
Siapa Nyai R. Hindun?
Nyai R. Hindun adalah salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam perkembangan organisasi perempuan NU yang kini dikenal sebagai Muslimat NU. Ia tercatat sebagai ketua pertama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) — cikal bakal Muslimat NU — yang berkedudukan di Surabaya.
Sayangnya, catatan sejarah tentang sosok beliau sangat terbatas. Tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya hingga kini belum dapat dipastikan secara akurat.
Latar Belakang dan Asal-Usul
Nyai R. Hindun diperkirakan berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Gelar Raden yang melekat pada namanya mengisyaratkan bahwa ia berasal dari keluarga bangsawan (ningrat). Ia juga disebutkan sebagai perempuan yang melek tulis-menulis — sebuah kemampuan yang pada era itu tergolong langka, dan menjadikannya sosok yang layak dipercaya untuk mengemban tanggung jawab organisasi.
Peran Nyai R. Hindun di Nahdlatul Ulama
Penunjukan sebagai Ketua NOM (1940)
Banyak orang mengenal Nyai Chodijah sebagai Ketua Muslimat NU pertama (1946). Namun sebenarnya, Nyai R. Hindun telah lebih dulu memimpin NOM sejak tahun 1940, ketika organisasi perempuan NU ini belum sepenuhnya mapan secara formal.
Pada tahun 1940, dalam Kongres NU di Surabaya, PBNU menunjuk Nyai R. Hindun sebagai Ketua NOM. Kongres ini juga memilih kembali Mahfudz Siddiq sebagai Ketua Tanfidziyah NU.
Susunan Pengurus Besar NOM (1940)
Berikut susunan pengurus pertama NOM yang terbentuk dari Kongres NU Surabaya 1940:
| Jabatan | Nama | Asal |
|---|---|---|
| Ketua | Nyai R. Hindun | Surabaya |
| Wakil Ketua | Nyai R. Djunaisih | Bandung |
| Penulis I | Nn. Sudinem | Surabaya |
| Penulis II | Nyai Hasanah | Indramayu |
| Penulis III | Nyai Rufiah | Surabaya |
| Bendahara I | Nyai Marfuah | Cirebon |
| Bendahara II | Nyai Siti Salamah | Tegal |
| Pembantu | Siti Maryam | Surabaya |
| Pembantu | Siti Aisyah | Jombang |
| Pembantu | Siti Ipah | Bandung |
Keputusan Penting Kongres NU 1940
Dalam kongres yang sama, Nyai Hindun dan rekan-rekannya diamanahi untuk melaksanakan lima keputusan penting terkait NOM, yaitu:
- Pengesahan NOM sebagai wadah perempuan NU
- Pengesahan Anggaran Dasar NOM
- Pembentukan Pengurus Besar NOM
- Penetapan kurikulum Madrasah Banat (madrasah khusus perempuan)
- Rencana penerbitan majalah bulanan NOM
Keputusan-keputusan ini menjadi fondasi awal bagi terbentuknya organisasi perempuan NU secara resmi di kemudian hari.
Konteks Sejarah: NOM Menuju Muslimat NU
Meski NOM telah memiliki pengurus besar sejak 1940, statusnya belum diakui secara resmi sebagai lembaga organik NU. Pengakuan penuh baru datang pada Muktamar ke-16 NU di Purwokerto, Jawa Tengah (1946), yang kemudian menunjuk Nyai Chodijah sebagai ketua resmi pertama.
Bahkan setelah Muktamar ke-16 pun, NOM baru resmi menjadi badan otonom NU pada tahun 1952. Ini menunjukkan betapa panjangnya perjalanan formalisasi organisasi perempuan NU — dan Nyai R. Hindun ada di titik paling awal dari perjalanan itu.
Hari lahir Muslimat NU kini diperingati setiap 29 Maret, merujuk pada tanggal resmi berdirinya organisasi ini pada 29 Maret 1946 / 26 Rabiul Akhir 1365 H.
Mengapa Nama Nyai R. Hindun Terlupakan?
Setelah 1940, nama Nyai R. Hindun tidak lagi muncul dalam catatan kongres maupun muktamar NU berikutnya. Tidak ada keterangan resmi yang menjelaskan alasan hilangnya nama beliau dari panggung sejarah.
Beberapa kemungkinan yang bisa dipertimbangkan:
- Ia mungkin hanya berperan sebagai pelaksana teknis sementara, bukan pemimpin permanen.
- Minimnya dokumentasi sejarah pada masa itu menyebabkan banyak nama terlupakan.
- Perkembangan organisasi yang pesat pasca-1946 menggeser perhatian dari era pra-formal NOM.
Warisan Nyai R. Hindun
Meski namanya nyaris tidak dikenal publik luas, Nyai R. Hindun adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Muslimat NU. Ia dan rekan-rekannya meletakkan batu pertama bagi organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini — jauh sebelum nama Muslimat NU resmi digunakan.
Mengingat kembali perannya bukan sekadar urusan historiografi, melainkan bentuk penghargaan atas kontribusi perempuan-perempuan awal yang berjuang dalam sunyi.
Kesimpulan
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Nyai R. Hindun |
| Asal | Surabaya, Jawa Timur |
| Peran | Ketua pertama NOM (cikal bakal Muslimat NU) |
| Periode aktif | 1940 |
| Organisasi | Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) / NU |
| Status gelar | Raden (keturunan bangsawan) |








