
Di kaki Gunung Slamet, jauh dari hiruk-pikuk kota, seorang habib memilih tinggal di desa terpencil. Bukan untuk menyepi, melainkan untuk berdakwah kepada masyarakat yang belum tersentuh cahaya agama. Ia bertani, membangun masjid, mengalirkan air bersih dari gunung ke rumah-rumah warga, dan mengajar ilmu agama tanpa henti. Ia adalah Habib Thalib bin Muhsin Al-Attas — ulama sederhana yang karomahnya baru benar-benar dirasakan setelah kepergiannya.
Kelahiran dan Masa Kecil
Habib Thalib bin Muhsin Al-Attas lahir di Tegal pada tahun 1929. Tanggal dan bulan kelahirannya tidak tercatat secara pasti dalam dokumen manapun. Sejak kecil, beliau sudah dididik langsung oleh ayahnya, Habib Muhsin Al-Attas, dalam ilmu-ilmu keagamaan — sebuah tradisi turun-temurun di kalangan habaib yang menjaga sanad keilmuan dalam keluarga.
Wafat
Habib Thalib meninggal dunia pada 21 September 2001 di usia 72 tahun. Beliau dimakamkan tepat di depan rumahnya — sebuah pilihan yang sederhana, namun penuh makna.
Yang menarik, peringatan haul beliau tidak ditetapkan pada tanggal wafatnya. Pihak keluarga memilih 21–22 Rabi’ul Awal, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, haul Habib Thalib dan Maulid Nabi dapat dirayakan sekaligus dalam satu momen yang penuh berkah.
Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Habib Thalib menuntut ilmu kepada beberapa ulama terkemuka di zamannya:
- Kyai Akyas Abdul Jamil — Buntet Pesantren, Cirebon
- Kyai Said — Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Giren
- Habib Muhsin Al-Attas (ayah beliau) — khususnya dalam amalan-amalan habaib yang diwariskan secara turun-temurun
Penerus Keilmuan
Ilmu dan dakwah Habib Thalib dilanjutkan oleh putra-putranya:
- Habib Ahmad Al-Attas
- Habib Muhammad Al-Attas
- Habib Sholeh Al-Attas
Perjalanan Hidup dan Dakwah
Hijrah ke Desa Terpencil
Sejak muda, Habib Thalib sudah dikenal sebagai sosok yang gemar berdakwah. Dorongan inilah yang membuat beliau memilih pindah ke desa-desa terpencil untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat yang belum mengenalnya.
Pada tahun 1967, beliau menetap di Bumi Jawa — sebuah kawasan di sisi selatan Tegal yang terletak di kaki Gunung Slamet. Di sinilah beliau menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi.
Berkeluarga dan Bertani
Di Bumi Jawa, Habib Thalib menikah dengan Hj. Ma’anik, seorang wanita asli desa setempat. Dari pernikahan ini, lahir delapan anak yang kini masih hidup:
- Ahmad
- Sholeh
- Muhammad
- Abdul Qadir
- Muhsin
- Aqil
- Ayu Nurul Izzah
- Inten Wardah An-Nafisah
Selain berdakwah, Habib Thalib juga bekerja sebagai petani. Bersama kerabat dan warga sekitar, beliau berhasil mengubah perbukitan menjadi lahan persawahan yang subur. Lebih dari itu, beliau juga berhasil mengalirkan air bersih dari pegunungan langsung ke rumah-rumah warga — sebuah jasa nyata yang meringankan beban masyarakat yang sebelumnya harus mendaki gunung hanya untuk mencari air.
Mendirikan Masjid dan Majelis Ilmu
Langkah pertama yang dilakukan Habib Thalib setibanya di Bumi Jawa adalah mendirikan masjid jami’ bersama masyarakat setempat — tempat untuk shalat Jumat dan pusat kegiatan keagamaan.
Setelah masjid berdiri, beliau membentuk Majelis Akhirat, sebuah pengajian rutin yang diselenggarakan setiap Sabtu pagi. Majelis ini sangat ramai, terutama pada Sabtu Kliwon — yang dalam tradisi Jawa dianggap sebagai hari istimewa.
Dalam majelis ini, Habib Thalib mengajarkan berbagai ilmu agama:
- Fikih (hukum Islam)
- Tauhid (akidah)
- Al-Qur’an
- Hadis
- Dan berbagai ilmu agama lainnya
Sementara itu, anak-anaknya — yang mayoritas laki-laki — beliau kirimkan untuk belajar di Pesantren Darun Najah Brebes, yang dipimpin oleh KH. Aminuddin Mashudi (kini menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Brebes).
Warisan Dakwah: Pondok Pesantren Tholibiyah
Setelah Habib Thalib wafat, anak sulungnya, Habib Ahmad Al-Attas, mendirikan Pondok Pesantren Tholibiyah sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dakwah sang ayah.
Pesantren ini berdiri di atas lahan sekitar satu hektar, dengan berbagai fasilitas:
- Pondok putra
- Aula
- Rumah tamu
- Rumah pengasuh
- Kantor
- Makam
- Gedung-gedung sekolah
Saat ini, pesantren menampung sekitar 400 santri dengan sistem pendidikan terpadu — siang hari belajar di madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah, sementara sore dan malam hari belajar kitab kuning layaknya santri salaf.
Pembagian Tugas yang Rapi
- Habib Ahmad Al-Attas (sulung) — lebih banyak berdakwah ke luar daerah, kini berdomisili di Bandung dengan jamaah pengajian sendiri
- Habib Muhammad Al-Attas — menangani urusan kepondokan sehari-hari (sudah ditunjuk langsung oleh Habib Thalib semasa hidupnya)
- Habib Sholeh Al-Attas bersama adik-adiknya — mengelola madrasah
Karomah Setelah Wafat
Habib Thalib dikenal sebagai sosok yang menyembunyikan karomahnya semasa hidup. Namun setelah wafat, keistimewaan beliau justru semakin tampak nyata.
Anak-anaknya memilih untuk tidak banyak bercerita tentang hal ini. “Biar masyarakat saja yang menilai,” kata Habib Ahmad bin Thalib, anak sulung beliau.
Namun Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan — ulama besar yang sangat disegani di Indonesia — memberikan penilaian yang mendalam:
“Keramat Habib Thalib yang kasat mata adalah yang ada pada acara haulnya. Mengapa ribuan orang datang kemari untuk mendoakannya?”
Habib Luthfi menjelaskan bahwa bukan perkara mudah mengadakan haul yang dihadiri ribuan orang dari berbagai kota di Jawa — dari Jawa Barat (khususnya Bandung), Semarang, hingga Brebes. Mereka datang dengan biaya sendiri, melewati udara pegunungan yang dingin dan jalanan menanjak yang menguras tenaga.
Habib Luthfi bahkan membandingkannya dengan masa awal wafatnya:
“Dahulu kita mengundang 50 orang untuk tahlilan, yang datang hanya 40 orang saja. Lalu mengapa orang yang sudah meninggal ini dapat memanggil ribuan jamaah dari mana-mana, bahkan menyediakan peluang rezeki bagi para pedagang kecil yang berjualan di sekitar tempat ini?”
Inilah yang disebut Habib Luthfi sebagai karomah nyata Habib Thalib Al-Attas.
Penutup
Habib Thalib bin Muhsin Al-Attas adalah bukti bahwa dakwah sejati tidak memerlukan panggung yang megah. Dengan hidup sederhana di pelosok kaki gunung, bertani, membangun masjid, mengaliri desa dengan air bersih, dan mengajar dari pintu ke pintu — beliau meninggalkan jejak yang jauh lebih abadi dari kemasyhuran duniawi. Ribuan orang yang terus berdatangan ke haulnya setiap tahun adalah saksi bisu dari keikhlasan perjuangan seorang hamba Allah yang memilih jalan sunyi, namun penuh berkah.








