ULAMA NUSANTARA

Biografi Syekh Muhammad Amin Bin Abdullah Koper (Buya Amin)

Profil Ulama | Biografi Syekh Muhammad Amin bin Abdullah Koper (Buya Amin)

Syekh Muhammad Amin bin Abdullah Koper, atau yang dikenal luas sebagai Buya Amin, adalah salah satu ulama besar Banten yang menjadi tonggak pendidikan agama dan penjaga tradisi Nahdlatul Ulama (NU).

Artikel ini mengulas secara mendalam biografi beliau, mulai dari silsilah mulia, perjalanan menuntut ilmu hingga perannya yang sangat vital dalam sejarah Islam di Tangerang dan Banten.

Kelahiran dan Silsilah

Buya Amin dilahirkan pada tahun 1899 M di Kampung Sepang, Desa Koper, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten.

Beliau berasal dari pasangan yang dikenal taat beribadah, yaitu Ki Abdullah dan Nyai Kati.

Kelahiran beliau ditandai dengan silsilah keluarga santri yang mengakar kuat.

Garis keturunannya mencapai ulama karismatik seperti Syekh Ciliwulung Cakung dan Pangeran Sunyararas Tanara, sebuah bukti bahwa “mustika kesantrian” telah melekat pada diri Buya Amin secara turun-temurun.

Wafat

Syekh Muhammad Amin bin Abdullah Koper wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 1415 H.

Pengembaraan Mencari Ilmu

Sejak kecil, Buya Amin dikenal memiliki kecerdasan dan semangat yang luar biasa dalam mendalami ilmu agama.

Sebelum merantau, beliau berguru di Kresek kepada ulama mumpuni di antaranya:

  • Syekh Muhammad Ramli (Murid sekaligus sepupu Syekh Nawawi Tanara).

Beliau kemudian diangkat menjadi menantu oleh Syekh Muhammad Ramli.

Dari pernikahan inilah lahir putra beliau, KH. Ma’ruf Amin, yang kelak menjadi Rais Aam PBNU.

  • Syekh Misbah di Koper.
  • Syekh Sabi’un Ranca Sumur.
  • Habib Husen Jakarta.

Kehausan ilmu lantas membawa beliau menempuh pendidikan di berbagai pesantren di Banten, seperti:

  • Pesantren Kadulisung, Pandeglang.
  • Pesantren Pasir Bedil, Rangkas Bitung.
  • Pesantren Pelamunan asuhan Syekh Tohir Al-Falamuni Al-Bantani.

Di Pesantren Pelamunan, Buya Amin menjadi murid kesayangan Syekh Tohir bersama seorang santri lain yang juga bernama Amin.

Syekh Tohir dikisahkan ingin menikahkan salah satu putrinya dengan salah satu dari dua Amin yang sama-sama cerdas.

Dengan pandangan batin, Syekh Tohir memilih Amin yang satunya dan membiarkan Buya Amin Koper pulang untuk mendirikan pesantren di Koper, karena Syekh Tohir mengetahui bahwa Buya Amin kelak akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat di daerahnya.

Puncak perjalanan menuntut ilmu beliau adalah di Kota Suci Makkah Al-Mukarromah sekitar tahun 1930.

Pernikahan dan Pendirian Pesantren Koper

Pada tahun 1936, Buya Amin kembali ke Tanah Air dari Makkah.

Beliau kemudian menikah dengan Nyai Hajah Nurjannah yang berasal dari Serang.

Setelah menikah, beliau langsung merealisasikan petunjuk gurunya dengan mendirikan Pondok Pesantren di Koper, Kresek.

Sejak tahun 1936, pesantren ini segera menjadi magnet bagi para santri dari berbagai daerah di Banten dan Jawa Barat, termasuk dari Tangerang, Bogor, Serang, dan Karawang.

Buya Amin dikenal sebagai guru yang sangat ikhlas dan tawaddu’.

Kecintaan dan kasih sayangnya kepada santri terkadang digambarkan melebihi anak-anaknya sendiri, bahkan tak jarang beliau memasak nasi goreng untuk dibagikan kepada para santrinya.

Beliau juga sangat memuliakan tamu.

Buya Busthomi Cisantri Pandeglang bahkan mengungkapkan kekagumannya setelah bertemu Buya Amin:

“Jiwa kerasku luluh ketika bertemu dengan Buya Amin, seorang yang alim yang ilmunya begitu tinggi tidak menampakkan dirinya seperti layaknya orang yang ingin dimuliakan.”

Kisah populer di kalangan santri menyebutkan bahwa Buya Amin sering tampak tertidur saat santri membaca kitab, namun beliau akan langsung membetulkan bacaan santri yang salah.

Hal ini karena hari dan malam beliau, ketika tidak mengajar, selalu diisi dengan ibadah dan mutala’ah (mengulang dan mendalami) kitab-kitab, serta menyelesaikan berbagai masalah umat yang harus dicarikan solusinya dari kitab-kitab mu’tabarah.

Tradisi Pengajian Selasa Masjid Agung Arruhaniyah

Buya Amin bersama H. Abdul Gani bin Muhammad adalah pencetus pengajian rutin setiap Hari Selasa di Masjid Agung Arruhaniyah, Kresek.

Pengajian yang sudah berlangsung sejak sebelum masa kemerdekaan ini merupakan forum yang diikuti oleh para ulama dan kiai dari berbagai daerah.

Pengajian Selasa menjadi barometer hukum Islam di masyarakat setempat.

Fatwa-fatwa dari para muqri (pembaca kitab kuning) di forum ini dijadikan acuan dan pegangan.

Pada masa Buya Amin hidup, beliau adalah satu-satunya muqri karena ulama lain sangat segan membaca di hadapannya.

Ketabahurran (kedalaman ilmu) Buya Amin di berbagai disiplin menjadikannya ulama yang paripurna: beliau adalah faqih yang sufi, mufassir yang muhaddis, nahwiy yang ushuli.

Beliau juga mahir dalam ilmu bayan, ma’ani, dan badi’, serta sangat ahli dalam ilmu faraid.

Fatwa-fatwa Buya Amin adalah rujukan sentral para ulama saat itu.

Dapat dikatakan, ijma’ ulama Kresek, Kronjo, Gunung Kaler, Binuang, Tanara, dan sekitarnya terwujud di Pengajian Selasa.

Setelah Buya Amin wafat, pengajian dilanjutkan oleh murid kesayangan beliau, Syekh Mufti bin Asnawi, dan kemudian oleh KH. Hamzah dari Gunung Kaler bersama kiai-kiai lainnya.

Kontribusi di Nahdlatul Ulama (NU)

Buya Amin adalah pejuang konsisten Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Ketika menuntut ilmu di Makkah (yang saat itu sudah dikuasai rezim Wahabi), beliau tetap teguh berguru kepada ulama-ulama yang memegang tradisi salaf dalam Aswaja.

Sekembalinya ke Indonesia, beliau langsung bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi yang secara militan membela ajaran ulama salaf dan tradisi pesantren dari serangan Wahabi.

Beliau berdiri di front terdepan melawan ajaran Wahabi di Banten.

Peran beliau dalam NU:

  • Masyumi (1943): Buya Amin aktif dalam Masyumi yang diketuai oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, saat NU bergabung di dalamnya.
  • Pemilu 1955: Setelah NU keluar dari Masyumi (1952), perjuangan Buya Amin dan ulama lain turut berperan besar menjadikan Partai NU menang mutlak di Tangerang.
  • Peristiwa G30S/PKI: Pada malam terjadinya pemberontakan PKI, 30 September 1965, Buya Amin tengah melantik kepengurusan NU tingkat ranting se-kecamatan Kresek di Kemuning.
  • PPP (1975): Saat terjadi fusi partai Islam ke dalam PPP, Buya Amin sami’na wa ato’na (patuh dan taat) untuk bergabung dan menjadi Penasihat PPP Kabupaten Tangerang.
  • Kembali ke Khittah (1984): Setelah Muktamar NU di Situbondo memutuskan kembali ke Khittah Ashliyyah Nahdliyyah 1926 (non-politik praktis), Buya Amin mengurangi aktivitas keorganisasian dan fokus mengawal umat dalam urusan ubudiyyah (ibadah) kepada Allah SWT.

Tiga Pagar NU di Banten

Buya Amin merupakan salah satu dari tiga kiai yang dikenal sebagai Segitiga Pagar NU di Banten (setelah era KH. Abdurrahman Menes dan KH. Abdul Latif Cibeber). Mereka adalah:

  • KH. Abdul Kabir (Pengasuh Pesantren Kubang Petir).
  • KH. Muhammad Syanwani (Pengasuh Pesantren Sampang Tirtayasa).
  • Buya Amin Koper, Kresek.

Ketiga tokoh ini sering berkoordinasi untuk merancang strategi pertahanan kaum Nahdliyyin dari berbagai serangan, khususnya dari kaum Wahabi.

Daftar Santri Ternama (Alumni Pesantren Koper)

Pesantren Koper yang diasuh Buya Amin telah melahirkan banyak ulama yang menjadi tumpuan umat, di antaranya:

  • KH. Syarbini (PP Al-Falah Kresek)
  • KH. Nurzen (PP Al-Hikmah Pendawa Binuang)
  • KH. Mahmud dan KH. Qalyubi (PP Manba’ul Hikmah Renged Kresek)
  • KH. Nawawi (PP Tarbiyatul Mubtadiin Pasir Nangka Tigaraksa)
  • Syekh Mufti Asnawi (PP Darul Hikmah Srewu Cakung Binuang)
  • KH. Humaid Endol Tanara (Majlis Ta’lim Syekh Nawawi Tanara)
  • KH. Ahmad Romli (PP Dangdeur Balaraja)
  • KH. Kalyubi Mauk
  • KH. Munir Cikarang Bekasi
  • KH. Hasbullah Binuang
  • KH. Syatibi Ampel
  • KH. Sayuti Bolang
  • KH. Nasihun Daon
  • KH. As’ad Bendung
  • KH. Syarif Kubang
  • KH. Rafiuddin Saga
  • KH. Sukama Cikande
  • KH. Sukri Koper
  • KH. Marjani Cijeruk

dan ulama-ulama lainnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker