
Siapa KH. Achmad Badjuri?
KH. Achmad Badjuri adalah seorang ulama kharismatik asal Tulungagung, Jawa Timur, yang dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Madinul ‘Ulum Campurdarat. Beliau adalah sosok kyai yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama, terutama ilmu tasawuf, aqidah, dan syariah. Semangat beliau dalam menuntut ilmu sejak kecil hingga akhirnya mendirikan pesantren dan melayani masyarakat menjadikan beliau teladan bagi banyak santri dan umat Islam di Tulungagung.
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
KH. Achmad Badjuri lahir pada tahun 1938 M di Desa Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur. Beliau adalah anak bungsu alias anak kesebelas dari sebelas bersaudara, putra pasangan H. Puslan bin H. Thohir dan Hj. Sulmi binti Jayadi.
Kehidupan Keluarga
Pernikahan Pertama
Pada usia 25 tahun, tepatnya tahun 1963, KH. Achmad Badjuri menikahi Hj. Muslihah binti H. Ahmad Salam, seorang perempuan dari Desa Jengles, Pare, Kediri. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 6 orang anak:
- Ibnu Mundzir (wafat saat usia 7 hari)
- Ali Mubarok
- Anis Rohillah (wafat saat usia 6 tahun)
- Dewi Saudah
- H. Ali Musta’in
- Ali Imron
Pernikahan Kedua
KH. Achmad Badjuri kemudian menikah lagi dengan Hj. Namlatus Sholihah binti H. Sholeh dari Desa Campurdarat. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 orang anak:
- Drs. H. Ali Ma’dum
- H. Ali Ma’sud
- Lailatul Istifaiyah
- Siti Rohmah
- Ali Masykur
Perjalanan Pendidikan
Masa Kecil di Tengah Gejolak Sejarah
KH. Achmad Badjuri memulai pendidikan formalnya di sekolah dasar. Namun perjalanannya tidak mulus — peristiwa pemberontakan PKI di Madiun (1948) dan agresi militer Belanda (1949) sempat mengacaukan pendidikannya, sehingga beliau baru bisa menamatkan sekolah dasar pada tahun 1953.
Meski demikian, situasi sulit itu justru mempertebal semangatnya untuk mendalami ilmu agama. Beliau mengaji kepada para sesepuh Campurdarat, yaitu KH. Shodiqun, KH. Umar, dan KH. Zaini. Beliau juga tabarukan kepada KH. Dimyati Campurdarat — yang merupakan kakak kandung dari ibunya.
Nyantri dari Pesantren ke Pesantren
Perjalanan menuntut ilmu KH. Achmad Badjuri sangat panjang. Beliau berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain demi menguasai berbagai cabang ilmu agama:
- PP. Sumbergayam Jajar, Trenggalek (diasuh KH. Badrudin, KH. Darwi, KH. Mahfud) — ilmu dasar agama (± 2,5 tahun)
- PP. Sidorangu, Krian, Sidoarjo (diasuh KH. Sahlan) — ilmu tasawuf dan akhlak (± 2,5 tahun)
- PP. Berasan, Banyuwangi (diasuh KH. Abdul Manan dan KH. Iskandar) — mengaji Tafsir Jalalain, Al-Qur’an, dan kitab Ihya’ Ulumuddin
- PP. Kajen, Juwono, Pati, Jawa Tengah (diasuh KH. Abdul Haq) — mendalami Ilmu Mantiq (logika), Balaghah, dan Ushul Fiqih (± 1 tahun)
- PP. Ambulu, Jember (diasuh KH. Mahfudz) — belajar Ilmu Hisab/Falak (± 6 bulan)
- PP. Tertek, Pare, Kediri (diasuh KH. Zuaini) — mengaji kitab-kitab Hadis (selesai tahun 1963)
- Pondok Tarekat, Kauman, Tulungagung (diasuh KH. Mustakim Husin) — Bai’at Tarekat Syadzaliyah wal Qadiriyah
Keahlian yang Menonjol
Di antara sekian banyak ilmu yang beliau pelajari, yang paling beliau kuasai dan cintai adalah ilmu tasawuf. Beliau begitu hafal dan menjiwai kitab-kitab seperti Bidayatul Hidayah (Al-Ghazali), Kifayatul Atqiya’, dan Al-Hikam (Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari) — sampai-sampai saat mengajarkannya beliau nyaris tidak perlu membuka teks.
Mendirikan Pondok Pesantren Madinul ‘Ulum
Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di berbagai pesantren, para guru beliau — di antaranya KH. Dimyati, KH. Kholil Dawuan (Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah), KH. Njajar Trenggalek, dan KH. Mustakim Husain — meminta beliau untuk pulang dan mendirikan pesantren sendiri karena ilmunya sudah dianggap matang.
Masyarakat Campurdarat pun sudah lama merindukan kehadiran beliau. Maka dengan penuh ketaatan kepada guru dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat, beliau pun pulang kampung.
Proses Pendirian Pesantren
Awalnya, beliau bersama warga sekitar mendirikan sebuah musala sederhana beratap rumput alang-alang, berdinding anyaman bambu, dan bertiang bambu ori. Musala inilah yang menjadi cikal bakal pesantren.
Pada tahun 1965, bangunan musala ditingkatkan menjadi separuh tembok dan separuh bambu, menggunakan material dari rumah orang tua beliau yang dihibahkan untuk keperluan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, santri terus berdatangan dari berbagai daerah, dan Pondok Pesantren Madinul ‘Ulum pun resmi berdiri dan terus berkembang pesat.
Perkembangan Pesantren dari Tahun ke Tahun
| Tahun | Perkembangan |
|---|---|
| 1965 | Musala pertama berdiri, dimulai kegiatan mengaji dan jamaah tarekat |
| 1968 | Mendirikan Madrasah Wajib Belajar (MWB), kemudian menjadi MI |
| 1969 | Madrasah diniyah memiliki ± 600 siswa |
| 1977 | Musala direhab menjadi bangunan permanen (10 x 7 M) |
| 1979 | Dibangun gedung madrasah dua lokal (14 x 6 M) |
| 1985 | Mulai mengajarkan kitab-kitab besar: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Ihya’ Ulumuddin, dan Al-Hikam |
| 1991 | Membangun masjid atas perintah Syekh Habib Ahmad Al-Mukhdor, selesai dalam 2 tahun dengan biaya Rp 60 juta |
| 1991 | Empat warga Campurdarat berhasil hafal Al-Qur’an berkat bimbingan pesantren |
Peran di Nahdlatul Ulama (NU)
KH. Achmad Badjuri juga aktif berorganisasi. Pada tahun 1965, beliau dipercaya menjabat sebagai Syuriah NU Campurdarat. Dalam posisi ini beliau turut mendorong lahirnya berbagai program pendidikan dan keagamaan demi mencetak kader ulama NU di masa depan.
Keteladanan KH. Achmad Badjuri
Perjalanan hidup KH. Achmad Badjuri penuh dengan ujian dan kesederhanaan. Saat nyantri di berbagai pesantren, beliau kerap kehabisan bekal dan menghadapi berbagai kesulitan ekonomi. Namun semua itu beliau hadapi dengan sabar, tekun, ikhlas, dan penuh birrul walidain (bakti kepada orang tua).
Hasilnya luar biasa — dalam waktu yang relatif singkat di setiap pesantren, beliau mampu menguasai materi pelajaran dengan baik. Keteladanan inilah yang menjadi warisan tak ternilai bagi para santri dan generasi penerus beliau.
Kesimpulan
KH. Achmad Badjuri adalah contoh nyata seorang ulama yang membangun dari nol dengan modal keikhlasan, ketaatan kepada guru, dan cinta terhadap ilmu. Dari musala bambu sederhana hingga pesantren yang melahirkan para hafiz dan kader ulama, beliau telah mengubah wajah Campurdarat menjadi daerah yang dikenal dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat.








