
Mengenal KH. Sulaiman Zuhdi Affandi, ulama besar asal Madiun yang berjasa membangun pesantren, memberdayakan ekonomi masyarakat, dan gugur sebagai syuhada dalam Peristiwa Madiun 1948.
Siapa KH. Sulaiman Zuhdi Affandi?
KH. Sulaiman Zuhdi Affandi adalah seorang ulama besar, tokoh masyarakat, dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Kebonsari, Madiun, Jawa Timur. Beliau dikenal tidak hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai sosok yang aktif membangun perekonomian dan memajukan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Beliau wafat pada bulan September 1948 bersama Bupati Magetan akibat keganasan PKI dalam peristiwa yang dikenal sebagai Madiun Affair — salah satu tragedi berdarah dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan.
Latar Belakang dan Asal-Usul
KH. Sulaiman Zuhdi Affandi lahir di Kebonsari, Madiun. Kebonsari pada masa itu merupakan salah satu pusat pendidikan agama Islam dan tempat belajar thoriqah — yaitu metode olah batin melalui dzikir kepada Allah SWT.
Sebagai bagian dari keluarga ndalem (keluarga kiai) Kebonsari, Sulaiman mendapat pendidikan agama yang kuat sejak dini. Reputasi pesantren Kebonsari dikenal luas, bahkan santri-santri yang berasal dari Magetan pun menempuh perjalanan jauh ke Madiun demi belajar di sana.
Hijrah ke Mojopurno, Magetan
Sekitar tahun 1929–1930, para santri asal Magetan yang belajar di Kebonsari memohon kepada keluarga ndalem agar mengirimkan seorang kiai ke Magetan. Pilihan pun jatuh kepada Sulaiman.
Sebelum berangkat, beliau terlebih dahulu menjalani shalat istikharah — memohon petunjuk Allah SWT. Setelah melalui perenungan yang matang, beliau memantapkan hati untuk menetap di Desa Mojopurno sebagai pusat dakwah dan kegiatan kemasyarakatannya.
Membangun Masjid di Tempat yang Angker
Langkah pertama yang dilakukan Sulaiman setibanya di Mojopurno adalah membangun masjid. Ini bukan perkara mudah, karena:
- Mojopurno kala itu dikenal sebagai tempat maksiat
- Banyak pemabuk, penjudi, dan perampok yang berkeliaran
- Masyarakat masih banyak yang mengunjungi punden (tempat keramat)
- Tanah yang dipilih untuk masjid dikenal sangat angker
Namun Sulaiman tidak gentar. Keberhasilannya membangun masjid dan “menaklukkan” keangkeran tempat tersebut justru mendatangkan pengakuan dari masyarakat akan kewibawaan dan kekuatan spiritualnya.
Perlahan-lahan, warga mulai berdatangan. Yang pertama hadir adalah santri-santri Kebonsari asal Magetan — mereka kini tak perlu lagi jauh-jauh pergi ke Madiun untuk belajar agama.
Strategi Dakwah yang Cerdas dan Kreatif
Menggunakan Reog sebagai Media Dakwah
Sulaiman sempat menghadapi tantangan: bagaimana cara mengumpulkan masyarakat yang belum terbiasa datang ke masjid?
Jawabannya datang ketika beliau melihat betapa antusiasnya warga Mojopurno berbondong-bondong menonton pertunjukan reog dari Ponorogo di desa tetangga. Dari situ, muncullah ide brilian: gunakan reog sebagai daya tarik untuk mengumpulkan masyarakat, lalu sisipkan pesan dakwah di dalamnya.
Sekitar tahun 1933, Sulaiman mulai mengundang rombongan Reog Ponorogo untuk tampil dalam rangka peringatan hari-hari besar Islam, seperti:
- Isra’ Mi’raj
- Maulid Nabi Muhammad SAW
- Tahun Baru Hijriah (1 Muharram)
Peringatan ini digelar selama tiga hari penuh dan tidak hanya menampilkan reog, tetapi juga tonel — sebuah pertunjukan sandiwara yang terinspirasi dari Sukarno, berisi pesan-pesan tentang pentingnya harga diri bangsa dan semangat melawan penjajahan.
Karena kandungan pesan politiknya yang kuat, setiap kali acara digelar, pihak penjajah Belanda selalu hadir untuk mengawasi dan memata-matai Sulaiman.
Menjamu Masyarakat dengan Sepenuh Hati
Sulaiman tidak hanya menghibur, beliau juga menyediakan konsumsi gratis bagi semua yang hadir. Saat itu piring beling (keramik) adalah barang mewah dan langka, sehingga tidak jarang tamu membawa pulang piring-piring tersebut seusai acara.
Ketika sang istri mengeluh soal hilangnya piring-piring itu, Sulaiman hanya tersenyum dan menjawab dengan tenang:
“Nanti kalau mereka sudah mampu membeli sendiri, mereka tidak akan membawa pulang piring-piring itu lagi.”
Kalimat sederhana itu mencerminkan visi jangka panjang beliau: membangun kemandirian ekonomi masyarakat, bukan sekadar memberi.
Dan benar saja — sekitar tahun 1937, warga Mojopurno sudah menunjukkan kemajuan. Pada peringatan hari besar Islam berikutnya, masyarakat sudah datang membawa julen dari desa masing-masing: miniatur masjid atau mushalla yang berisi aneka makanan dan buah-buahan, dipikul bersama-sama menuju kediaman Sulaiman.
Pondok Pesantren Mojopurno: Lebih dari Sekadar Tempat Belajar Agama
Kediaman KH. Sulaiman Zuhdi Affandi di Mojopurno berkembang menjadi Pondok Pesantren Mojopurno-Magetan. Pesantren ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama Islam, tetapi juga menjadi:
- Pusat kegiatan ekonomi masyarakat
- Tempat pelatihan keterampilan
- Pusat pemberdayaan sosial
Inovasi Ekonomi dan Teknologi
Salah satu hal yang membedakan KH. Sulaiman Zuhdi Affandi dari ulama-ulama lain pada masanya adalah kepeduliannya yang tinggi terhadap kesejahteraan ekonomi umat. Bersama para murid dan warga sekitar, beliau mendirikan dan mengembangkan berbagai usaha, antara lain:
- Pabrik rokok — menciptakan lapangan kerja bagi warga
- Industri kain tenun (tekstil) — melatih masyarakat berproduksi
- Penyamakan kulit hewan (sapi dan kambing) — memanfaatkan sumber daya lokal
- Pembangkit listrik tenaga air — inovasi teknologi yang luar biasa untuk zamannya
Pembangkit listrik buatannya mampu mengalirkan daya sejauh satu kilometer. Hasilnya, warga Desa Mojopurno menjadi satu-satunya komunitas di Magetan yang sudah menikmati lampu listrik, sementara daerah-daerah lain masih mengandalkan lampu teplok.
Pejuang Kemerdekaan dan Penasehat Bupati
KH. Sulaiman Zuhdi Affandi juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang gigih. Beliau bergabung dalam barisan Tentara Hizbullah dan menjadi salah satu komandan yang berpengaruh di kesatuannya yang berkedudukan di Mojokerto.
Di tengah masyarakat Magetan, beliau dijuluki “gusti lider” — sosok yang disegani dan ditakuti oleh para perampok dan penjahat. Ketika keamanan warga terancam, nama Sulaiman-lah yang pertama disebut untuk mengusir para penjahat tersebut.
Pada masa kemerdekaan, beliau diangkat sebagai Penasehat Bupati Magetan, M. Ng. Sudibjo — bukti nyata bahwa kontribusinya diakui hingga tingkat pemerintahan.
Wafat sebagai Syuhada dalam Peristiwa Madiun 1948
Pada bulan September 1948, KH. Sulaiman Zuhdi Affandi gugur bersama Bupati Magetan akibat kebrutalan PKI dalam peristiwa yang dikenal sebagai Madiun Affair atau Pemberontakan PKI Madiun 1948.
Peristiwa ini merupakan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia pasca proklamasi, di mana banyak ulama, tokoh agama, dan pejabat pemerintah menjadi korban. Kematian beliau meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Mojopurno, Magetan, dan seluruh umat Islam yang pernah merasakan pengayoman dan jasanya.
Warisan KH. Sulaiman Zuhdi Affandi
Perjalanan hidup KH. Sulaiman Zuhdi Affandi mengajarkan kita beberapa nilai penting:
- Dakwah bil hikmah — menyebarkan Islam dengan cara yang bijak, kreatif, dan sesuai kondisi masyarakat
- Kemandirian ekonomi umat — Islam tidak hanya mengurus akhirat, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan dunia
- Keberanian dan keteguhan — membangun di atas tanah yang dianggap angker, tidak gentar diawasi penjajah
- Kepemimpinan yang melayani — dari membangun masjid, mendirikan industri, hingga menjaga keamanan warga
- Pengorbanan tertinggi — gugur sebagai syuhada demi mempertahankan nilai-nilai kebenaran








