
Profil Ulama | Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim., MA Ulama Pengawal Aswaja

Kehidupan Awal dan Keluarga
Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim., MA dilahirkan pada tanggal 16 Juli 1955, di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, sebagai anak dari pasangan Kiai Abdul Chalim dan Nyai Qana’ah dari Plered, Cirebon.
Menikah dengan Nyai Hj. Fadilah pada 1980, beliau dianugerahi sembilan anak, di antaranya M. Albarra, Imadatussaadah, dan lain-lain.
Pendidikan
Sejak awal 1974, beliau mengembara ke berbagai wilayah di Jawa untuk menuntut ilmu dan kehidupan, termasuk di kota Jember dan Surabaya.
Pendidikan formal dan informalnya berlangsung di berbagai pondok pesantren dan institusi pendidikan, termasuk Pondok Pesantren Al-Khozini Sidoarjo dan IAIN Surabaya.
Meski memiliki garis keturunan ulama, Dr. Asep tetap tampil sederhana dan menjadi santri andalan sejak usia dini, menggambarkan kecerdasan dan semangat belajar yang tidak pernah padam.
Karier dan Pendidikan Lanjutan
Setelah mengajar di SMA Negeri 2 Lamongan selama tujuh tahun, Dr. Asep melanjutkan pendidikannya dan menyelesaikan program magister serta doktoral di Malang.
Mendirikan Pesantren Amanatul Ummah
Keberhasilan mendirikan Pesantren Amanatul Ummah dimulai dengan pendirian KBIH Yayasan Amanatul Ummah.
Tanpa mengandalkan bantuan dana pemerintah, beliau dan istrinya optimis memajukan pendidikan Islam, berambisi mendirikan institusi yang setara dengan universitas-universitas terkemuka dunia.
Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
Keturunan Kiai, Dr. Asep dikenal sebagai pemimpin demokratis dan memiliki keterlibatan aktif dalam NU, termasuk jabatan sebagai ketua MUI Surabaya dan posisi di dewan legislatif daerah.
Karier Akademis dan Organisasi
Keaktifan di dunia pendidikan dan organisasi terlihat jelas melalui rutinitas kesehariannya, yang penuh dedikasi untuk berbagi ilmu dan membimbing para santri.
Dengan pensiun dari dunia politik, ia lebih fokus pada pendidikan, saat ini menjabat sebagai rektor di Institut Al-Khozini Buduran dan ketua PERGUNU Jawa Timur.
Karya Tulisan
Buku “Membumikan Aswaja” dan “Aswaja di Tengah Aliran-aliran” adalah beberapa di antara karya terkemukanya, yang menjadi rujukan penting untuk para pengajar dan santri di lingkungan NU, berisi panduan prinsip dan hukum Islam.









One Comment