang tinggi darjatnya.

Mbah Hafid dikenal mengatakan bahwa ia mengetahui jumlah dan lokasi wali-wali Allah di dunia, namun mereka tidak mengetahui dirinya.

Peristiwa Langit

Suatu hari, Mbah Hafid menyebut akan ada peristiwa besar setelah melihat tulisan Lailaha illa Allah Muhammadurasulullah di langit yang berasal dari Pasuruan, di lokasi KH. Hamid Pasuruan, dan juga di atasnya sendiri.

Ini memperkuat kepercayaan akan kedalaman rohaniah dan kekaromahannya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker