
Siapa Imam Abu Hasan al-Asy’ari?
Imam Abu Hasan al-Asy’ari adalah salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam — sosok yang dikenal sebagai pendiri dan pemimpin akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Pemikiran beliau menjadi fondasi akidah Islam yang dianut oleh ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia hingga hari ini, termasuk di Indonesia melalui Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau bukan hanya seorang teolog — beliau adalah pemikir yang berani, yang keluar dari paham Mu’tazilah di usia 40 tahun dan membangun sistem akidah baru yang memadukan akal dan wahyu secara seimbang.
Kelahiran dan Nasab
Imam Abu Hasan al-Asy’ari lahir pada tahun 260 H / 873 M di Yaman. Nama lengkap beliau adalah:
Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari.
Beliau adalah putra dari Syekh Ismail dan berasal dari suku Asy’ar — suku yang dinisbatkan kepada seseorang bernama Asy’ar dari kabilah Qahthan yang menetap di Yaman. Dari suku inilah lahir seorang sahabat Nabi yang sangat terkenal: Abu Musa al-Asy’ari (lahir 22 tahun sebelum Hijriah, wafat 44 H / 665 M) — seorang fuqaha terkemuka di kalangan sahabat Rasulullah SAW.
Para ulama hadis seperti al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi mencatat bahwa kecintaan penduduk Yaman terhadap ilmu akidah — hingga bertanya langsung kepada Nabi Muhammad tentang ke-Esaan Allah — telah menjadi warisan turun-temurun suku Asy’ar. Tidak heran jika dari kalangan inilah kemudian lahir seorang pemimpin akidah Ahlussunnah seperti Imam al-Asy’ari.
Pendidikan dan Guru-Gurunya
Imam al-Asy’ari tumbuh dalam asuhan al-Juba’i — seorang tokoh besar Mu’tazilah yang menikahi ibunya setelah ayah beliau wafat. Di bawah bimbingan ayah tiri inilah, al-Asy’ari muda tumbuh menjadi seorang Mu’tazilah yang gigih dan cerdas, aktif menulis dan berdebat menggunakan argumen-argumen Mu’tazilah hingga usia 40 tahun.
Selain kepada al-Juba’i, beliau juga belajar kepada Abu Ishaq al-Marwazi.
Kecerdasan beliau dalam berdebat sudah sangat diakui sejak muda. Beliau bahkan sering dipercaya mewakili al-Juba’i dalam perdebatan melawan pihak-pihak yang menentang pandangan Mu’tazilah.
Kisah Bersejarah: Keluar dari Mu’tazilah
Mimpi yang Mengubah Segalanya
Pada suatu bulan Ramadan, Imam al-Asy’ari mengalami mimpi bertemu Rasulullah SAW sebanyak tiga kali. Dalam mimpi itu, beliau diperintahkan untuk meninggalkan ilmu kalam yang tidak pasti dan kembali berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber kebenaran yang sejati. Sejak saat itu, pikiran beliau terbuka dan keyakinannya mulai bergeser.
Debat Bersejarah dengan al-Juba’i
Perubahan batin ini kemudian mendorong Imam al-Asy’ari untuk menguji pemikiran gurunya melalui sebuah diskusi yang kini menjadi kisah terkenal dalam sejarah teologi Islam:
Imam al-Asy’ari bertanya kepada al-Juba’i:
“Seandainya ada tiga bersaudara — satu mukmin, satu kafir, dan satu meninggal saat masih kanak-kanak. Apa nasib mereka di akhirat?”
Al-Juba’i menjawab: orang pertama masuk surga, orang kedua masuk neraka, orang ketiga tidak diberi pahala dan tidak disiksa.
Imam al-Asy’ari melanjutkan: “Tapi bagaimana jika si anak kecil berkata, ‘Ya Allah, seharusnya Engkau panjangkan umurku agar aku bisa menjadi orang saleh’?”
Al-Juba’i menjawab: “Allah tahu bahwa jika ia panjang umur, ia akan menjadi kafir dan masuk neraka.”
Imam al-Asy’ari kemudian melontarkan pertanyaan pamungkas: “Lalu bagaimana jika si kafir berkata, ‘Ya Allah, mengapa Engkau tidak matikan aku sewaktu kecil, agar aku selamat dari neraka?'”
Al-Juba’i terdiam. Imam al-Asy’ari pergi dari majelis itu dengan penuh keyakinan bahwa sistem kalam Mu’tazilah tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keadilan Tuhan.
Deklarasi Terbuka di Masjid Basrah
Setelah melalui perenungan panjang, pada suatu hari Jumat, Imam al-Asy’ari keluar ke Masjid Besar Basrah dan berpidato di hadapan khalayak ramai:
“Barangsiapa yang kenal saya, pasti sudah tahu saya. Barangsiapa yang belum kenal, ketahuilah — saya telah berpendapat tentang kemakhlukan Al-Qur’an dan menolak ru’yatullah di akhirat, serta meyakini manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Kini saya bertobat dari semua itu, dan saya melawan Mu’tazilah!”
Peristiwa ini menandai lahirnya mazhab akidah baru yang kemudian dikenal sebagai Asy’ariyah — sebuah jalan tengah yang memadukan akal dan wahyu, menolak ekstremisme rasionalisme Mu’tazilah sekaligus menolak pemahaman teks secara kaku tanpa akal.
Pokok-Pokok Pemikiran Imam al-Asy’ari
1. Sifat-Sifat Allah
Imam al-Asy’ari menetapkan tujuh sifat azali (qadim) yang melekat pada Zat Allah, yaitu: Ilmu (Maha Tahu), Iradah (Maha Berkehendak), Qudrah (Maha Berkuasa), Hayat (Maha Hidup), Sama’ (Maha Mendengar), Bashar (Maha Melihat), dan Kalam (Maha Berfirman).
Sifat-sifat ini nyata dan melekat pada Zat Allah — bukan identik dengan Zat-Nya, namun juga bukan terpisah dari-Nya. Beliau menolak faham antropomorfisme (menyamakan sifat Allah dengan sifat manusia), namun tetap mengakui bahwa Allah memiliki wajah, tangan, dan mata sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an — tanpa bertanya “bagaimana” dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk (bi la kaif wa la tasybih).
2. Al-Qur’an Bukan Makhluk
Imam al-Asy’ari berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang qadim (tidak bermula) dan bukan makhluk. Jika Al-Qur’an dianggap makhluk, maka penciptaannya pun memerlukan kata “kun”, yang jika “kun” itu sendiri makhluk, maka akan memerlukan “kun” lain, dan seterusnya tanpa henti — sebuah kemustahilan logis.
3. Melihat Allah di Akhirat (Ru’yatullah)
Imam al-Asy’ari menegaskan bahwa umat Islam yang beriman akan dapat melihat Allah di akhirat — bukan secara kiasan, tetapi dengan mata kepala, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis sahih. Ini berbeda dari pandangan Mu’tazilah yang menolak ru’yatullah.
4. Kehendak dan Kekuasaan Mutlak Allah
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta — baik maupun buruk — terjadi atas kehendak dan kekuasaan mutlak Allah. Tidak ada satu pun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Allah bebas berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada satu pun yang dapat membatasi kekuasaan-Nya.
5. Konsep al-Kasb (Perbuatan Manusia)
Ini adalah konsep paling khas dari pemikiran Imam al-Asy’ari. Beliau mengajarkan bahwa perbuatan manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah, namun diperoleh (kasb) oleh manusia. Artinya, Allah-lah yang menciptakan daya dan perbuatan, sementara manusia adalah “tempat” berlangsungnya perbuatan itu.
Konsep ini menjadi jalan tengah antara:
- Jabariyah — yang berpendapat manusia sama sekali tidak punya peran
- Qadariyah/Mu’tazilah — yang berpendapat manusia sepenuhnya menciptakan perbuatannya sendiri
Dengan konsep al-kasb, manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatannya karena ada unsur “perolehan”, namun kekuasaan mutlak Allah tetap terjaga.
6. Kepemimpinan Sahabat (Khulafaur Rasyidin)
Imam al-Asy’ari berpendapat bahwa urutan kekhilafahan yang sah setelah Rasulullah SAW adalah: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Semua sahabat adalah pemimpin dan panutan dalam agama, dan wajib dihormati.
Konflik yang terjadi di antara para sahabat — seperti antara Ali, Aisyah, Zubair, maupun Muawiyah — dipahami sebagai perbedaan ijtihad, bukan permusuhan.
7. Dosa Besar dan Iman
Orang Islam yang melakukan dosa besar — seperti berzina, mencuri, atau minum khamr — tidak dianggap kafir selama ia masih mengakui keharamannya. Ia tetap disebut mukmin yang fasiq. Nasibnya di akhirat bergantung pada kehendak Allah: bisa diampuni langsung atau diazab sementara sebelum akhirnya masuk surga berkat syafaat Rasulullah SAW.
Karya-Karya Imam al-Asy’ari
Imam al-Asy’ari meninggalkan karya-karya tulis yang menjadi referensi utama dalam ilmu akidah Islam hingga hari ini:
- Kitab al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah — penjelasan pokok-pokok akidah Ahlussunnah
- Kitab Risalah fi Istihsan al-Khaudh fi Ilm al-Kalam — tentang pentingnya mempelajari ilmu kalam
- Kitab al-Luma’ — ringkasan pemikiran akidah beliau
- Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Musallin — ensiklopedia aliran-aliran dalam Islam
Penerus dan Murid-Murid Intelektual
Pemikiran Imam al-Asy’ari diteruskan oleh banyak ulama besar yang karyanya menjadi rujukan Islam hingga hari ini, di antaranya:
| Nama Ulama | Periode | Karya Terkenal |
|---|---|---|
| al-Hafizh al-Baihaqi | 384–458 H | al-Sunan al-Kubra |
| al-Hafizh Abu Nu’aim | 336–430 H | Hilyah al-Auliya’ |
| al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi | 392–463 H | Tarikh Baghdad |
| al-Hafizh Ibnu Asakir | 499–571 H | Tarikh Dimasyq |
| Imam al-Nawawi | 631–676 H | al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab |
| al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani | 793–852 H | Fath al-Bari, Bulugh al-Maram |
| Imam al-Qurthubi | w. 671 H | Tafsir al-Qurthubi |
| Imam Ibn Hajar al-Haitami | 909–974 H | al-Zawajir |
| Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari | 826–925 H | Fath al-Wahhab |
Wafat
Imam Abu Hasan al-Asy’ari wafat pada tahun 330 H / 947 M, meninggalkan warisan keilmuan yang tak ternilai yang terus hidup dan berkembang di seluruh penjuru dunia Islam.
Kesimpulan
Imam Abu Hasan al-Asy’ari adalah sosok yang berani dan visioner. Di usia 40 tahun, ia meninggalkan kenyamanan menjadi tokoh Mu’tazilah dan memilih jalan yang lebih berat — membangun sistem akidah baru yang berpijak pada Al-Qur’an, Hadis, dan akal secara seimbang. Hasilnya adalah Asy’ariyah — mazhab akidah yang hingga kini menjadi pegangan utama umat Islam Ahlussunnah Wal Jamaah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia melalui Nahdlatul Ulama.








