ULAMA NUSANTARA

KH. Mohammad Syatibi (Mama Syatibi): Ulama dari Sumedang

KH. Mohammad Syatibi, yang akrab disapa Mama Syatibi, adalah salah satu ulama besar dari Sumedang, Jawa Barat. Meski memiliki darah bangsawan dari Kerajaan Sumedang Larang, beliau memilih hidup sederhana bersama rakyat dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk dakwah dan pendidikan Islam. Inilah kisah lengkap perjalanan hidup dan keteladanan beliau.


1. Riwayat Hidup dan Keluarga

Kelahiran

KH. Mohammad Syatibi lahir pada 1 Januari 1901 di Cicalengka. Ayahnya, KH. Jazuli, adalah seorang tokoh agama yang masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Sumedang Larang.

Karena latar belakang keluarga itulah, beliau kelak dipercaya oleh Dalem Sumedang untuk memimpin Masjid Agung Sumedang. Namun menariknya, sepanjang hidupnya, Mama Syatibi tidak pernah mau menyematkan gelar “Raden” di depan namanya — sebuah cerminan kerendahan hati yang luar biasa dari seorang keturunan bangsawan.

Wafat

KH. Mohammad Syatibi wafat di Sumedang pada 6 September 1987. Sebelum meninggal, beliau berwasiat untuk dikebumikan bersama masyarakat umum, meski sempat ditawari tempat peristirahatan terakhir di kompleks makam raja-raja Sumedang. Wasiat ini semakin mempertegas karakter beliau yang selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari rakyat biasa.


2. Perjalanan Menuntut Ilmu

Mengembara dari Pesantren ke Pesantren

Sejak kecil, Mama Syatibi tumbuh bersama masyarakat, jauh dari gaya hidup mewah seorang bangsawan. Orang tuanya sengaja menyekolahkan beliau di pesantren — lembaga pendidikan rakyat yang mengajarkan kesederhanaan dan kedalaman ilmu agama.

Berikut adalah perjalanan panjang beliau menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain:

  1. Pesantren Panguyangan — Berguru kepada KH. Raden Muhammad Amin, putra dari Mama Isya (Mama Panguyangan), yang merupakan santri dari Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.
  2. Pesantren Sarjaya Sindanglaut, Cirebon — Melanjutkan perjalanan ilmunya ke daerah Cirebon.
  3. Pesantren Al-Fauzan, Garut — Belajar di salah satu pesantren terkemuka di Garut.
  4. Pesantren Keresek, Garut — Pesantren yang juga didirikan oleh santri dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
  5. Pesantren Sukaraja, Garut — Memperdalam ilmu agamanya di Garut.
  6. Pesantren Gentur, Cianjur — Di sinilah momen penting terjadi: beliau berguru kepada KH. Ahmad Syatibi (Mama Gentur), dan nama aslinya, Epen, diganti oleh sang guru menjadi Muhammad Syatibi.
  7. Pesantren Sukamiskin, Bandung — Pesantren yang didirikan pada tahun 1875 oleh KH. Raden Muhammad Alqo, juga santri dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
  8. Makkah al-Mukarramah (1923–1924) — Saat menunaikan ibadah haji, beliau sempat belajar kepada KH. Mukhtar Natanegara, ulama besar Mekkah asal Bogor.

Fakta menarik: Mama Syatibi berguru kepada putra atau murid dari tiga santri langsung Syaikhona Kholil Bangkalan, salah satu ulama terbesar Nusantara.

Daftar Guru-Guru Beliau

  • Mama Panguyangan (Mama Isya)
  • KH. Raden Muhammad Amin
  • KH. Ahmad Syatibi (Mama Gentur)
  • KH. Raden Muhammad Alqo
  • KH. Mukhtar Natanegara

3. Mendirikan Madrasah Islamiyah Sumedang (MIS)

Atas permintaan Dalem Bintang, Mama Syatibi ditugaskan untuk mengembangkan syiar Islam di Sumedang sebagai Imam Besar Masjid Agung Sumedang. Sebagai bentuk dukungan, Dalem Bintang mewakafkan sebidang tanah kepada beliau untuk tempat tinggal dan lembaga pendidikan.

Di atas tanah wakaf itulah, KH. Mohammad Syatibi mendirikan Madrasah Islamiyah Sumedang (MIS). Hingga kini, madrasah tersebut masih berdiri di sekitar Masjid Agung Sumedang. Papan namanya masih terpasang di depan SMPNU dan SDIT As-Samadani, yang kini dikelola oleh tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama Sumedang.


4. Perjalanan Karier

Selama hidupnya, Mama Syatibi memegang berbagai jabatan penting, antara lain:

JabatanPeriode
Ajun Penghulu Sumedang1930 – 1945
Penghulu Landarrad / Penghulu Negeri Sumedang1945 – 1947
Pengasuh Madrasah Islamiyah Sumedang (MIS)
Rois Suriyah PCNU Sumedang1955 – 1983
Anggota DPRD Tk. II Kabupaten Sumedang1961 – 1966
Wakil Rois Syuriyah PWNU Jawa Barat1971 – 1987

5. Keteladanan: Sosok “Kiai Unta” dari Sumedang

Apa Itu Kiai Unta?

KH. A. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, seorang Mustasyar PBNU, pernah membagi ulama ke dalam dua kategori:

  • Kiai Ka’bah: Ulama yang hanya tinggal di rumah atau pesantrennya. Malas bersilaturahmi dan maunya selalu dikunjungi, bukan mengunjungi.
  • Kiai Unta: Ulama yang bersedia berjalan jauh, tahan lapar, rela membawa beban berat, dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi. Mereka tidak pernah lelah bersilaturahmi ke semua lapisan masyarakat.

Menurut Gus Mus, contoh sempurna dari Kiai Unta adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dan bila dilihat dari kesehariannya, Mama Syatibi pun layak disebut sebagai Kiai Unta.

Rutinitas Harian yang Luar Biasa

Berikut adalah gambaran keseharian Mama Syatibi yang penuh semangat dakwah:

  • Pukul 03.00–04.00 — Bangun malam, shalat tahajud, dan muthalaah (mengkaji) kitab-kitab di rumah.
  • Sebelum Subuh — Sudah duduk di shaf terdepan Masjid Agung Sumedang, menjadi imam atau makmum.
  • Setelah Subuh — Tidak pernah meninggalkan wirid. Setiap Jumat, beliau menyampaikan ceramah subuh yang banyak dinantikan jamaah dari masjid-masjid sekitar.
  • Pukul 05.00–08.00 — Mengajar di majelis taklim di samping rumahnya dengan sistem sorogan untuk anak-anak kampung Kaum dan santri mukim.
  • Pagi hingga Siang — Berangkat ke berbagai kecamatan di Sumedang untuk mengisi pengajian rutin yang dihadiri para kiai dari desa-desa.
  • Selepas Dhuhur/Asar — Kembali ke rumah dan mengajar kembali anak cucu, santri, dan warga sekitar.
  • Selepas Maghrib dan Isya — Mengajar kembali atau memenuhi undangan pengajian.
  • Bulan Maulid dan Rajab — Jadwal undangan pengajian semakin padat hingga larut malam.
  • Setiap Selasa — Hari di rumah, namun tetap diisi dengan pengajian khusus bagi para kiai dari tiap kecamatan. Tradisi pengajian Selasa ini masih dilanjutkan oleh anak cucu dan murid-muridnya hingga sehari ini.

Menolak Pesantren, Memilih Mendatangi Umat

Mama Syatibi pernah ditawari untuk mendirikan pesantren agar bisa lebih fokus mengajar santri. Namun beliau menolak, dan memilih untuk mendatangi jamaahnya secara langsung di setiap kecamatan — bahkan rela berjalan kaki di tengah hujan demi memenuhi jadwal dakwahnya.


6. Penutup

KH. Mohammad Syatibi (Mama Syatibi) adalah teladan nyata seorang ulama yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga rendah hati, dekat dengan rakyat, dan tanpa henti berdakwah hingga akhir hayatnya. Warisan beliau bukan hanya Madrasah Islamiyah Sumedang, tetapi juga ribuan murid dan kiai yang meneruskan tradisi keilmuannya di seluruh penjuru Sumedang dan Jawa Barat.

Semoga Allah SWT merahmati dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker