
Di balik gemuruh Perang Aceh yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade, ada satu nama yang bahkan membuat penjajah Belanda merasa paling khawatir. Bukan seorang panglima perang biasa — melainkan seorang ulama keturunan Arab yang berhasil menyatukan rakyat, mendamaikan para pemimpin yang berseteru, dan membangun kekuatan militer untuk mengusir penjajah. Dialah Habib Abdurrahman Az-Zahir.
Latar Belakang: Aceh di Tengah Kobaran Perang
Menjelang akhir abad ke-19, tekanan kolonialisme Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan semakin brutal — terutama terhadap pejuang-pejuang berlatar belakang Islam. Namun tekanan itu tidak pernah berhasil memadamkan semangat perlawanan.
Di antara semua perang yang meletus di Nusantara untuk mengusir penjajah, Perang Aceh tercatat sebagai peperangan yang paling lama dan paling dahsyat. Berlangsung dari tahun 1873 hingga 1903 — tidak kurang dari 30 tahun — tanah rencong ini menjadi arena pertempuran yang terus-menerus menelan korban di kedua belah pihak.
Nama-nama besar seperti Teuku Umar, Panglima Polim, dan Cut Nyak Dien sudah sangat dikenal dalam sejarah Perang Aceh. Namun seperti yang diungkapkan oleh Mr. Hamid Algadri dalam bukunya “Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda”, ada fakta yang kurang diketahui masyarakat luas: bahwa dalam perang tersebut juga terlibat sejumlah tokoh keturunan Arab, bahkan beberapa di antaranya menjadi pemimpin utama dalam perlawanan tersebut.
Siapa Habib Abdurrahman Az-Zahir?
Habib Abdurrahman Az-Zahir — yang juga dikenal dengan panggilan Habib Itam atau Abdurrahman Teupian Wan — lahir di Teupin Wan, sebuah desa di Aceh dekat Lamjong. Nama “Az-Zahir” merupakan cabang dari marga Shahab, salah satu marga Arab Hadrami yang memiliki tradisi panjang dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Orientalis Belanda Snouck Hurgronje — yang dikenal sebagai salah satu pengamat paling tajam terhadap dunia Islam di Hindia Belanda — secara tegas menyebut Habib Abdurrahman Az-Zahir sebagai tokoh yang paling mengkhawatirkan bagi pihak kolonial Belanda di antara semua pemimpin yang terlibat dalam Perang Aceh.
Bukan tanpa alasan. Habib Abdurrahman diakui oleh masyarakat luas sebagai pemimpin tertinggi rakyat Aceh dalam perlawanan tersebut. Di bawah kepemimpinannya, sejumlah tokoh penting Aceh berjuang bersama, di antaranya:
- Engku Id
- Tengku Abas
- Tjot Rang
- Imeum Saidi dari Lambaro
- Tengku Soepi, putra dari Tengku di Langget yang masyhur
Bukan Sekadar Pemimpin Bayangan
Ada pendapat yang meremehkan peran Habib Abdurrahman dengan menyebutnya hanya sebagai “pemimpin bayangan” dalam Perang Sabil. Namun Snouck Hurgronje dengan tegas membantah pendapat ini, berdasarkan fakta-fakta nyata di lapangan dan kesaksian para jenderal Belanda sendiri yang menghadapi Habib secara langsung.
Penulis Australia Anthony Reid juga mendokumentasikan peran penting Habib Abdurrahman Az-Zahir. Ketika sang Habib muncul sekitar tahun 1870, kondisi Kesultanan Aceh sedang sangat lemah. Rasa saling curiga di antara para hulubalang (pemimpin lokal) telah membatasi kemampuan sultan untuk memerintah secara efektif.
Di tengah krisis inilah Habib Abdurrahman Az-Zahir hadir sebagai pemimpin agama yang karismatik. Dengan menonjolkan nilai-nilai keislaman dan kewajiban berjihad melawan penjajah, beliau berhasil melakukan hal-hal luar biasa yang tidak mampu dilakukan oleh siapapun sebelumnya:
- Menghimpun dana besar dari rakyat untuk keperluan diplomasi dan perang
- Mendamaikan para hulubalang dan sultan yang telah berseteru selama puluhan tahun
- Membangun kekuatan militer sendiri yang terorganisir untuk mengobarkan perlawanan terhadap Belanda
Kemampuan Habib untuk menyatukan yang terpecah dan menggerakkan yang lemah inilah yang menjadikannya sosok yang begitu disegani kawan dan ditakuti lawan.
Penutup
Habib Abdurrahman Az-Zahir adalah bukti nyata bahwa ulama dan pejuang bukanlah dua peran yang saling bertentangan. Dengan modal kedalaman ilmu agama dan kekuatan kepemimpinan, beliau berhasil menjadi perekat bangsa dan garda terdepan perlawanan terhadap penjajah. Namanya mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh Perang Aceh lainnya, namun kontribusinya diakui bahkan oleh musuh-musuhnya sendiri.
Semoga Allah merahmati Habib Abdurrahman Az-Zahir dan seluruh syuhada Perang Aceh, mengampuni mereka, dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.








