
Di balik nama besar Pondok Pesantren Maskumambang yang kini dikenal luas di Jawa Timur, ada sosok pendiri yang perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan, ketekunan, dan pengabdian tanpa batas. Dialah KH. Abdul Djabbar — ulama kelahiran awal abad ke-19 yang dengan tangan kosong membuka hutan, membangun pesantren, dan mendedikasikan hidupnya untuk mencetak generasi Muslim yang berilmu dan bertaqwa.
Kelahiran dan Nama Kecil
KH. Abdul Djabbar lahir pada tahun 1241 H / 1820 M. Sejak kecil, beliau dikenal dengan nama Ngabidin — diambil dari kata ‘Abid yang berarti “hamba yang beribadah”. Nama itu diberikan oleh orang tuanya dengan harapan agar kelak sang anak benar-benar tumbuh menjadi manusia yang tekun beribadah kepada Allah. Dan harapan itu ternyata menjadi kenyataan.
Wafat
KH. Abdul Djabbar wafat pada tahun 1325 H / 1907 M dalam usia 84 tahun. Beliau meninggalkan warisan yang terus hidup hingga hari ini — sebuah pesantren yang telah mencetak ribuan ulama dan dai selama lebih dari satu abad.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Semangat KH. Abdul Djabbar dalam menuntut ilmu patut menjadi teladan. Beliau tidak puas hanya belajar di satu tempat, melainkan terus berpindah untuk menemukan guru-guru terbaik.
Perjalanan pendidikan beliau dimulai dari sebuah pondok pesantren di Desa Ngelom, Sidoarjo. Setelah itu, beliau melanjutkan belajar di Tugu Kedawung, Kabupaten Pasuruan. Setelah merasa cukup menimba ilmu di tanah Jawa, beliau pulang ke kampung halaman dan menikahi Nyai Nursimah, putri dari Kyai Idris dari Kebondalem Boureno, Bojonegoro.
Beberapa tahun setelah menikah, KH. Abdul Djabbar dan istrinya menunaikan ibadah haji ke Mekah. Di tanah suci, beliau tidak menyia-nyiakan waktu — beliau berguru kepada sejumlah ulama besar yang membuka pengajian di sekitar Masjidil Haram, memperdalam ilmu agama selama dua tahun penuh sebelum akhirnya kembali ke tanah air.
Karier Awal: Dari Pegawai Kabupaten ke Pejuang Ilmu
Sebelum sepenuhnya terjun ke dunia pendidikan Islam, KH. Abdul Djabbar pernah bekerja sebagai pegawai di Kantor Kabupaten Sedayu. Beliau sangat dihargai oleh Kanjeng Bupati karena dikenal tekun, cakap, dan amanah dalam menjalankan tugasnya.
Namun pada suatu titik, beliau memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Dengan penuh keyakinan dan tanpa rasa takut, beliau memilih jalan hidup yang berbeda — menjelajahi daerah-daerahnya untuk mencari tempat yang tepat guna memulai pengabdian kepada masyarakat dan agama.
Membuka Dukuh Maskumambang
Setelah kembali dari Mekah, KH. Abdul Djabbar mulai membuka sebidang lahan hutan kecil yang berada di tengah Desa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Dengan kerja keras, beliau membersihkan hutan itu dan mendirikan sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal bersama istrinya.
Kawasan baru itu kemudian diberi nama “Maskumambang” — berasal dari bahasa Jawa: mas (emas) dan kambang (mengapung/terapung). Nama ini bukan sekadar nama biasa. Ia mengandung filosofi mendalam: lahan yang semula hutan lebat tanpa nilai, setelah dibuka dan dikelola dengan penuh keikhlasan, menjelma menjadi tempat yang indah, subur, dan penuh cahaya ilmu — bagaikan emas yang mengapung dan memancarkan kilaunya.
Mendirikan Pondok Pesantren Maskumambang
Sepulang dari Mekah, langkah pertama KH. Abdul Djabbar adalah mendirikan sebuah langgar panggung (mushala kecil) di samping rumahnya. Bangunan sederhana itu berukuran sekitar 5 m² dengan ketinggian 2,5 meter, beralas 1 meter dari tanah, dan beratap anyaman daun kelapa. Di sinilah awal mula tempat belajar bagi putra-putri beliau dan warga sekitar.
Seiring dengan semakin banyaknya santri yang datang mengaji, KH. Abdul Djabbar kemudian membangun tiga kamar tambahan masing-masing berukuran 2 m x 1,5 m untuk tempat tinggal para santri.
Pondok Pesantren Maskumambang resmi berdiri pada tahun 1859 M / 1281 H — menjadikannya salah satu pesantren tertua di Kabupaten Gresik dan Jawa Timur. Nama “Maskumambang” sendiri tergolong unik karena berbeda dari kebanyakan pesantren lain yang umumnya menggunakan nama dari bahasa Arab atau nama tokoh Islam. Keunikan nama inilah yang hingga kini terus mengundang banyak pihak untuk menggali makna filosofisnya.
Tujuan pendirian pesantren ini sangat jelas: mencetak kader-kader dai yang mampu meluruskan kepercayaan-kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sekaligus memperkuat fondasi keislaman masyarakat Jawa Timur.
Keluarga dan Silsilah
KH. Abdul Djabbar berasal dari keluarga yang memiliki akar sejarah panjang. Leluhur beliau adalah Wirosari (juga dikenal sebagai Kudo Leksono), seorang Kepala Kampung yang berpengaruh di Desa Kalimati (kini Kalirejo), Kecamatan Dukun Sedayu, Kabupaten Gresik — sebuah desa di tepi utara Sungai Bengawan Solo. Silsilah beliau bahkan tersambung hingga ke Pangeran Joko Tingkir dan Brawijaya Majapahit.
KH. Abdul Djabbar tinggal di Desa Maskumambang, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, dan dikaruniai 10 orang putra-putri yang semuanya tumbuh menjadi tokoh-tokoh penting dalam dunia keilmuan dan pesantren. Mereka adalah:
- KH. Rois
- Nyai Hj. Alimah
- KH. Abu Dzarrin
- KH. Faqih
- KH. Atqon
- KH. Sjahid
- Nyai Hj. Muhsinah
- KH. Harun
- KH. Ahmad Muhtadi
- KH. Abdullah Musta’in
Para keturunan beliau kemudian mendirikan wadah kekeluargaan yang bernama Ikatan Keluarga Kyai Abdul Djabbar (IKKAD) sebagai wujud kebanggaan dan kebersamaan keluarga besar ini.
Warisan yang Terus Hidup
Setelah KH. Abdul Djabbar wafat pada tahun 1325 H / 1907 M, tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Maskumambang diteruskan oleh putra-putra beliau, terutama KH. Faqih Maskumambang yang kemudian menjadikan pesantren ini semakin berkembang dan dikenal luas.
Hingga kini, Pondok Pesantren Maskumambang tetap berdiri kokoh sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam bersejarah di Gresik — mewarisi semangat pendirinya yang rela meninggalkan kenyamanan hidup demi satu tujuan mulia: mencerdaskan umat dan menegakkan ajaran Islam di bumi Nusantara.
Penutup
KH. Abdul Djabbar adalah sosok yang menggabungkan dalam dirinya semangat seorang pejuang, kerendahan hati seorang santri, dan ketekunan seorang pendidik. Dari sebuah hutan kecil di Gresik, beliau membangun mercusuar ilmu yang cahayanya terus menerangi hingga generasi kita hari ini.
Semoga Allah merahmati KH. Abdul Djabbar, melapangkan kuburnya, dan menjadikan Pesantren Maskumambang yang beliau dirikan sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya sepanjang masa.








