
Profil Ulama | Biografi Abah Guru Danau

KH. Asmuni, atau yang lebih akrab disapa Guru Danau, adalah ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan.
Beliau dikenal sebagai tokoh sentral dalam syiar Islam di Hulu Sungai Utara hingga Kalimantan Timur.
Sosoknya menonjol dengan kecintaannya yang mendalam pada Ahlul Bait Nabi Muhammad saw.
Profil Awal dan Pergantian Nama
Guru Danau dilahirkan pada tahun 1955 M (bertepatan dengan 1374 H) di Danau Panggang.
Beliau merupakan putra dari H. Masuni, yang juga dikenal dengan nama H. Sani.
Semasa kecil, beliau memiliki nama lahir Zarkasyi.
Namun, nama tersebut kemudian diubah menjadi Asmuni oleh seorang habib terkemuka, yaitu Habib Salim Mangkatip.
Jejak Pendidikan dari Banjar hingga Jawa
Perjalanan mencari ilmu Guru Danau adalah kisah pengembaraan spiritual yang panjang.
Pendidikan formal beliau dimulai pada tahun 1971 di dua lembaga sekaligus di kampung halamannya:
- Pesantren Muallimin Danau Panggang
- Pondok Pesantren Darul Hikmah Danau Panggang
Setelah menamatkan pendidikan di sana, beliau melanjutkan ke salah satu pesantren tertua dan tersohor di Kalimantan Selatan:
- Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Beliau menyelesaikan pendidikan di pesantren ini pada tahun 1977.
Tidak berhenti di sana, Guru Danau kemudian merantau ke Jawa untuk berguru pada para ulama terkemuka.
Institusi yang beliau singgahi adalah:
- Pondok Pesantren Datuk Kalampayan, Bangil, Jawa Timur.
- Pondok Pesantren Tempel, Yogyakarta.
Guru-guru Utama
Selama perjalanan pendidikannya, Guru Danau berkesempatan menimba ilmu dari sejumlah ulama besar Nusantara, di antaranya:
- KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul)
- KH. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil)
- KH. Abdul Hamid Pasuruan
- Habib Luthfi bin Yahya
- dan ulama-ulama lainnya.
Kiprah Dakwah dan Pendirian Tiga Pesantren
Sekembalinya dari Tanah Jawa, tepatnya pada tahun 1978, Guru Danau langsung mengabdikan diri di kampung halaman melalui dakwah dan pendidikan.
Majelis Taklim yang Didirikan:
Beliau dikenal sangat aktif membuka majelis pengajian di berbagai daerah, yang menjadi pusat syiar Islam di Kalimantan:
- Majelis Pengajian malam Minggu di Desa Bitin.
- Majelis Pengajian malam Selasa di Danau Panggang (dimulai tahun 1980).
- Majelis Pengajian di Mabuun Tanjung (dimulai tahun 1990-an).
- Majelis Taklim “Bani Alawi” di Pematang Karau, Barito Timur.
Mengelola Tiga Pondok Pesantren:
Selain berdakwah, Guru Danau juga mengelola dan membina tiga institusi pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayah Amuntai dan Tabalong:
- Pondok Pesantren Darul Aman di Pajukungan, Babirik, Amuntai.
- Pondok Pesantren Hidayatus Shibyan di Danau Panggang.
- Pondok Pesantren Raudhah di Jaro, Tanjung, Tabalong.
Kata-Kata Mutiara Guru Danau
Nasihat dan ajaran Guru Danau banyak menekankan pentingnya kecintaan dan penghormatan kepada keturunan Nabi (Ahlul Bait/Habaib), serta pentingnya keikhlasan dan istiqamah dalam beramal.
Tentang Ahlul Bait dan Rasulullah:
- “Tidak bisa ketemu Rasulullah (secara) cepat, kalau kadada anak cucunya di rumah kita. Walaupun ikam baamal bahimat. No. Tidak. Harus ada digaduh anak cucu Rasulullah. Bukan mailangi kita, tapi mailangi cucunya. Dengan berkat cucunya kita bisa bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam. Itulah amalan nang paling mujarab, pertama kita bantu ahlul bait Nabi dan kita haragu. Kada usah amalan banyak-banyak. Sayangi cucu Nabi haja, Insya Allah Nabi datang juga.”
- “95% wali Qutub itu adalah cucunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam. Kenapa sebabnya? (Karena) Nabi itu meninggalkan ahlul bait Nabi semua bersih. Kalau kita punya dosa laksana masuk ke lumpur, susah mambarasihi, tapi kalau ahlul bait, ibarat kena debu ditiup pun bisa. Inilah keagungan ahlul bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.”
- “Tidak bisa dibukakan ilmu laduni kalau kada dekat dengan para habaib, (kalau tidak) melalui pintunya ahlul bait Rasulullah.”
Tentang Wali, Keramat, dan Istiqamah:
“Setiap wali tu duduk mendengarkan apa yang dibicarakan orang.”
“Orang yang mendapat keramat hissy adalah orang yang betul-betul istiqamah.”
“Kalau ada yang mengaku wali, tapi bukan wali, maka hukumnya murtad. Berkata alim tapi al-Fatihah tidak betul, ya jangan mengaku wali Allah. Karena dasar wali Allah itu adalah ilmu dan ibadahnya. Yang shahih lagi, yang dapat disebut wali itu seluruhnya pernah didatangi Rasulullah dalam mimpi.”
“Wali Allah itu tujuan hidupnya hanya untuk menyenangkan hati Rasulullah, (karena) kalau senang hati Rasulullah, maka Allah pasti redha, itu yang penting dalam hidup ini.”
“(Amal) orang yang kada ikhlas itu membuat hati pusang. Tandanya kada ikhlas tu (bila) hati pusang.”
“Bagi para auliya Allah, karamat terkadang dipandang sebagai istidraj. Maka orang-orang yang shaleh kada boleh bamandak (tidak boleh berhenti dalam beramal).”
Tentang Kehidupan, Rezeki, dan Dakwah:
“Manusia tu ibarat pemain sepak bola, ada yang tugasnya sebagai penjaga gawang, bertahan, ada juga penyerang. Maka orang yang katuju bakunjang kesana kemari, biasanya parajakian (diluaskan rezekinya).”
“Ulama yang memiliki usaha dan kekayaan sendiri akan lebih ikhlas dalam berdakwah dan mengajar karena tidak memiliki kepentingan untuk mendapatkan bayaran dan jama’ahnya.”
“Sekali saja ulama mendapat bantuan pemerintah, maka ulama tidak bisa lagi untuk menasehati ulama.”
“Kalau punya anak jangan sampai dihinakan, kalau nanti dikabulkan Allah. Jadi walau tidak suka do’akan saja yang bagus-bagus, Insya Allah ada kebaikan bagi si anak.”
“Orang masuk sorga itu karena takwa dan keimanannya kepada Allah bukan karena musafahah lalu dijamin ia masuk sorga. Kalau begitu artinya jangan shalat lagi, cukup bermusafahah lalu dijamin masuk sorga. Musafahah itu Cuma mengambil berkah dari bersalaman dengan ulama yang bersangkutan.”









One Comment