
Profil Ulama | Profil Mbah Busthom KH. Nur Muhammad Abdurrahim

KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim, yang lebih dikenal sebagai Mbah Busthom, dilahirkan di Lengkong, Wonoresik Wonosari, Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 1890.
Beliau adalah putra dari pasangan Pak Sandikrama bin Dulah Siroj dengan Ibu Syartiyah.
Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman Wonosari hingga masa remaja.
Pendidikan dan Perjalanan Dakwah
Sebagai anak desa pada zamannya, Mbah Busthom memulai pendidikan agamanya dengan mengaji Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab kuning seperti Kasyifatussaja, Sarah Sulamussafinah, Sulamuttaufiq, dan kitab-kitab lainnya.
Mbah Busthom kemudian hijrah dari Kebumen ke Cilacap bagian barat, tepatnya ke Desa Cisuru, Kecamatan Cipari.
Alasannya adalah kurangnya pemimpin agama di Grumbul Wonoresik yang fokus pada perdagangan daripada pendidikan Islam.
Namun, saat ini, grumbul tersebut telah berkembang dengan adanya masjid dan pondok pesantren.
Dakwah dan Pendidikan
Pada tahun 1971, setelah menjalankan ibadah haji di Makkah, KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim mendirikan Pondok Pesantren Roudlotussholihin di Purwosari, Lampung Tengah.
Pondok pesantren ini telah melahirkan ribuan kader Islam yang tersebar di berbagai provinsi di Sumatera.
Kontribusi dan Jejak Dakwah
Mbah Busthom dikenal sebagai sosok yang gigih dalam berdakwah dan mendirikan masjid-masjid serta lembaga pendidikan agama di berbagai tempat, antara lain:
- Masjid Al-Muttaqin di Way Lunik (sekarang Desa Purwosari, Kabupaten Lampung Tengah).
- Masjid Kedudapan di Gedung Reja/Sidareja, Cilacap.
- Masjid Rawa Keling di Rawa Jaya, Bantar Sari, Cilacap.
- Masjid Lands Baw di Gisting Atas, Lampung Selatan.
- Masjid Sido Mulyo di Roworejo, sekarang Pesawaran, Lampung.
- Dan berbagai masjid lainnya di Jawa dan Sumatera.
Kehidupan Pribadi dan Warisan
Selain berdakwah, KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim juga aktif dalam pertanian untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan membiayai pendidikan di pondok pesantren.
Ia juga menjual kerajinan alat musik rebana untuk menambah penghasilan.
Mbah Busthom wafat pada tanggal 3 November 1979 di Way Lunik, Lampung Tengah.
Warisannya dalam mengajarkan tasawuf melalui Thariqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah dan membangun infrastruktur dakwah di Indonesia masih terasa hingga kini.
Kesimpulan
KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim, atau yang akrab disapa Mbah Busthom, adalah figur ulama yang meninggalkan jejak yang dalam dalam sejarah dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia.
Dengan usaha kerasnya, beliau berhasil mendirikan pondok pesantren dan masjid-masjid penting yang menjadi pusat pembelajaran dan ibadah bagi umat Islam.








